Titipan Kalbu


Blog For Free!


Archives
Home
2008 February
2007 December
2007 September
2007 August
2007 July
2007 June
2007 May
2007 April
2007 March
2007 February
2007 January
2006 December
2006 November
2006 October
2006 September
2006 August
2006 July
2006 June
2006 May
2006 April
2006 March
2006 February
2006 January
2005 December
2005 November
2005 October
2005 September
2005 August
2005 July
2005 June
2005 May
2005 April
2005 March
2005 February
2005 January
2004 December
2004 November
2004 October
2004 September
2004 August

My Links
Sebentar Cuma
utusan_sakinah
Petua
Petua Tiga
Mymasjid.com
Ilmiah
SPA 8

tBlog
My Profile
Send tMail
My tFriends
My Images


Sponsored
Blog



Image hosted by Photobucket.com


Image hosted by Photobucket.com


Free Web Counter
Free Hit Counter




GETARAN KASIH SAYANG
02.15.08 (12:43 am)   [edit]

Selain cinta yang bersifat fisikal, Allah juga mengajari kita agar membina cinta yang bersifat batiniah, yaitu kasih sayang. Rahman & Rahim. Inilah cinta universal, yang lebih bertumpu pada rasa belas kasih sesama.

Kenapa ini penting, sebab cinta yang bersifat lahiriah itu lama-lama akan mengalami penurunan seiring dengan menurunnya performance fisik. Yang lelaki maupun yang perempuan sama-sama akan menjadi tua dan keriput. Bahkan kemampuan bercinta pun bakal menurun seiring dengan bertambahnya usia.

Karena itu, Allah memberikan anugerah lain berupa ! rasa kasih dan sayang, yang tidak terikat pada keindahan fisik. Melainkan lebih bersifat batiniah dan keluhuran akhlak. Inilah sifat kemanusiaan yang bersumber kepada sifat-sifat Allah. Maha Menyayangi, tanpa pilih kasih.

Tak peduli sedang kaya atau sudah miskin, tak peduli sedang sehat atau sakit, tak peduli masih tampan dan cantik ataukah sudah tua renta, sifat kasih sayang tetap melekat kepada orang-orang yang berakhlak dan berbudi pekerti baik. Orang-orang yang ketularan sifat ketuhanan. Sifat-Sifat Ilahiah...

Seiring dengan bertambahnya usia, terjadi perubahan yang berlawanan antara cinta dan kasih sayang. Cinta biasanya bakal menurun seiring dengan bertambahnya usia, akan tetapi kasih sayang bisa meningkat seiring dengan umur dan meningkatnya kebijakan seseorang.

Suatu ketika ada seorang pria berusia 60-an tahun yang mengatakan kepada saya bahwa ia dengan istrinya kini sudah seperti kakak dan adik saja layaknya. Perasaan cintanya tidak menggebu-gebu lagi seperti ketika berumur 30-an atau 40-an tahun. Akan tetapi dia merasakan ada suatu perasaan seperti ‘cinta’ yang tidak bergantung kepada penampilan fisik. Melainkan lebih kepada 'kecocokan' batin. Keinginan saling membantu dan meringankan. Keinginan untuk menyenangkan pasangannya, karena ia merasa selalu disenangkan. Itulah perasaan kasih sayang yang tulus.

Islam mengajarkan agar kita memupuk rasa kasih sayang itu. Bukan hanya sekadar cinta lahiriah, tetapi juga kasih sayang batiniah. Insya Allah rumah tangga yang dikembangkan ke arah kasih sayang akan menjadi lebih langgeng ketimbang hanya bersifat lahiriah.

Hal-hal yang bisa mendorong terciptanya atmosfer kasih sayang itu adalah ahlak yang baik sesuai dengan ajaran Rasulullah saw. Sebaliknya, yang bisa mengganggu terpupuknya kasih sayang adalah ahlak yang buruk.

Orang-orang yang suka marah, pembenci, iri, dengki, serakah, egois, dan lain sebagainya, akan cenderung sulit memupuk rasa kasih sayang. Sebaliknya orang yang jujur, adil, rendah hati, dan penyabar memiliki kans yang besar untuk menciptakan rumah tangga yang penuh rahmah alias kasih sayang.

Karena itu, Nabi Muhammad saw adalah rasul yang diutus untuk memperbaiki akhlak manusia. Di perbaikan akhlak itulah kunci keberhasilan hidup kita, dunia dan akhirat...
 
Tips Wanita yang Disunnahkan untuk Dilamar
02.15.08 (12:24 am)   [edit]

Dalam melamar, seorang muslim dianjurkan untuk memperhatikan beberapa sifat yang ada pada wanita yang akan dilamar, diantaranya:

  1. Wanita itu disunahkan seorang yang penuh cinta kasih. Maksudnya ia harus selalu menjaga kecintaan terhadap suaminya, sementara sang suami pun memiliki kecenderungan dan rasa cinta kepadanya.

    Selain itu, ia juga harus berusaha menjaga keridhaan suaminya, mengerjakan apa yang disukai suaminya, menjadikan suaminya merasa tentram hidup dengannya, senang berbincang dan berbagi kasih sayang dengannya. Dan hal itu jelas sejalan dengan firman Allah Ta'ala,

    Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya adalah Dia menciptakan untuk kalian istri-istri dari jenis kalian sendiri, supaya kalian cenderung dan merasa tentram kepadanya. Dan Dia jadikan di antara kalian rasa kasih dan saying. (ar-Ruum:21).
  2. Disunahkan pula agar wanita yang dilamar itu seorang yang banyak memberikan keturunan, karena ketenangan, kebahagiaan dan keharmonisan keluarga akan terwujud dengan lahirnya anak-anak yang menjadi harapan setiap pasangan suami-istri.

    Berkenaan dengan hal tersebut, Allah Ta'ala berfirman,
    Dan orang-orang yang berkata, 'Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami sebagai penyenang hati kami, dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa'. (al-Furqan:74).

    Dalam sebuah hadits, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,
    Menikahlah dengan wanita-wanita yang penuh cinta dan yang banyak melahirkan keturunan. Karena sesungguhnya aku merasa bangga dengan banyaknya jumlah kalian pada hari kiamat kelak. Demikian hadist yang diriwayatkan Abu Daud, Nasa'I, al-Hakim, dan ia mengatakan, Hadits tersebut sanadnya shahih.
  3. Hendaknya wanita yang akan dinikahi itu seorang yang masih gadis dan masih muda. Hal itu sebagaimana yang ditegaskan dalam kitab Shahihain dan juga kiab-kitab lainnya dari hadits Jabir, bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah bertanya kepadanya,

    Apakah kamu menikahi seorang gadis atau janda? dia menjawab,"Seorang janda."Lalu beliau bersabda, Mengapa kamu tidak menikahi seorang gadis yang kamu dapat bercumbu dengannya dan ia pun dapat mencumbuimu?.

    Karena seorang gadis akan mengantarkan pada tujian pernikahan. Selain itu seorang gadis juga akan lebih menyenangkan dan membahagiakan, lebih menarik untuk dinikmati akan berperilaku lebih menyenangkan, lebih indah dan lebih menarik untuk dipandang, lebih lembut untuk disentuh dan lebih mudah bagi suaminya untuk membentuk dan membimbing akhlaknya.

    Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam sendiri telah bersabda,

    Hendaklah kalian menikahi wanita-wanita muda, karena mereka mempunyai mulut yang lebih segar, mempunyai rahim yang lebih subur dan mempunyai cumbuan yang lebih menghangatkan.

    Demikian hadits yang diriwayatkan asy-Syirazi, dari Basyrah bin Ashim dari ayahnya, dari kakeknya. Dalam kitab Shahih al_Jami' ash_Shaghir, al-Albani mengatakan, "Hadits ini shahih."
  4. Dianjurkan untuk tidak menikahi wanita yang masih termasuk keluarga dekat, karena Imam Syafi'I pernah mengatakan, "Jika seseorang menikahi wanita dari kalangan keluarganya sendiri, maka kemungkinan besar anaknnya mempunyai daya piker yang lemah."
  5. Disunahkan bagi seorang muslim untuk menikahi wanita yang mempunyai silsilah keturunan yang jelas dan terhormat, karena hal itu akan berpengaruh pada dirinya dan juga anak keturunannnya. Berkenaan dengan hal tersebut, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

    Wanita itu dinikahi karena empat hal: karena hartanya, keturunannya, kecantikannya dan karena agamanya. Maka pilihlah wanita yang taat beragama, niscahya kamu beruntung. (HR. Bukhari, Muslim dan juga yang lainnya).
  6. Hendaknya wanita yang akan dinikahi itu taat beragama dan berakhlak mulia. Karena ketaatan menjalankan agama dan akhlaknya yang mulia akan menjadikannya pembantu bagi suaminya dalam menjalankan agamanya, sekaligus akan menjadi pendidik yang baik bagi anak-anaknya, akan dapat bergaul dengan keluarga suaminya.

    Selain itu ia juga akan senantiasa mentaati suaminya jika ia akan menyuruh, ridha dan lapang dada jika suaminya memberi, serta menyenangkan suaminya berhubungan atau melihatnnya. Wanita yang demikian adalah seperti yang difirmankan Allah Ta'ala,

    "Sebab itu, maka wanita-wanita yang shahih adalah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminyatidak berada di tempat, oleh karena Allah telah memelihara mereka". (an-Nisa:34).

    Sedangkan dalam sebuah hadits, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,
    "Dunia ini adalah kenikmatan, dan sebaik-baik kenikmatannya adalah wanita shalihah". (HR. Muslim, Nasa'I dan Ibnu Majah).
  7. Selain itu, hendaklah wanita yang akan dinikahi adalah seorang yang cantik, karena kecantikan akan menjadi dambaan setiap insan dan selalu diinginkan oleh setiap orang yang akan menikah, dan kecantikan itu pula yang akan membantu menjaga kesucian dan kehormatan. Dan hal itu telah disebutkan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dalam hadits tentang hal-hal yang disukai dari kaum wanita.

    Kecantikan itu bersifat relatif. Setiap orang mempunyai gambaran tersendiri tentang kecantikan ini sesuai dengan selera dan keinginannya. Sebagian orang ada yang melihat bahwa kecantikan itu terletak pada wanita yang pendek, sementara sebagian yang lain memandang ada pada wanita yang tinggi.

    Sedangkan sebagian lainnya memandang kecantikan terletak pada warna kulit, baik coklat, putih, kuning dan sebagainya. Sebagian lain memandang bahwa kecantikan itu terletak pada keindahan suara dan kelembutan ucapannya.

Demikianlah, yang jelas disunahkan bagi setiap orang untuk menikahi wanita yang ia anggap cantik sehingga ia tidak tertarik dan tergoda pada wanita lain, sehingga tercapailah tujuan pernikahan, yaitu kesucian dan kehormatan bagi tiap-tiap pasangan.

 

 

~~ FORWARDED EMAIL

 
SANG BUAH HATI
02.15.08 (12:17 am)   [edit]

Apakah yang menjadi tujuan perkawinan Anda? Sekadar untuk melampiaskan dorongan biologis? Untuk membahagiakan pasangan yang Anda cintai? Untuk melahirkan generasi yang kuat, sejahtera dan bahagia di belakang kita? Atau, lebih jauh dari itu.

Semua itu akan mempengaruhi jalannya biduk rumah tangga yang sedang kita arungi. ‘Tujuan’ menentukan ‘cara’. Bahkan menentukan hasil. Tujuan yang salah dan tidak baik akan berpengaruh tidak baik pula pada hasil yang kita capai. Bahkan juga pada proses yang kita jalani.
Rumah tangga yang baik dan bahagia adalah rumah tangga yang sejak awal sudah diorientasikan untuk mencapai tujuan yang baik dan bahagia. Itulah rumah tangga yang dilandasi dengan tujuan ibadah.

Dari sekian banyak tujuan ibadah itu, salah satunya adalah menghasilkan keturunan yang salih dan salihah. Anak-anak yang meneruskan misi dan visi ibadah kepada Allah semata. Itulah yang diajarkan oleh nabi Ibrahim sejak awal. Sang Nabi Kesayangan Allah yang ditugasi untuk menyampaikan agama Islam kepada manusia, hingga diteruskan oleh nabi-nabi keturunan beliau - termasuk nabi Muhammad saw.

QS. Al Baqarah (2): 124
Dan, ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat, lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman: "Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia". Ibrahim berkata: "(Dan saya mohon juga) dari keturunanku". Allah berfirman: "Janji-Ku tidak berlaku bagi orang-orang yang zalim".

Keturunan yang berkualitas adalah salah satu tujuan ibadah dalam membangun rumah tangga. Dimulai dari suami dan istri yang berkualitas, bakal menghasilkan rumah tangga yang berkualitas pula. Rumah tangga yang sakinah mawaddah wa rahmah.

Dan kemudian, hasil berikutnya, adalah keturunan yang berkualitas. Anak-anak yang salih dan salihah. Begitulah, Allah mengajarkan kepada setiap muslim agar menjaga diri dan keluarganya dari api neraka. Dan menjadikan rumah tangganya sebagai surga dunia...

QS. At Tahrim (66): 6
Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.

QS. Al Furqaan (25): 74
Dan orang-orang yang berkata: "Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati, dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.

Keluarga yang penuh ketenteraman dan kebahagia! an. Dan anak-anak yang menyejukkan hati dengan segala tingkah laku mereka yang Islami. Bukan keluarga yang penuh dengan pertengkaran dan amarah, dikarenakan perbuatan anggota keluarga yang salah. Atau anak-anak yang bermasalah.

Anak-anak yang salih dan salihah bakal tumbuh dari keluarga yang salih dan salihah juga. Jiwa mereka diukir dengan contoh-contoh konkret dalam realitas kehidupan mereka. Oleh doa-doa tulus kedua orang tuanya. Oleh nasehat-nasehat bijak yang penuh kasih sayang.

Rasulullah saw memberikan nasehat kepada umatnya agar mendidik anak dengan sebaik-baiknya. Karena seorang anak terlahir bagaikan kertas putih tanpa cela. "Orang tuanyalah yang menjadikan dia itu muslim, nasrani, yahudi atau majusi."

D i sinilah kita jadi memahami kenapa Allah mengatakan, jaga dirimu dan keluargamu dari api neraka. Jika kita tidak bisa menjaga diri kita dari api neraka, maka keluarga kita pun akan terimbas karenanya. Maka keluarga dan rumah tangga kita pun menjadi neraka dunia. Sebaliknya jika kita bisa menjaga tingkah laku sesuai dengan perintah Allah dan rasulNya, maka kita pun merasakan bahagia. Rumah tangga bagaikan surga dunia. Anak-anak, istri dan suami menjadi penyejuk hati. Menyegarkan jiwa...

Anak-anak yang salih dan salihah adalah anak-anak yang cerdas secara intelektual, dewasa secara emosional dan matang secara spiritual. Maka keluarga Muslim harus berupaya menjadikan anak-anaknya memiliki kecerdasan yang paripurna. Gizinya tercukupi. Kemampuan analitis, rasionalitas, logika, dan skill-nya harus terlatih dengan baik. Karena di sinilah bertumpu kecerdasan! intelektual sang anak.

Selain itu, sejak kecil anak-anak kita juga harus memperoleh latihan kematangan emosi. Melatih anak supaya sabar dan tidak tergesa-gesa dalam melakukan sesuatu. Mendorong anak-anak supaya bersikap rendah hati, tidak sombong dan mampu mengendalikan emosi.

Memotivasi anak agar memiliki empati dan rasa belas kasihan kepada sesama, dan lain sebagainya, yang akan menjadikan anak-anak kita memiliki kematangan emosi. Cerdas secara emosional.

Karena ternyata, banyak kasus menunjukkan kesuksesan seseorang itu sangat dipengaruhi oleh kematangan emosinya dibandingkan dengan intelektualnya. Intelektual yang ting! gi saja, tanpa dibarengi dengan kematangan emosional seringkali memunc ulkan masalah dalam kelompok beraktivitasnya.

Cerdas, tapi pemarah misalnya. Pinter, tapi tak sabaran dalam mengambil keputusan. Atau punya skill bagus, tapi tak bisa bekerjasama dengan tim. Dan lain sebagainya. Maka, sejak kecil seorang anak mesti dilatih untuk memiliki kematangan emosi yang bagus.

Dan lebih dari semua itu, kematangan spiritual memegang peranan kunci dalam keberhasilan seseorang. Orang pintar, emosinya terkendali, sekaligus penuh keikhlasan dan kesabaran dalam bekerja, bakal mencapai suatu hasil yang sempurna.

Apalagi kalau semua itu diorientasikan untuk kemaslahatan orang banyak - atas nama Allah yang Rahman dan Rahim - maka hasilnya akan semakin sempurna. Itulah yang di agama kita disebut sebagai rahmatan lil ‘alamiin – menjadi rahmat bagi seluruh alam. Inilah tujuan puncak beragama.


QS. Al Anbiyaa' (21): 107
Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.

Maka, sebuah rumah tangga muslim harus menghasilkan keturunan yang berkualitas untuk tujuan yang sangat mulia : bermanfaat buat dirinya, buat keluarganya, buat orang-orang di sekitarnya, dan buat seluruh makhluk yang berinteraksi dengannya.

Allah menciptakan manusia untuk membentuk tatanan kehidupan universal yang penuh kedamaian dan kebahagiaan. Sebab, sejak awal, manusia memang diciptakan sebagai manajer Bumi. Khalifah di muka Bumi.

Dan kita sebagai orang tua diberi amanah untuk menciptakan pemimpin-pemimpin yang berkualitas secara paripurna bagi kemaslahatan kehidupan di planet Bumi. Karena itu Allah sangat memuliakan orang tua. Mereka adalah wakil Allah di muka Bumi, dalam konteks ikut ‘menciptakan’ generasi-generasi yang Islami.

QS. Al Ahqaf (46): 15
Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa: "Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguh-nya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri”.

Ayat di atas memberikan gambaran betapa mulia dan bahagianya rumah tangga muslim. Sebab, berumah tangga tidak hanya dikaitkan dengan kebutuhan biologis semata, melainkan dengan nilai-nilai kemanusiaan yang luhur. Istimewanya, dengan budaya berkeluarga secara turun temurun.
Coba cermati ayat tersebut, Allah memerintahkan manusia untuk menghormati ibu bapaknya. Karena beliau berdualah kita menjadi ada di muka bumi. Dengan segala susah payah dan pengorbanannya, mereka membesarkan kita hingga dewasa.

Jasa mereka tidak bisa kita ukur dengan apa pun. Mereka bagaikan wakil Allah yang ditugasi khusus untuk mengawal kehadiran kita sebagai khalifatu fil ardhi. Calon pemimpin di muka bumi.

Karena itu sesudah dewasa, seorang anak yang salih akan ganti mendoakan orang tuanya agar mereka disayangi Allah sebagaimana orang tuanya menyayanginya sejak kecil. Tidak ada balasan yang setimpal yang bisa kita berikan kepada orang tua kita, kecuali kasih sayang Allah yang tiada terbatas.

Bahkan, bukan hanya berhenti di situ, ayat tersebut! mengajarkan kepada kita, agar berdoa kepada Allah bagi anak keturunan kita. Anak cucu kita. Entah sampai berapa generasi ke depan, agar mereka menjadi pemimpin-pemimpin yang salih dan rahmatan lil alamin.

Karena itu Rasulullah saw mengajari agar kita mendoakan orang tua setiap selesai shalat: Allahummaghfirli waliwaalidayya warhamhumma kamaa rabbayaani shaghiira. "Ya Allah ampunilah dosa-dosa kedua orang tua kami, dan sayangilah mereka sebagaimana mereka telah mengasuhku sejak kecil,"

Islam mengajarkan keluhuran budi pekerti kepada kita semua. Dan tidak pernah melupakan jasa orang lain kepada kita. Apalagi orang tua kita yang tercinta. Sehingga dalam ayat berikut ini Allah menegaskan kepada kita agar, suatu saat nanti, ketika orang tua sudah berusia lanjut dan tidak berdaya, janganlah kita berbuat yang tidak pantas kepada mereka.

Ingatlah, bahwa merekalah yang melahirkan kita, membesarkan kita, mendidik kita, dan memberikan segala-galanya untuk kebahagiaan kita. Maka, jangan sekali-kali berkata kasar. Apalagi berbuat yang menyakitkan hati.

QS. Al Israa' (17): 23
Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali jangan-lah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.

Coba lihat, Allah melarang kita berbicara dengan nada tinggi. Apalagi membentak kepada bapak ibu kita. Bahkan berkata ‘Ah’ dengan nada yang agak keras saja dilarang oleh Allah. Ucapkan kata-kata yang mulia kepada mereka berdua.

Kenapa Allah berfirman secara khusus tentang hal ini? Karena kejadian seperti ini banyak terjadi. Begitu banyaknya anak-anak yang sudah dewasa tidak bisa membalas budi kepada orang tuanya. Maka, setidak-tidaknya berkatalah lemah lembut kepada keduanya. Mereka tidak meminta balasan berupa harta benda dan hal-hal yang bersifat material. Cukup dengan memberikan ‘perhatian’ yang baik sebagaimana mereka telah mengasuh kita selama ini.

Kekuatan fisik mereka sudah berkurang seiring dengan usia. Kemampuan intelektual mereka pun sudah jauh menurun. Banyak hal yang mereka butuh bantuan. Betapa sedihnya kalau anak-anak mereka tidak mau lagi memperhatikan kondisi mereka. Siapa lagikah yang bisa dan mau memberikan bantuan itu?

Maka Allah memberikan perintah secara tegas lewat ayat di atas, dengan penekanan "Jika mereka sudah berumur lanjut, dan dalam pemeliharaanmu...," muliakanlah mereka.

Kita harus ingat, bahwa kita yang sekarang masih muda ini pun suatu ketika akan menjadi tua. Seperti orang tua kita. Jika kita tidak berbuat baik kepada orang tua, maka nanti kita akan dibalas oleh anak-anak kita. Diperlakukan seperti saat kita memperlakukan orang tua kita.

Sebaliknya, kalau kita memperlakukan dengan baik, apalagi memuliakan mereka, maka anak-anak kita bakal mencontoh apa yang kita lakukan itu. Pada waktu kita sudah tua renta, anak-anak kita bakal ganti memperlakukan kita dengan mulia. Persis seperti contoh yang kita berikan kepadanya, saat kita memuliakan ibu bapak kita.

Tentu, bukan hanya orang tua kandung dari pihak suami saja. Atau orang tua kandung dari pihak istri saja. Melainkan kedua-duanya. Orang tua kandung dan mertua sudah menjadi orang tua kita semua. Sebab, bagi anak-anak kita, mereka itu adalah sama saja: Eyang dan Kakek-Neneknya.

Kalau kita berlaku tidak baik kepada salah satu diantaranya, maka anak-anak kita pun akan meniru memperlakukan kita seperti itu kelak.

Ah, betapa indahnya berumah tangga di dalam ajaran Islam. Kita sedang diajari Allah untuk membangun budaya dan peradaban dalam skala yang kecil.

Jika rumah tangga kita menjadi rumah tangga yang bahagia, maka ini akan menular kepada lingkaran yang lebih besar. Orang tua kita ikut bahagia. Mertua kita pun ikut bahagia. Saudara-saudara juga ikut bahagia. Bahkan kalau kualitas rumah tangga ini demikian baiknya, kebaikan itu akan menular ke siapa saja yang berdekatan dengannya. Itulah yang disebut sebagai rahmatan lil alamin, merahmati siapa saja yang ada di sekitarnya.

Rumah tangga adalah unit terkecil dari masyarakat. Jika setiap rumah tangga muslim bisa menjadi contoh rumah tangga yang sakinah, mawaddah wa rahmah, maka masyarakat yang ada di sekitarnya pun bakal menjadi masyarakat yang sakinah mawaddah wa rahmah. Masyarakat yang tenteram, penuh cinta dan kasih sayang di dalam ridha Allah yang Maha Bijak lagi Maha Penyayang...
 
Kelebihan Sujud
02.13.08 (7:07 pm)   [edit]
Subjek: KELEBIHAN SUJUD

Sujud lega sistem pernafasan. MUNGKIN ramai di kalangan umat Islam tidak sedar
mengenai pelbagai hikmah yang tersembunyi ketika sujud. Pada hal, kita perlu
sedar bahawa tiada suatu pun ciptaan dan suruhan Allah s.w.t. yang sia-sia,
malahan setiap ciptaan itu mempunyai kelebihan yang selalunya tidak terjangkau
akal manusia.

Manusia melakukan sujud dalam dua bentuk, iaitu sujud fizikal seperti ketika
bersolat dan sujud spiritual berbentuk ketaatan kepada perintah Allah s.w.t.
dan menjauhi larangannya. Ulama mengatakan sujud ketika solat adalah waktu
manusia paling hampir dengan Allah s.w.t. dan mereka menggalakkan kita bersujud
lebih lama.

Antara hikmah lain sujud adalah melegakan sistem pernafasan dan Mengembalikan
kedudukan organ ke tempat asalnya. Bernafas ketika sujud pula boleh:

- membetulkan kedudukan buah pinggang yang terkeluar sedikit dari tempat
asalnya.

- membetulkan pundi peranakan yang jatuh.

- melegakan sakit hernia. (burut)

- mengurangkan sakit senggugut ketika haid.

- melegakan paru-paru daripada ketegangan.

- mengurangkan kesakitan bagi pesakit apendiks atau limpa.

- kedudukan sujud adalah paling baik untuk berehat dan mengimbangkan lingkungan
bahagian belakang tubuh.

- meringankan bahagian pelvis.

- memberi dorongan supaya mudah tidur.

- menggerakkan otot bahu, dada, leher, perut serta punggung ketika akan sujud
dan bangun daripada sujud.

- pergerakan otot itu menjadikan ototnya lebih kuat dan elastik, secara
automatic memastikan kelicinan perjalanan darah yang baik.

- bagi wanita, pergerakan otot itu menjadikan buah dadanya lebih baik, mudah
berfungsi untuk menyusukan bayi dan terhindar daripada sakit buah dada.

- mengurangkan kegemukan.

- pergerakan bahagian otot memudahkan wanita bersalin, organ peranakan mudah
kembali ke ! tempat asal serta terhindar daripada sakit gelombang perut
(convulsions).

- organ terpenting iaitu otak manusia menerima banyak bekalan darah dan
oksigen.

- mengelakkan pendarahan otak jika tiba-tiba menerima pengepaman darah ke otak
secara kuat dan mengejut serta terhindar penyakit salur darah dan sebagainya.

Dari segi psikologi pula, sujud membuatkan kita merasa rendah diri di hadapan
Yang Maha Pencipta sekali gus mengikis sifat sombong, riak, takbur dan
sebagainya.

Dari segi perubatan, kesan sujud yang lama akan menambahkan kekuatan aliran
darah ke otak yang boleh mengelakkan pening kepala dan migrain, menyegarkan
otak serta menajamkan akal fikiran sekali gus menguatkan mentaliti seseorang.
Menurut kajian, terdapat beberapa urat saraf di dalam otak manusia yang tidak
dimasuki darah sedangkan setiap inci otak manusia memerlukan darah yang cukup
untuk berfungsi secara normal dan

sempurna.

wallahualam bissawab
 
Sakratul Maut (1): Penderitaan, Amalan dan Doanya
02.13.08 (7:05 pm)   [edit]
Sakratul Maut (1): Penderitaan, Amalan dan Doanya
Oleh: Syamsuri Rifai

Allah swt berfirman:
Sakratul maut pasti datang. Itulah yang kamu selalu lari darinya.
(Qaaf/50: 19)

Sertiap manusia pasti melewati pintu Sakratul maut sebelum ia
memasuki alam Barzakh. Sakratul adalah jalan terjal pertama yang
harus dilalui oleh setiap manusia. Pada jalan terjal ini, kebanyakan
manusia akan menghadapi banyak siksaan dan penderitaan. Antara lain:

Pertama: Rasa sakit yang maha dahsyat, yang tak ada tandingannya di
dunia, saat lisan terkunci, tak mampu mengungkapkan apa yang
dialaminya dan dideritanya, saat semua daya dan kekuatan keluar dari
jasadnya.

Kedua: Penderitaan karena tangisan keluarga, perpisahan dengan
mereka, dan rasa duka yang sangat dalam karena akan berpisah
selamanya dengan anak-anaknya.

Ketiga: kesedihan yang sangat dalam karena akan berpisah dengan
harta, rumah, dan segala yang dimilikinya. Padahal dalam
memperolehnya ia harus menghabiskan umurnya. Bahkan ia harus
melakukan banyak kezaliman dan perampasan hak orang lain, selain itu
hak-hak syariat dalam hartanya belum sempat ia keluarkan. Dalam
keadaan yang seperti itu ia harus mengakhiri hidupnya, sementara
jalan untuk melakukan perbaikan sudah tertutup. Kondisi seperti
inilah yang diungkapkan oleh Imam Ali bin Abi Thalib (sa):

"Ia mengenang hartanya dan saat mengumpulkannya, bersembunyi dalam
mendapatkan dan mengambilnya dari tempat yang terang. Ketidakjelasan
status hartanya mengharuskan kelelahan dalam mengumpulkannya. Ia
mengamati perpisahan dengan hartanya yang akan ditinggalkan pada
keturunannya yang akan menikmatinya, hartanya menjadi kesenangan
bagi orang lain dan beban atas dirinya."(Biharul Anwar 6: 163)

Keempat: Penderitaan karena ia menyaksikan dengan jelas hal-hal yang
menakutkan di alam lain, bukan di alam dunia. Saat itulah, saat
sakratul maut tiba padangan matanya sangat tajam sehingga ia mampu
melihat segala sesuatu yang belum pernah ia disaksikan sebelumnya.
Allah swt berfirman:

"Kami singkapkan darimu tirai yang menutupi matamu, sehingga
penglihatanmu pada hari itu sangat tajam." (Qaaf/50: 22).

Saat itulah ia melihat Rasulullah saw dan Ahlul baitnya (sa),
menyaksikan malaikat datang ke sisinya, malaikat pembawa rahmat dan
malaikat pembawa azab. Mereka datang
untuk menyaksikan hukum yang akan ditetapkan padanya dan ketentuan
yang harus ia terima.

Kelima: Iblis dan sahabat-sahabatnya berkumpul di dekatnya untuk
menjerumuskannya ke dalam keraguan. Mereka berusaha keras untuk
mencabut keimanannya agar ia keluar dari dunia tanpa keimanan.

Keenam: ketakutan yang luar biasa akan kehadiran malaikat maut;
dalam wujud apa dan bagaimana malaikat itu datang padanya, dan
bagaimana cara ia mencabut ruhnya.

Imam Ali bin Abi Thalib (sa) berkata:
"Saat sakratul maut tiba berhimpunlah padanya segala hal yang
menyakitkan, sehingga tak dapat disifati dengan apa yang akan
terjadi padanya." (Biharul Anwar 73: 109)

Imam Ali bin Abi Thalib (sa) mengadukan rasa sakit matanya kepada
Rasulullah saw. Ketika ia berteriak, Rasulullah saw menengoknya.
Kemudian Rasulullah saw bertanya: mengapa mengaduh, karena rasa
sakit? Imam Ali (sa) berkata: "Ya Rasulallah, tidak pernah aku
merasakan sakit yang lebih darinya. Rasulullah saw bersabda: Wahai
Ali, ketika malaikat maut datang untuk mencabut ruh orang kafir, ia
datang dengan membawa alat pemanggang dari neraka, kemudian mencabut
ruhnya, ia menjerit kesakitan seperti siksaan neraka jahannam.
Kemudian Imam Ali (sa) duduk dan berkata: Ya Rasulallah, merenungi
sabdamu melupakan aku pada rasa sakitku. Lalu Imam Ali (sa) berkata:
Apakah hal itu akan menimpa juga kepada sebagian ummatmu? Rasulullah
saw menjawab: Ya, hakim yang tidak adil, orang yang makan harta anak
yatim dengan zalim, dan saksi yang berdusta." (Biharul Anwar 6: 170)

Amalan untuk memperoleh kemudahan sakratul maut
Pertama: Silaturrahim
Imam Ja'far Ash-Shadiq (as) berkata:
"Barangsiapa yang ingin dimudahkan sakratul mautnya, maka hendaknya
ia bersilaturrahim kepada keluarganya, dan berbakti kepada kedua
orang tuanya. Jika ia melakukan hal itu, Allah akan memudahkan
sakratul mautnya, dan dalam hidupnya ia tidak ditimpa kefakiran
selamanya." (Amali Ash-Shaduq: 318)

Kedua: Berbakti kepada orang tua
Dalam suatu riwayat dikatakan: Pada suatu hari Rasulullah saw
mendatangi seorang pemuda saat menjelang kematiannya. Beliau
mengajarkan kepadanya kalimat Lailaha illallah. Tetapi pemuda itu
lisannya terkunci.

Rasulullah saw bertanya kepada seorang ibu yang ada di dekat
kepalanya: Apakah pemuda ini punya ibu?
Ia menjawab: Ya, saya ibunya.
Rasulullah saw bertanya: Apakah kamu murka kepadanya?
Ibunya menjawab: Ya, saya tidak berbicara dengannya selama 6 haji (6
tahun).
Rasulullah saw bersabda: Ridhai dia!
Ibunya menjawab: Saya ridha kepadanya karena ridhamu kepadanya.

Kemudian Rasulullah saw mengajarkan kembali kepadanya kalimat:
Lailaha illallah.
Pemuda itu sekarang dapat mengucapkan kalimat Lailaha illallah.
Rasulullah bertanya kepadanya: Apa yang kamu lihat tadi?
Pemuda menjawab: Aku melihat seorang laki-laki yang berwajah hitam,
pandangannya jahat, pakaiannya kotor, baunya busuk; ia mendekat
kepadaku, dan marah pada.

Rasulullah saw menyuruhnya mengucapkan:
Wahai Yang Menerima amal yang sedikit dan Mengampuni dosa yang
banyak, terimalah amalku yang sedikit, dan ampuni dosaku yang
banyak, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun dan Maha Penyayang.

Lalu ia mengucapkannya.
Rasulullah saw bertanya lagi: Lihatlah sekarang apa yang kamu lihat?
Pemuda menjawab: Aku melihat seorang laki-laki yang wajahnya putih
dan indah, harum baunya, bagus pakaiannya; ia mendekat padaku, dan
aku melihat orang yang berwajah hitam itu menjauh dariku.
Rasulullah saw bersabda: Perhatikan lagi, ia pun memperhatikan.
Kemudian beliau bertanya: Apa yang kamu lihat sekarang.
Pemuda menjawab: Aku tidak melihat lagi orang yang berwajah hitam
itu, yang aku melihat hanya orang yang wajahnya putih, dan cahaya
meliputi keadaan ini. (Al-Mustadrak 2:129)

Wahai saudara-saudaraku, renungi baik-baik kejadian ini, dan
perhatikan betapa banyak akibat buruk durhaka kepada orang tua.
Bukankah pemuda itu adalah salah seorang dari sahabat Nabi saw,
beliau menjenguknya, duduk di dekat kepalanya, dan beliau sendiri
yang mengajarkan kalimat tauhid kepadanya. Tapi ia tidak mampu
mengucapkannya kecuali setelah ibunya memaafkan dan meridhainya.

Ketiga: Memberi pakaian kepada orang mukmin
Imam Ja'far Ash-Shadiq (as) berkata:
"Barangsiapa yang memberi pakaian kepada saudaranya di musim dingin
atau di musim panas, maka Allah berhak memberinya pakaian dari
surga, memudahkan sakratul mautnya, dan meluaskan kuburnya."
(Biharul Anwar 74: 380.)

Keempat: Memberi makanan kepada orang mukmin
Rasulullah saw bersabda:
"Barangsiapa yang memberi makan pada saudaranya sepotong kue manis,
Allah akan menghilangkan darinya pahitnya kematian." (Biharul Anwar
66: 288)

Di antara amalan praktis dalam bentuk bacaan yang bermanfaat untuk
kemudahan dan kebahagiaan saat sakratul maut adalah membaca surat
Yasin, Ash-Shaffat 8), dan doa Farj (doa kebahagian) di dekat orang
yang sedang sakratul maut. (Al-Kafi 3: 124)

Kelima: Puasa di bulan Rajab
Imam Ja'far Ash-Shadiq (sa) berkata:
"Barangsiapa yang berpuasa satu hari di akhir bulan Rajab, ia akan
mendapat keamanan dari penderitaan sakratul maut, dan keamanan dari
segala yang menakutkan dan dari siksa kubur." (Fadhail al-asyhur al-
tsalatsah: 18)

Ketahuilah bahwa berpuasa 24 hari di bulan Rajab memiliki pahala
yang sangat besar:
"Barangsiapa yang berpuasa dua puluh empat hari di bulan Rajab, maka
saat sakratul maut malaikat maut akan datang kepadanya dengan wajah
seorang pemuda yang memakai selendang sutera berwarna hijau, menaiki
kuda dari surga; tangannya membawa sutera hijau dan misik yang
baunya sangat harum, tangan membawa gelas yang besar berisi minuman
dari surga, kemudian ia meminumkan kepadanya saat ruhnya akan keluar
darinya, sehingga ia mudah dalam sakratul mautnya. Kemudian ruhnya
di letakkan pada kain sutera itu sehingga keluarlah bau harum dan
tercium oleh penghuni tujuh langit; ketika sampai di kuburnya ia
dalam keadaan puas tidak dahaga sampai ia kembali ke telaga Nabi
saw." (Amali Ash-Shaduq: 432)

Keenam: Melakukan shalat sunnah di bulan Rajab
Rasulullah saw bersabda:
"Barangsiapa yang melakukan shalat sunnah empat rakaat pada malam
ketujuh bulan Rajab, setelah Fatihah membaca surat Al-Ikhlash (3
kali), Al-Falaq dan An-Nas, kemudian setelah salam membaca shalawat
(10 kali), dan Subhanallah walhamdulillah wa lailaha illallah
wallahu akbar (10 kali), maka Allah akan menaunginya dengan naungan
arasy-Nya, memberinya pahala seperti pahala orang yang berpuasa di
bulan Ramadhan, para malaikat memohonkan ampunan baginya sampai ia
selesai melakukan shalat itu, Allah memudahkan baginya pencabutan
ruhnya, menyelamatkannya dari siksa kubur, ia tidak akan
meninggalkan dunia kecuali ia melihat tempatnya di surga, dan Allah
memberi keamanan baginya dari pada hari kiamat." (Iqbalul a`mal: 651-
652)

Ketujuh: Membaca surat Al-Zalzalah
Imam Ja'far Ash-Shadiq (sa) berkata: "Janganlah kamu bosan membaca
surat Al-Zalzalah, karena orang yang membacanya dalam shalat-shalat
sunnah nafilahnya Allah tidak akan menimpakan goncangan kepadanya
selamanya, dan ia tidak akan meninggal dalam keadaan ketakutan,
tidak disambar petir, dan tidak akan ditimpa penyakit-penyakit dunia
hingga ia meninggali. Dan ketika menjelang kematiannya malaikat yang
mulia akan datang kepadanya dari sisi Tuhannya dan duduk di dekat
kepalanya, seraya Tuhannya berfirman: Wahai malaikat maut, lembutkan
sikapmu terhadap kekasih Allah, karena ia banyak berzikir kepada-
Ku." (Biharul Anwar 82: 64)

Doa Untuk Memperoleh kemudahan Sakratul maut
Rasulullah saw bersabda:
"Barangsiapa yang membaca doa berikut (10 kali) setiap hari, Allah
swt akan mengampuni baginya empat puluh ribu dosa besar, menjaganya
dari keburukan kematian, siksa kubur, hari kiamat dan hari hisab,
dan segala hal yang menakutkan; yakni Allah memudahkan seratus hal
yang menakutkan saat kematian, Allah menjaganya dari kejahatan iblis
dan pasukannya, menunaikan hutangnya, menghilangkan dukanya, dan
membahagiakan deritanya. Yaitu:
Aku persiapkan untuk
Setiap yang menakutkan Laiha illallah,
Setiap duka dan derita masya Allah,
Setiap nikmat Alhamdulillah,
Setiap kebahagiaan Asy-Syukru lillah,
Setiap yang menakjubkan Subhanallah,
Setiap dosa Astaghfirullah,
Setiap musibah Innalillahi wa inna ilayhi raji'un,
Setiap kesulitan Hasbiyallah,
Setiap ketetapan dan takdir Tawakkaltu `alallah,
Setiap musuh A'shamtu billah,
Setiap ketaatan dan kemaksiatan La hawala wala quwwata illa billahil
aliyyil `azhim.
(Biharul Anwar 87: 5)

Juga perlu diketahui bahwa doa berikut ini memiliki keutamaan yang
besar jika dibaca 70 kali. Di antara keutamaannya adalah memberikan
kebahagiaan saat sakratul maut:

Wahai Yang Maha Mendengar dari semua yang mendengar, wahai Yang Maha
Melihat dari semua yang melihat, wahai Yang Maha Cepat perhitungan-
Nya dari semua yang menghitung, wahai Yang Maha Menghakimi dari
semua yang menghakimi. 14)

Tulisan ini disarikan dari kitab "Manazilul Akhirah" karya Syeikh
Abbas Al-Qumi penulis kitab Mafatihul Jinan, kunci-kunci surga.

Tek arab dan bacaan tek latin doa2 tersebut dapat dikopi dari
milis "Keluarga bahagia" atau milis "shalat doa" berikut ini.
 
Waktu haram ialah:
02.12.08 (12:33 am)   [edit]

 
1. Waktu syuruk iaitu 28mins selepas subuh ketika matahari baru naik ke langit. Contohnya ;   iaitu waktu subuh dari pukul 5.35pagi sehingga 7.05pagi. 7.05pagi + 28mins = 7.33pagi therefore from 7.05pagi to 7.33am ialah waktu syuruk. Waktu ini adalah haram untuk melakukan sebarang solat kerana tanduk syaitan berada di antara matahari. Rasulullah saw mengharamkan solat waktu ini juga kerana ia menyamai orang yang menyembah matahari. Jika kita terbangun dari tidur pada pukul 7.00pg dan ingin mengqadakan sembahyang subuh, kita harus melepasi waktu syuruk.


2. Waktu zawal/Istiwa/rembah iaitu matahari berada tegak diatas kepala iaitu apabila kita berdiri tidak kelihatan bayangan kecuali dibawah kaki kita. Waktu inilah api neraka sedang bergeledak dan syaitan berkeliaran. Waktu ini panjangnya dalam 5-10mins sebelum waktu zohor. Waktu fadilat/afdal untuk solat ialah sepertiga waktu selepas azan iaitu 20 mins selepas  azan. Pahala yang besar diberikan pada orang-orang yang menghormati dan tidak melengahkan waktu solat. Kecuali Isyak, afdalnya ialah sepertiga malam iaitu sesudah azan hingga 10.30mlm.    & nbsp; 

 
Panduan Lengkap Sembahyang
02.12.08 (12:19 am)   [edit]
Berwudhu
Berwudhu
  • Yang praktis dan mencukupi
  • Yang sebaik-baiknya
  • Hikmah-hikmahnya

Cara atau jalan untuk membina mental dan rohani sungguh banyak sekali. Jalan yang pasti ialah mendekatkan diri kepada Allah SWT dan mengekalkannya yang disebut sebagai ibadah. Salah satu mata rantai ibadah itu adalah Wudhu'.

Kegunaan Air Wudhu

  • Untuk segala macam solat hukumnya wajib.
  • Untuk Thawaf di Ka'bah, thawaf apa saja, hukumnya wajib.
  • Sewaktu hendak membaca Al-Qur'an hukumnya sunnat
  • Sewaktu hendak tidur atau lain-lain perbuatan yang baik, hukumnya sunnat

Alat Yang Dipakai

Alat yang dipakai ialah air. Meskipun demikian, air yang digunakan untuk berwudhu' adalah air yang suci lagi menyucikan (pengertiannya?), iaitu: Air hujan, Air Sumur, Air Sungai, Air Laut, Air dari mata Air, Air Telaga, Air Danau, Air Ais, Air Ledeng.

Cara-caranya

Berniat dalam hati bahawa berwudhu' untuk..., lalu:

  • Membasuh muka dengan air (cukup sekali asalkan merata ke seluruh muka)
  • Basuhlan tangan hingga sampai dengan kedua siku (cukup sekali asal merata).
  • Sapulah sebahagian kepala, cukup sekali saja
  • Basuhlan kaki hingga sampai dengan kedua mata kaki (cukup sekali asal merata).

Bila dikerjakan seperti di atas, maka wudhu' sudah sah.

Berwudhu' yang lebih sempurna

Bila ingin berwudhu' lebih sempurna, yakni sempurna lahiriah dan sempurna pula dalam ganjaran, maka kerjakanlah tabahan-tambahannya dengan cara sebagai berikut:

1. Mulailah dengan mengucapkan Bismillaahir rahmaanir rahiim...

2. Menghadaplah kearah kiblat

3. Usahakanlah berwudhu' dengan tidak meminta bantuan orang lain, seperti menimba, dan sebagainya.

4. Basuhlah jari-jari tangan dengan menyelat-nyelatinya. Dan bagi jari yang bercincin, jam atau perhiasan yang dipakai di jari-jari lainnya, bukalah perhiasan tersebut agar air dapat merata membasahi seluruh jari-jari.

5. Berkumur-kumur.

6. Masukkanlah air ke dalam hidung, lalu keluarkanlah kembali (istinsyaq).

7. Gosoklah gigi untuk menghilangkan sisa makanan dan bau mulut yang kurang sedap.

8. Mulailah dengan anggota wudhu'yang sebelah kanan.

9. Ulangilah masing-masing sampai tiga kali (3X).

10. Ratakanlah air hingga membasahi seluruh anggota wudhu'

11. Ketika menyapu kepala, ratakan seluruhnya (letakkan ibu jari samping kiri dan kanan kepala, lalu putarlah telapak tangan dari depan ke belakang, kemudian kembali ke depan (cukup sekali).

12. Basuhlah telinga dengan memasukkan telunjuk ke lubang telinga, ibu jari dibelakang telinga.

13. Bila selesai berwudhu', hadapkan muka ke arah kiblat dan berdoalah dengan membaca:

Asyhadu an laa ilaaha illalaahu wa asyhadu anna Muhammadan 'abduhu wa Rasuuluh, Allahummaj'alnii minat tawwaa biinaa waj'alnii minal mutathahhiriin.

Aku bersaksi bahwa Tidak ada Tuhan selain Allah, dan aku bersaksi bahwa sesungguhnya Muhammad itu adalah hamba-Nya dan rasul-Nya. Ya allah , masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang bertaubat, dan jadikanlah aku masuk ke dalam golongan orang-orang yang suci.

14. Lakukanlah solat sunnat wudhu' dua raka'at.

Hal-hal yang Membatalkan Wudhu'

1. Keluar sesuatu dari "dua pintu" belakang seperti buang angin (kentut), buang air besar atau kecil, haid atau nifas, dan sebaganya.

2. Hilang akal (kerana sakit, mabuk, gila dan sebagainya) .

3. Bersetubuh.

Tayammum

"Manakala seorang muslim atau mukmin itu berwudhu, lalu ia membasuh mukanya, maka keluarlah dari mukanya itu semua dosa yang dilihat oleh matanya bersama air atau bersama titisan yang terakhir dari air. Manakala ia membasuh kedua tangannya, maka keluarlah (terusir) semua dosa yang tersentuh oleh kedua tangannya bersama air atau bersama-sama dengan titisan terakhir dari air. Manakala ia membasuh kedua kakinya, maka sirnalah semua dosa yang pernah dijalani oleh kakinya bersama air atau bersama titisan air yang terakhir, sehingga keluar (selesailah) dalam keadaan bersih dari dosa-dosa." (Hr Imam Muslim dari Abu Hurairah).

Air Wudhu

Wudhu merupakan salah satu ibadah yang khas yang dapat dipakai untuk solat, thawaf, hendak tidur, jalan keluar rumah, serta memelihara jiwa dan raga dari berbagai cacat.

Wudhu dengan air bersih dan murni bererti meniti kosmetik tradisional dan anti biotik alamiah, kerana itu, Islam tidak membenarkan berwudhu dengan air musta'mal (air bekas dipakai), air buah-buahan, akar-akaran atau air yang sudah berubah sifat-sifatnya (warna, rasa dan baunya). Seperti telah dijelaskan sebelumnya, bahawa wudhu ialah membasuh muka, membasuh kedua tangan hingga dua siku, menyapu kepala, dan membasuh kaki hingga dua mata kaki yang diawali dengan niat dalam hati.

Almarhum Buya Hamka, melalui bukunya "Lembaga Hidup" menulis tentang wudhu sbb:

"Lima kali sekurang-kurangnya sehari semalam disuruh berwudhu dan solat. Dan meskipun wudhu belum lepas, sunnat pula memperbaharuinya. Oleh ahli tasawuf diterangkan pula hikmah wudhu itu. Mencuci muka, ertinya mencuci mata, hidung, mulut dan lidah, kalau-kalau tadinya berbuat dosa ketika melihat, berkata dan makan. Mencuci tangan dengan air, dalam hati dirasa seakan-akan membasuh tangan yang terlanjur berbuat salah. Membasuh kaki, dan lain-lain demikian pula. Mereka perbuat hikmat-hikmat itu, meskipun di dalam hadis dan dalil tidak bertemu, adalah supaya manusia jangan membersihkan lahirnya saja, padahal bathinnya masih tetap kotor. Hatinya masih khizit, loba, tamak, rakus, sehingga wudhunya lima kali sehari itu tidak berbekas diterima Allah, dan sembahyangnya tidak menjauhkan dari pada fahsya (keji) dan mungkar (dibenci)".

Penulis "Lembaga Hidup" sengaja merangkaikan keutamaan wudhu dengan masalah kesehatan badan dan kebersihannya, lalu dihubungkan dengan sabda Nabi Muhammad s.a.w Tulisnya:

"Bukan kita hidup mencari puji, bukan pula supaya kita paling atas di dalam segala hal. Meskipun itu tidak kita cari, kalau kita menjaga kebersihan, kita akan dihormati orang juga". Sebagaimana sabda Rasulullah s.a.w: "Perbaguslah pakaianmu, perbaiki tunggangan (kenderaan) mu, sehingga kamu laksana sebutir tahi lalat di tengah-tengah pipi, di dalam pergaulan dengan orang banyak".

Allah s.w.t. menurunkan wahyu, memberi hidayah penuntun rohani dan jasmani agar keduanya tetap berfungsi dan terpelihara.

Rasulullah s.a.w bersabda:

"Sesungguhnya Rasulullah s.a.w. pernah pergi ke kuburan, lalu memberi salam : "Assalamu'alaikum Dara Qaumin (perkampungan orang mukmin) dan Insya Allah kami akan menyusul kemudian, saya ingin benar melihat-lihat saudaraku." Berkata sahabat: "Bukankah kami ini adalah saudaramu ya Rasulullah? "Ya, kamu adalah sahabatku, dan saudara-saudaraku yang belum datang kini." Sahabat kembali bertanya: "Bagaimanakah engkau dapat mengenal mereka yang belum datang kini dari ummatmu ya Rasulullah?" Rasulullah s.a.w. bersabda: "Bagaimana pendapatmu jika seorang mempunyai kuda belang putih muka dan kakinya, ditengah-tengah kuda yang semuanya hitam, tidakkah mudah mengenal kudanya?" Para sahabat menjawab : "Benar Ya Rasulullah." "Maka itu ummatku nanti kelak pada hari kiamat bercahaya muka dan kakinya sebagai bekas wudhu, dan saya akan membimbing mereka itu ke Haudh (Telaga Syafa'at)"

Cahaya, Kebersihan dan Kehidupan

Dalam air wudhu yang sakral terdapat cahaya, kebersihan dan kehidupan. Air bekas (mus'tamal) atau tersadur najis, akan menjadi sumber penyakit, buruk bagi fisik, kimia, maupun biologis. Islam pun melarang berwudhu dengan air yang demikian. Air sebagai keperluan vital kehidupan. Al-Qur'an memberi penjelasan bahawa kehidupan dimulai dari air, seperti disebutkan dalam firmannya:

"Dan kami telah menciptakan segala sesuatu yang hidup itu dari air, apakah mereka belum mau juga beriman?" (Al-Anbiya:30).

Hal-hal Yang Tidak Membatalkan Wudhu

Banyak sekali perbuatan yang dikira orang membatalkan wudhu, padahal tidak. Misalnya, seorang pekerja yang berpalitan dengan oli dan minyak, mengira air wudhunya sudah rosak dan wudhunya batal, padahal tidak; sementara yang dianggap remeh ternyata justru membatalkan wudhunya. Beberapa hal yang tidak membatalkan wudhu antara lain:

1. Bersentuhan antara pria dan wanita, sudah dewasa, tanpa lapis, selama tidak mengandung niat yang nafsu dan tak senonoh. Dalam suatu hadis disebutkan:

"Aisyah r.a. berkata: Suatu malam aku kehilangan Rasulullah s.a.w. dari tempat tidurku, maka terabalah oleh telapak tanganku pada kedua telapak kakinya yang keduanya dalam keadaan berdiri; dan Rasulullah s.a.w. sedang sujud sambil membaca: Allaahumma innii a'udzu biridhaaka, min sakhatika, wa a'uudzu bimu' aafaatika min uquubatika, wa a'uudzu bika minka laa uhshiitsanaa'an 'alaika anta kamaa atsnayta 'alaa nafsika." (HR Muslim dan At Turmuzy).

Yang erti doanya: "Ya Allah, aku berlindung dengan ridhaMu dari murkaMu, berlindung dibawah naunganMu; ringkasnya aku berlindung kepadaMu daripadaMu. Tiada terhitung puja-pujiku untukMu. Engkau sebagaimana pujianMu atas diriMu sendiri."

"Aku tidur dihadapan Rasulullah s.a.w., sedang kakiku berada di arah kiblat. Maka apabila Ia sujud, dirabanya aku dan dipegangnya kakiku". Sementara dalam lafazh yang lain disebutkan :"Maka jika ia akan sujud, kakiku, dirabanya". (HR Bukhary dan Muslim, sumber Aisyah)

2. Keluar darah dari tempat yang lazim, seperti luka, bukan dari qubul atau dubur.

3. Kerana muntah

4. Kerana makan minum. Seperti disebutkan dalam hadits nabi:

"Manimunah r.a. berkata: "Rasulullah s.a.w. telah makan di rumahnya dengan panggangan kambing, kemudian Rasulullah s.a.w. langsung solat tanpa memperbaharui wudhu." (HR Bukhary dan Muslim).

5. Terkena segala jenis najis atau kotoran lainnya. Najis tidak menghilangkan wudhu', hanya dia cukup dibersihkan saja.

6. Tersentuh kemaluan tanpa maksud yang lain. Seperti disebutkan dalam hadis:

"Bahawa seorang lelaki bertanya kepada Rasulullah s.a.w. tentang orang yang menyentuh kemaluannya, apakah ia wajib berwudhu? Rasulullah s.a.w. bersabda: "Tidak, dia adalah sebagian dari tubuhmu sendiri". (HR Lima Ahli Hadits)

Perosak Tayammum

Tayammum merupakan pengganti wudhu atau mandi. Kerana itu, ia boleh rosak atau batal apabila :

1. Langsung melihat air dan dapat menggunakannya (khusus bagi mereka yang bertayammum kerana tidak ada air).

2. Segala sesuatu yang membatalkan wudhu'.

Hal-hal lain yang perlu diketahui ialah:

1. Satu kali tayammum dapat digunakan untuk beberapa solat atau thawaf, baik yang wajib maupun yang sunat.

2. Apabila mendapatkan air, padahal solat sudah dikerjakan dengan tayammum, maka solatnya tidak perlu diulangi lagi.

Tatacara Shalat
Solat Wajib dan Praktiknya

Syarat-syarat Sah Solat

Apabila kita sudah mempunyai air wudhu bererti kita sudah siap untuk mengerjakan solat. Kita boleh solat dimana saja asalkan di tempat suci. Suci disini maksudnya adalah tidak bernajis. Boleh menggunakan alas seperti sajadah atau apa saja yang bersih, sekalipun tidak memakai alas sama sekali, seperti di atas bumi. Meskipun demikian, yang penting dipersiapkan sebagai persyaratan shalat ialah:

  1. Menutup aurat bagi lelaki iaitu antara pusat dengan lutut. Aurat wanita, seluruh badan, kecuali muka dan telapak tangan. Menutup aurat boleh dengan apa saja asal suci, tidak tembus pandang seperti plastik bening atau benda semacam lainnya.
  2. Menghadap ke arah kiblat, yaitu Ka'bah di Makkah. Bila tidak memungkinkan, misalnya di atas kereta api, kapalterbang atau tak diketahui sama sekali, maka hadapkanlah wajah kita ke mana saja yang kita merasa condong bahawa itu adalah kiblat.
  3. Harus mengetahui dengan yakin sudah berada dalam waktu solat yang hendak dikerjakan.
  4. Yakin bahawa badan, pakaian, dan tempat solat suci dari najis.
  5. Suci dari hadas besar dan hadas kecil.

Praktik Solat

Sesudah mempunyai air wudhu' dan siap untuk solat, maka kita segera dapat memulainya dengan urutan sebagai berikut.

Berdiri Tegak Lurus

Berdiri tegak lurus dengan menghadap ke arah kiblat, disertai dengan niat: "Aku solat...(zuhur, misalnya), wajib kerana Allah". "Usalli fardhu...(Zhuhrii), lillahii ta'ala"


Takbiratul Ihram

Takbiratul Ihram dilakukan dengan mengangkat kedua tangan sampai menyentuh telinga diiringi dengan membaca:

Allahhu Akbar (Allah Maha Besar) (1x)

Ucapan "Allahhu Akbar" disebut Takbiratul Ihram (hukumnya wajib) kemudian pada saat peralihan gerak atau sikap, sangat dianjurkan mengucapkan takbir "Allahhu Akbar". Yang perlu diperhatikan, apabila takbir dilakukan dalam keadaan berdiri, maka sebaiknya pengucapan takbir ini disertai dengan mengangkat kedua tangan seperti pada sikap takbiratul ihram. Dan apabila perpindahan gerak atau sikap terjadi dalam keadaan duduk, maka ucapan takbir tidak perlu disertai dengan mengangkat kedua tangan. Semua ucapan takbir dalam shalat hukumnya sunnat, kecuali takbir yang pertama yaitu takbiratul ihram.


Doa Iftitah

Selesai membaca takbiratul ihram, tangan langsung disedekapkan ke dada. Yang kanan menghimpit tangan kiri, pergelangan sejajar dengan pergelangan. Kemudian membaca doa iftitah (doa permulaan dan atau doa pembuka) yaitu:

Innii wajjahtu wajhiya lilladzi fatharas samaawaati wal ardha haniifan musliman wamaa ana minal musyrikiin. Inna salaati wa nusukii wa mahyaayaa wa mamaatii lillaahi rabbil 'aalamiin. Laa syariikalahu wa bizdaalika umirtu wa ana minal muslimin.

Aku hadapkan wajahku kepada Allah yang menjadikan langit dan bumi, dengan keadaan suci lagi berserah diri; dan aku bukanlah dari golongan orang-orang musyrik. Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, matiku hanya semata-mata bagi Allah, Tuhan Semesta alam. Tidak ada sekutu baginya, demikian akau diperintahkan, dan aku adalah termasuk kedalam golongan orang-orang yang berserah diri.

Membaca do'a iftitah hukumnya sunnat. (Selain doa tersebut di atas, masih ada doa'a-do'a iftitah yang lain yang biasa juga dibaca oleh Rasulullah s.a.w.).


Ta'awwudz

Selesai membaca do'a iftitah, lalu membaca "ta'awwudz". Bacaan t'awwudz hukumnya sunnat. Lafazhnya yaitu:

A'uudzu billaahi minasy syaithaanir rajiim

Aku berlinding kepada Allah dari kejahatan setan yang terkutuk.


Al Fatihah

Seudah ta'awwudz, lalu membaca surah Al Fatihah. membaca surah Al Fatihah pada setiap rakaat solat (wajib/sunnah) hukumnya wajib.

Bismillaahirrahmaanirrahi im. Alhamdulillaahi rabbil'aalamin Arahmaanirrahiim Maaliki yawmiddiin Iyyaaka na'budu wa iyyaaka nasta'iin Ihdinash shiraathal mustaqiim Shirathal ladziina an'amta alaihim gahiril maghdhuubi'alaihin waladh dhaalliin Aaamiin

 

Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang

Segala puji bagi Allah yang memelihara sekalian Alam Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang Yang merajai hari pembalasan Hanya kepada-Mu kami meyembah dan hanya kepada-Mu saja kami mohon pertolongan Tunjukilah kami jalan yang lurus Jalan mereka yang Engkau beri ni'mat, bukan jalan mereka yang engkau murkai dan bukan pula jalan mereka yang sesat. Kabulkanlah permohonan kami,ya Allah!

Sesudah membaca Al Fatihah pada rakaat pertama dan kedua pada solat wajib, kita disunnatkan membaca surah-surah atau ayat yang lain. Pada rakaat selanjutnya yaitu ketiga dan/atau keempat, kita hanya diwajibkan membaca Al Fatihah saja, sedangkan pembacaan surah atau ayat lainnya tidak diwajibkan. Surah-surah atau ayat-ayat Al Quran yang diinginkan dapat saja kita pilih diantara sekian banyak surah dari Al Quran. Sebaiknya usahakanlah tetap membaca surah atau beberapa ayat Al Quran sesudah al Fatihah pada rakaat pertama dan kedua (pada solat wajib) misalnya:

Wal ashri innal insaana lafii khusrin illaladziina 'aamanu wa'amilus shaalihaati watawaashaw bil haqqi watawaashaw bis shabri (QS)

"Demi waktu. Sesungguhnya manusia berada dalam kerugian, kecuali mereka yang beriman dan beramal saleh serta mereka yang berwasiat pada jalan kebenaran dan mereka yang berwasiat pada ketabahan."


Ruku

Di dalam ruku membaca :

1. Subhaana rabbiyal azhim (3x) ("Maha Suci Tuhanku Yang Maha Agung")

atau

2. Subhaanakallahumma rabbanaa wa bihamdika allaahummaghfirlii ("Maha suci Engkau ya Allah, ya Tuhan Kami, dengan memuji Engkau ya Allah, ampunilah aku")

*Boleh dipilih salah satu di antara kedua do'a tersebut.


I'tidal

I'tidal atau bangun dari ruku seraya mengangkat kedua tangan membaca:

Sami'allaahu liman hamidah. Rabaanaa walakal hamdu. (Maha mendengar Allah akan pujian orang yang memuji-Nya. Ya Tuhan kami, untuk-Mu lah segala puji.")

Bagi orang yang telah lancar bacaannya, maka pujian bangun dari ruku dapat diperpanjang dengan:

"Mil-ussamaawaati wa mil ul ardhi wa mil-umaa syi'ta min sya-in ba'du" (Untuk-Mu lah segala puji sepenuh langit dan bumi dan sepenuh apa yang Engkau kehendaki.)


Sujud Pertama

Bacaan dalam sujud:

Subhaana rabbiyal a'la (3x) (Mahasuci Tuhanku Yang Maha Tinggi_

Atau boleh juga membaca pujian seperti pujian No. 2 dalam ruku yaitu:

Subhaanakallaahumma rabbanaa wa bihamdika Allaahummaghfirlii (Mahasuci Engkau ya Allah, ya Tuhan kami, dengan memuji Engkau ya Allah, ampunilah aku)


Duduk Diantara Dua Sujud

Ketika duduk diantara dua sujud membaca:

Allaahummaghfirlii, warhamnii, wajburnii, wahdinii, warzuqnii (Ya Allah, ampunilah hamba, kasihanilah hamba, cukupilah hamba, tunjukilah hamba, dan berilah hamba rizki.)

Atau boleh juga membaca:

Rabbighfirlii, warhamnii, wajburnii, warfa'nii, warzuqnii, wahdinii, wa'afinii, wa'fu'annii. (Wahai Tuhanku, ampunilah aku, rahmatilah aku, cukupilah aku, angkatlah derajatku, ber rizqilah aku, tunjukilah aku, sehatkanlah aku, dan maafkanlah segala kesalahanku.)

[ kembali ke atas ]


Sujud Kedua

Bacaan dalam sujud kedua, sama dengan bacaan dalam sujud pertama yaitu:

Subhaana rabbiyal a'la (3x)(Mahasuci Tuhanku yang Maha Tinggi)

Bacaan-bacaan dalam ruku, i'tidal, sujud, dan ketika duduk diantara dua sujud dalam solat, semuanya sunat (tidak wajib) yang amat dianjurkan.


Berdiri Pada Rakaat Kedua

Sikap berdiri pada rakaat kedua sama dengan sikap berdiri pada rakaat pertama, yaitu dengan bersedekap tangan ke dada, yang kanan di atas yang kiri.

Mulai dengan membaca ta'awwudz:

A'uudzu billaahi minasy syaithaanirrajiim (Aku berlindung kepada Allah dari kejahatan syaithan yang terkutuk.)

Kemudian diteruskan dengan membaca surah Al-Fatihah.

Sesudah membaca Al-Fatihah, kembali pada rakaat kedua ini dianjurkan untuk membaca pula satu surah atau beberapa surah atau ayat-ayat suci Al Quran. Kemudian kembali melakukan ruku.


Ruku di Rakaat Kedua

Sikap dan bacaan ruku di rakaat kedua ini sama dengan sikap dan bacaan pada ruku di rakaat pertama.


Bangun dari Ruku

Sama dengan I'tidal pada rakaat pertama, bangkit serta mengangkat kedua tangan seraya membaca do'a i'tidal.


Sujud Pertama pada Rakaat Kedua

Bacaan di dalam sujud ini sama dengan bacaan pada sujud di rakaat pertama.


Duduk Diantara Dua Sujud

Bacaan doa ketika duduk diantara dua sujud pada rakaat kedua sama dengan bacaan pada rakaat pertama.


Sujud Kedua Pada Rakaat Kedua

Sikap dan bacaan pada sujud kedua pada rakaat kedua sama juga dengan sikap dan bacaan pada sujud-sujud sebelumnya.


Duduk Tahiyyat

Sikap duduk pada tahiyyat pertama (Tawarruk, keadaannya sama ketika duduk antara dua sujud menduduki kaki kiri, sedang kaki kanan tegak dengan jarijari kaki menghadap kiblat). Lain dengan sikap duduk pada tahiyyat kedua atau tahiyyat akhir (ifti-rasy, kaki kanan ditegakkan dengan jari-jari kaki menghadap ke arah kiblat).

Bacaan ketika tahiyyat ialah:

At tahiyyaatu lillaah, wash shalawaatu waththayibaatu

Semoga kehormatan untuk Allah, begitu pula segala do'a dan semua yang baik-baik.

Assalaamu'alaika ayyuhan nabiyyu wa rahmatullaahi wa barakaatuh

Salam sejahtera untukmu wahai para Nabi, dan rahmat Allah serta barakah-Nya.

Assalaamu'alainaa wa'ala ibaadillahis shaalihiin

Salam sejahtera untuk kami dan untuk para hamba Allah yang saleh

Asyhadu anlaa ilaaha illallaah, wa asyhadu anna Muhammadan 'abduhu wa rasuuluh

Aku bersaksi bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan selain Allah, dan bahwa sesungguhnya Muhammad adalah hamba Allah dan Rasul-Nya

Contoh di atas adalah praktek solat subuh 2 rakaat. Bila Anda solat Maghrib 3 rakaat, maka bacaan tahiyyat pertama rakaat kedua cukup samapai pada "Allaahumma shalli 'alaa Muhammad" dan akhir rakaat ketiga bacaan tahiyyat dibaca dengan sempurna samapi "hamiidun majiid". Setelah itu memberi salam.

Bila anda solat 4 rakaat, yaitu Zohur, Ashar, atau Isya, maka akhir rakaat kedua persis sama dengan akhir rakaat kedua solat Maghrib. Pada akhir rakaat ketiga, tak ada tahiyyat, dan pada akhir rakaat keempat barulah anda sempurnakan bacaan tahiyyat hingga "hamiidun majiid", lalu memberi salam sebagai akhir dari shalat.

Allaahumma shalli 'alaa Muhammadin wa'alaa aali Muhammadin, kamaa shallaita 'alaa Ibraahim wa'alaa aali Ibrahim, wa baarik 'alaa Muhammadin, kama baarakta 'alaa Ibrahiima wa'alaa aali Ibraahima, fil 'aalamiina innaka hamiidun majiid.

Ya Allah, berilah shalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah memberi shalawat kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim, dan berilah berkat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau memberi berkat kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha terpuji lagi Maha Mulia.


Memberi Salam

Menoleh ke kanan dan ke kiri. Setelah selesai tahiyyat, anda memberi salam dengan membaca:

Assalaamu 'alaikum warahmatullaahi wa barakaatuh (Salam sejahtera untukmu, rahmat Allah dan berkat-Nya.)

Sambil menoleh ke kanan dan ke kiri.

Perhatian:

Ketika membaca tasyahhud (asyhadu..) dalam tahiyyat, telunjuk kanan digerakkan ke atas bagai meyakinkan bahawa Allah itu hanya Esa.

Solat Jama & Qasar
Solat Jama

Yang dimaksud dengan solat Jama adalah penggabungan dua waktu solat dan dikerjakan dalam satu waktu, misalnya solat Zhuhur dengan Ashar dan Maghrib dengan Isya.

Bila solat Zuhur dikerjakan bersama-sama dengan Ashar di waktu Ashar, maka dinamakan Jama Ta'khir. Sebaliknya bila solat Ashar dikerjakan bersama-sama dengan Zuhur di waktu Zuhur disebut Jama Taqdin. Demikian juga bila solat Maghrib dan Isya dikerjakan bersama-s ama pada waktu Maghrib, ia disebut Jama Taqdim, sebaliknya solat Maghrib dengan Isya dikerjakan bersama-sama pada waktu Isya, ia dinamakan Jama Ta'khir

Zuhur, Ashar, Isya dan Maghrib, rakaatnya tetap, 4,4,4, dan 3. Dalam solat Jama' baik yang taqdim maupun takhir, maka solat yang didahulukan mengerjakannya adalah solat yang lebih dulu waktunya. Jadi, bila selesai dengan shalat Zuhur, harus dilanjutkan dengan solat Ashar; begitu pula dengan solat Maghrib dan Isya.

Solat Jama boleh dikerjakan oleh orang-orang yang:
  • Kerana dalam perjalanan atau musafir, iaitu sejak ia berangkat hingga kembali ke kampung
  • Kerana sedang mengerjakan pekerjaan-pekerjaan berat yang betul-betul sulit ditinggalkan.
  • Ataupun sebab-sebab lain yang seseorang tidak mampu menunaikan solat tersebut tepat pada waktunya.

Harus ada niat dalam hati bahawa ia mengerjakan solat Jama'.

Shalat Qasar

Yang dimaksud dengan solat Qashar ialah mengerjakan solat yang empat rakaat menjadi 2 rakaat sahaja, yakni solat Zhuhur, Ashar, dan Isya. Dalam Al Quran disebutkan:

"Dan apabila kamu bepergian di muka bumi, maka tidaklah mengapa kamu mengqashar shalatmu jika kamu takut diserang orang-orang kafir. Sesungguhnya orang-orang kafir itu adalah musuh yang nyata bagimu". (An Nisa 101). 

Diriwayatkan oleh Ahmad, Muslim, dan Abu Dawud dari Yahya bin Mazid r.a. katanya:

"Saya telah bertanya kepada Anas tentang mengqashar shalat. Jawabnya: Rasulullah s.a.w. "Apabila ia berjalan jauh 3 mil atau 33 farskah (25,92 km), maka beliau solat dua rakaat"


Dalam keterangan lain disebutkan bahwa Umar r.a. bertanya kepada
Rasulullah s.a.w.
:"Apakah halnya kita, sedangkan kita telah aman". 

Rasulullah s.a.w.
menjawab: "Itu adalah sadakah yang diberikan Allah s.w.t. kepada kamu, maka terimalah sedekahnya itu" (HR Ja'la bin Umayyah)

Solat Qashar boleh dikerjakan oleh seseorang yang tengah berpergian (musafir) baik dalam keadaan aman, maupun dalam keadaan ketakutan; baik perjalanan wajib atau biasa, asalkan perjalanan yang bukan maksiat. Dalam perjalanan Haji, menuntut ilmu, berdagang, mengunjungi sahabat dan lain-lain, halal untuk 
mengqasharkan solat.

Adapun solat qashar saja, maupun qasahar dan jama' yang dilakukan seseorang selama masa perjalanan, maka setelah ia tiba dirumah kembali, solatnya tidak perlu diulangi.

Seorang musafir, boleh mengerjakan jama' dan qashar sekaligus. Bila ingin mengerjakan jama, dan qashar, jika ingin azan, maka azannya cukup satu kali saja dan iqamahnya dua kali. Caranya, mula-mula azan, lalu iqamah dan solat. Bila telah selesai ia iqamah sekali lagi untuk solat berikutnya. Solat qashar adalah 
bagian dari ketetapan agama Islam.

Boleh jama' di dalam negeri

"Telah berkata Ibnu Abbas:
Rasulullah s.a.w. pernah sembahyang jama' antara Zuhur dan Ashar, dan antara Maghrib dan Isya, bukan diwaktu ketakutan dan bukan di dalam pelayaran (safa). Lantas ada orang bertanya kepada Ibnu Abbas: "Mengapa Rasulullah s.a.w.  berbuat begitu? Ia menjawab: "Rasulullah s.a.w.  berbuat begitu kerana tidak mahu memberatkan seorangpun daripada umatnya". (HR Imam Muslim)

Boleh Seketika, Tetapi Bukan Leluasa

Bila anda berpergian sebelum tergelincir matahari (yaitu sebelum Zuhur dan ternyata Zuhur tidak dapat dikerjakan pada waktunya kerana ada kerumitan atau halangan yang susah dielakkan), maka Zuhur dapat dikerjakan pada waktu Ashar, bersama-sama dengan solat Ashar. Bila anda keluar sesudah tergelincir matahari, yakni sudah dalam Zuhur, sedangkan anda sendiri memperkirakan tidak mungkin ada kesempatan untuk mengerjakan solat Ashar tepat pada waktunya, maka Ashar dapat anda kerjakan bersama-sama solat Zuhur di waktu Zuhur itu juga, demikian halnya dengan solat Maghrib dan Isya.

Yang Penting Niat

Bagi seorang yang betul-betul sibuk dengan tugas yang tidak dapat ditinggalkan (atau bila ditinggalkan dapat merosak), maka baginya ada keizinan/keringanan untuk mengerjakan solat jama' (Zuhur dengan Ashar di waktu Zuhur atau Zuhur dengan Ashar di waktu Ashar. Begitu juga Maghrib dengan Isya, sekali pun ia berada di dalam kota atau negeri. Tetapi, cara yang demikian bukanlah untuk dijadikan kebiasaan, namun dibenarkan bagi yang memang memerlukan, baik dalam solat atau diluar solat.

Pada waktu sujud dianjurkan membaca:

Sajada wajhiya lilladzii khalaqahu wasyaqqa sam'ahu wabasharahu bihawlihi waquwwatihi. (Aku bersujud kepada Allah yang menciptakannya, memberikan pendengaran dan penglihatan dengan kekuasaan dan kekuatan-Nya)

Catatan:

Bila diluar solat, pembacaan ayat yang ditentukan melakukan sujud tilawah, maka pendengar (menyaksikan) dianjurkan ikut bersujud; bila mereka tidak ikut bersujud, maka tidak akan berdosa.

Bila dalam solat jamaah, Imam bersujud tilawah, maka makmum wajib ikut bersujud, bila makmum tidak bersujud, maka gugurlah kedudukannya sebagai anggota solat berjamaah.

Solat Berjamaah
Solat berjamaah adalah solat yang dilakukan secara bersama, dipimpin oleh yang ditunjuk sebagai imamnya. Solat-solat yang bisa dikerjakan berjamaah adalah:
  1. Solat Lima Waktu: Subuh, Zhuhur, Ashar, Maghrib dan Isya
  2. Solat Jum'at
  3. Solat Tarawih
  4. Solat Ied Fitri dan 'Idul Adha
  5. Solat Jenazah
  6. Solat Istisqa (Minta Hujan)
  7. Solat Gerhana Bulan dan Matahari
  8. Solat Witir

Cara Melakukan

Berniat dalam hati bahawa ia menjadi makmum atau iman. Adapun seseorang yang pada mulanya solat sendirian, kemudian ada orang lain yang mengikuti di belakangnya, baginya tidak dituntut sebagai imam.

Makmum tidak dibenarkan mendahului imam, baik tempat berdirinya maupun gerakannya selama solat berjama'ah berlangsung. Makmum diharuskan mengikuti sikap/gerak imam, tidak boleh terlambat apa lagi sampai tertinggal hingga dua rukun solat.

Apabila makmum menyalahi gerakan imam (sengaja tidak mengikutinya) maka putuslah arti jama'ah baginya; dan ia disebut mufarriq.

Antara imam dan makmum harus berada dalam satu tempat yang tidak terputus oleh sungai atau tembok mati kerana itu berjamaah melalui radio atau seumpamanya dalam jarak jauh, tidak memenuhi syarat berjamaah.

Imam hendaklah orang yang berdiri sendiri, bukan orang yang sedang makmum kepada orang lain. Selain itu, imam hendaklah seorang laki-laki. Perempuan hanya dibenarkan menjadi imam sesama perempuan dan anak-anak.

Solat berjamaah hukumnya sunnah muakkad yaitu sunnat yang sangat dianjurkan. Perbedaan nilai solat berjamaah, 27 kali lebih baik daripada solat sendirian (munfarid). Solat berjamaah paling sedikit adalah adanya seorang imam dan seorang makmum.

Bila seseorang terlambat mengikuti solat berjamaah, hendaklah ia segera melakukan takbiratul ihram, lalu berbuat mengikuti imam sebagaimana adanya. Bila imam sedang duduk, hendaklah ia duduk, bila iamam sedang sujud iapun harus sujud; demikian seterusnya. Apabila imam sudah memberi salam, hendaklah ia bangun kembali untuk menambah kekurangan raka'at yang tertinggal dan kerjakanlah hingga raka'atnya memenuhi.

Ukuran satu rakaat solat ialah ruku'. Bila seseorang mendapatkan imam ruku dan dapat mengikutinya dengan baik, maka ia mendapatkan satu rakaat bersama imam.

Rasulullah s a.w. bersabda: "Apabila seseorang di antara kamu mendatangi shalat, padahal imam sedang berada daam suatu sikap tertentu, maka hendaklah ia berbuat seperti apa yang sedang dilakukan oleh imam". (HR Turmudzi dan Ali r.a. )

Hikmah Berjamaah

Solat berjamah mengandung faedah dan manfaat yang bervariasi sesuai dengan kepentingan umat dan zaman. Melalui jamaah, silaturahmi antar umat, disiplin, dan berita-berita kebajikan dapan dikembangkan dan disebarkan luaskan.

Rasulullah s a.w. bersabda: Solat berjamaah itu lebih utama nilainya dari solat sendirian, sebanyak dua puluh tujuh derajat" (HR Bukhari dan Muslim).

Imam (Ikutan)

Imam adalah ikutan, demikian pengertiannya. Untuk menjadi seorang imam diperlukan beberapa persyaratan yang mengikat. Misalnya memiliki usia yang lebih tua atau dituakan, memiliki pengetahuan tentang Al Quran dan hadits Rasulullah s a.w., memiliki keindahan bacaan dengan ucapan yang fasih (kalau di zaman Rasulullah s a.w., peribadi-peribadi yang lebih dahulu hijrah diperhatikan untuk menjadi imam.

Kerana imam adalah ikutan, maka pemilihan pribadi amat diperhatikan. Pro dan kontra yang berlebihan atas seseorang imam kerana dosa besarnya yang menonjol, pasti akan membubarkan jamaah. Adapun dalam kesalahan umum, maka semua manusia tidak suci dari dosa. Seorang yang biasa menjadi imam, maka tidak ada salahnya untuk sewaktu-waktu ia berada di belakang imam yang lain. Walau dia sendiri mungkin lebih baik dari imam yang bersangkutan.

"Dari Abdullah bin Masud, dia berkata: Rasulullah s a.w.  bersabda: "Menjadi Imam dari suatu kaum ialah mana yang lebih baik bacaan Al Qur'annya. Bila semuanya sama bagusnya, hendaklah imamkan mana yang paling alim (banyak tahu) akan sunnah Rasul. Kalau semuanya sama alim tentang sunnah Rasul, maka dahulukan mereka yang lebih dulu hijrah. Kalau mereka sama dahulu hijrah, maka iammkanlah mereka yang lebih tua usianya" (HR Imam Ahmad dan Muslim, dari Abdullah bin Mas'ud).

"Kalau mereka ada bertiga, hendaklah diimamkan seorang. Yang lebih berhak menjadi imam ialah yang lebih banyak bacan (tahu tentang bacaan Al Qur'annya)". (HR Imam Muslim, Ahmad dan Nasa'i dengan sumber Abi Said Al-Khudry).

"Tidaklah halal bagi seorang mukmin yang imam kepada Allah s.w.t. dan hari akhir yang mengimami sesuatu kaum kecuali atas izin kaum itu. Dan janganlah ia mengkhususkan satu do'a untuk dirinya sendiri dengan meninggalkan mereka. Kalau ia berbuat demikian, berkhianatlah ia kepada mereka". (HR Abu Daud dari Abu Hurairah)

Keadaan Shaf

Solat salah satu ibadah yang menghubungkan peribadi kepada Allah s.w.t., dan juga mengatur hubungan sesama manusia. Solat yang baik mendatangkan tamsil yang indah dan berguna.

Shaf yang baik akan menghemat tempat, merapikan barisan dan kesatuan jamaah serta mendatangkan nilai tambah bagi ibadah itu sendiri, bahkan menjadi cermin disiplin kehidupan dan pergaulan.

Rasulullah s a.w. bersabda: "Aturlah shaf-shaf kamu dan dapatkanlah jarak antaranya, ratakanlah dengan tengkuk-tengkuk". (HR Imam Abu Dawud dan An Nasa'i disahihkan Ibnu Hibban dari Anan).

Sering orang mengira bahawa shaf yang baik adalah shaf yang dilakukan secara santai-lapang. Tidaklah demikian sebenarnya.

Untuk Shaf yang Baru

Bila shaf terisi penuh, maka mulailah dengan shaf yang baru dari arah sebelah kanan. Bila yang terbelakang hanya seorang diri, maka usahakanlah ia dapat masuk shaf yang sudah ada; atau tariklah seorang anggota shaf yang ada untuk menemaninya (yang ditarik pasti mahu, andaikan ia mengerti tata tertibnya).

Shaf Kaum Wanita

Shaf kaum wanita sebaiknya terletak di belakang shaf kaum lelaki, sementara shaf anak-anak berada di tengah; demikian bila dimungkinkan. Bila tidak, shaf makmum lelaki dan wanita bisa diatur secara sejajar; atau mungkin tercampur sama sekali, bagaikan jamaah musim haji di masjidil Haram, Makkah. Shaf yang bercampur baur sebenarnya kurang baik, bahkan mudah mengandung fitnah; sementara solat itu sendiri mencegah kekejian dan kemungkaran, yang akan mendatangkan fitnah, apalagi jika melakukan solat.

Rasulullah s a.w. bersabda: "Sebaik-bauknya shaf kaum lelaki itu di depan, dan seburuk-buruknya ialah di bagian belakangnya, dan sebaik-baiknya shaf kaum wanita itu ialah pada bagian akhirnya dan sejelek-jeleknya ialah di bagian depannya". (HR Imam Muslim dari Abu Hurairah).

Pengganti Imam

Bila solat berjamaah, sebaiknya orang yang di belakang imam adalah mereka yang merasa dirinya siap sebagai pengganti, bila tiba-tiba imam mendapat halangan, umpamanya batal, jatuh sakit, lupa ingatan, terlupa rukun dan sebagainya. Apabila seseorang solat di sebuah masjid di luar asuhan atau daerahnya sendiri, maka dia tidak boleh langsung bertindak menjadi imam, kecuali bila diminta. Mungkin saja disana sudah ada jadwal imam tetap. Begitu pula bila ia bertamu, kerana yang paling hak menjadi imam adalah tuan rumah sendiri, kecuali bila ia diminta.

Imam Yang Arif

Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a. bahawa Rasulullah s a.w.  bersabda: "Manakala seseorang di antara kamu solat bersama-sama orang banyak, maka hendaklah ia meringankan (memendekkan) bacaan surat atau ayat-ayatnya. Mungkin ada diantara jamaah yang tidak tahan lama berdiri, ada yang sakit, atau ada yang sudah tua. Dan manakala seseorang dari kamu itu solat sendirian, maka silakan ia memanjangkan bacaan sekehendaknya". (HR Bukhari dan Muslim).

Khutbah dipendekkan dan solat diperpanjang, demikian petunjuk Rasulullah s a.w. Di pejabat, pekerja dibatasi oleh waktu, maka khutbah yang pendek sangat tepat dan bermanfaat. Khutbah yang seakan-akan cerita bersambung, membosankan, akhirnya jama'ah berbual dan mengantuk.

Ringkasan

  • Kalau solat di rumah, maka tuan rumah lebih berhak menjadi imam, kecuali tuan rumah mempersilakannya.
  • Orang yang bagus bacaan Al-Qurannya lebih diutamakan untuk menjadi imam.
  • Bila solat telah berlangsung, mereka yang datang belakangan terus saja mengikuti imam yang sudah ada.
  • Imam sedapatnya orang yang lebih disukai makmum, kerana iman itu dipilih untuk diikuti.
  • Imam sahabat rawatib, sebaiknya oleh imam yang biasa ditetapkan, kecuali ada kesepakatan menunjuk orang lain sebagai imam.
  • Imam yang fasih lebih utama, sebagai halnya seorang yang dituakan, baginya amat layak menjadi imam dalam solat.
  • Imam itu bertanggung jawab atas makmumnya, kerana itu seorang imam harus tahu benar dengan kedudukannya.
  • Orang makmum yang tepat berada di belakang imam, hendaklah seorang yang amat tahu dalam masalah ibadah yang sedang dilakukan. Mereka harus bertindak tepat pada saat imam batal, salah, lupa dan sebagainya. Bila perlu ia berhak menggatikan imam, sekalipun imam berkebaratan atau tidak tahu tentang kesalahannya.
  • Seorang di belakang imam berlaku sebagai barometer, berhak meluruskan baris atau shaf di kanan dan kirinya.
  • Apabila selesai solat, imam segera duduk mengarah ke jamaah. Sebaiknya imam berdzikir secara pelan dan kusyu, dan jamaahpun berdzikir atau berdoa sesuai kata hatinya; demikian yang terbaik.
  • Bila imam berdoa, diaminkan atau tidak diaminkan, doa imam sudah membawa kepentingan jamaahnya.
Solat Sunnat Istikharah
Solat ini dilakukan untuk mendapatkan petunjuk, terutama bila seseorang dalam keraguan memutuskan mana yang terbaik diantara dua perkara yang diragukan.

Sebelum seseorang mengambil keputusan ia dianjurkan solat istikharah dua rakaat. Setelah selesai shalat, berdoa seperti yang dianjurkan oleh Rasulullah SAW:

Allaahumma inni astakhiiruka bi'ilmika , wa astaqdiruka biqudratika wa as aluka min fadhlikal azhiim. Fa innaka taqdiru wa laa aqdiru, wata'lamu wa laa a'lamu, wa anta allaamul ghuyuub.

Allaahumma inkunta ta'lamu anna haadzal amra khairun lii fii diinii wama'aasyii wa 'aaqibati amrii, 'aajili amrii wa aajilihi faqdurhu lii wa yassirhu lii tsumma baarikliifiihi. Wa inkunta ta'lamu anna haadzal amra syarrun lii fii diinii wa ma'aasyii wa 'aaqibatu amrii 'aajili amrii wa aajilihi fashrif annii washrifni 'anhu waqdur liyal khairahaytsu kaana tsumma ardhinii bihi, innaka 'alaa kulli syai-in qadiir

"Ya Allah, sesungguhnya aku mohon pilihan-Mu dengan ilmu-Mu, dan aku mohon kepastian kepada-Mu dengan kekuasaan-Mu, sesungguhnya Engkau Maha Kuasa, Engakau Maha Tahu dan Maha Mengetahui segala yang gaib.
Ya Allah, jika Engkau mengetahui urusan ini baik bagiku, untuk agamaku, untuk penghidupanku dan akhir kesudahannya kelak, maka takdirkanlah dia bagiku dan mudahkanlah dia bagiku, kemudian berilah dia berkah bagiku.
Dan apabila Engkau mengetahui pekerjaan itu buruk bagiku, untuk agamaku, untuk penghidupanku dan akhir kesudahannya kelak, maka singkirkanlah dia daripadaku dan hindarkanlah aku daripadanya. Takdirkanlah hal-hal yang baik bagiku dimana kebajikan itu berada, kemudian berilah aku menyenanginya"

Tata Cara Shalat Istikharah

Tata cara solat istikharah sama dengan solat subuh, Hanya niatnya saja yang berlainan, yaitu berniat solat istikharah. Bila mungkin laksanakan sesudah lewat tengah malam, setelah bangun tidur. Solat ini sangat peribadi sifatnya. Sebab itu harus dikerjakan sendirian. Solat ini tidak memakai azan atau iqamah.

Dalam berdoa sebaiknya menyebutkan permintaan yang ingin diberikan petunjuk oleh Allah s.w.t. misalnya: "Ya Allah, jika Engkau mengetahui urusan ini....(sebutkan namanya)"

Solat-solat Sunnat Lainnya
Solat Safar

Apabila seseorang hendak berpergian, sebelum meninggalkan rumah, ia dianjurkan mengerjakan solat safar dua rakaat; demikian pula sesudah tiba di rumah kembali.

Caranya sama dengan mengerjakan solat subuh, hanya niatnya berlainan, yaitu berniat solat safar sunnat kerana Allah s.w.t.. Selesai solat berdoalah agar perjalanan diridhai, dimudahkan dan diselamatkan Allah s.w.t. dalam perjalanan, baik pribadi, tugas maupun keluarga yang ditinggalkan.

Solat Tahiyatul Masjid

Bila seseorang masuk ke masjid, maka sebelum ia duduk atau melakukan sesuatu yang lain, lebih dulu dianjurkan mendirikan solat tahiyatul masjid (menghormati masjid) sebanyak dua rakaat. Caranya sama dengan solat sunnat yang lain, hanya niatnya saja yang berbeda.

Solat Dhuha

Solat Dhuha dilakukan pagi hari antara jam 6.30 hingga jam 11.00 . Bilangan rakaatnya sekurang-kurangnya dua rakaat dan sebanyak-banyaknya 8 rakaat. Caranya setiap dua rakaat, satu salam.

Solat Thuhur

Solat ini dikerjakan sesudah mengambil air wudhu. Kalau di masjid, sebaiknya dilakukan sesudah solat tahiyatul masjid. Caranya seperti mengerjakan solat sunnat yang lainnya.

Solat Intizhar

Solat Intizhar (solat menunggu atau sunat Mutlaq) dapat dikerjakan pada setiap saat; terlepas dari keterikatan seperti solat sunnat yang lain. Pada hari Jum'at menjelang khatib naik mimbar, atau pada kesempatan yang hampir serupa. Solat Intizhar tidak boleh dikerjakan lagi bila khatib sudah naik mimbar. Caranya seperti mengerjakan solat subuh juga, setiap dua rakaat satu kali salam. Boleh dikerjakan satu kali atau lebih.

Solat Syukur

Solat ini biasanya dikerjakan apabila setelah berhasil menaklukkan musuh, mengerjakan pekerjaan besar, memperoleh keuntungan besar, seperti lulus ujian dan sebagainya. Bilangan rakatnya boleh 2, 4, 6 atau 8 dan dikerjakan terus menerus dengan hanya satu kali salam pada rakaat terakhir.

Solat Sunnat Jum'at

Selesai solat Jum'at, kita dianjurkan melakukan solat empat rakaat atau dua rakaat, dengan niat solat sunat Jum'at.

Rasulullah s a.w. bersabda: "Apabila anda sudah selesai solat Jum'at maka hendaklah kamu solat sesudahnya empat rakaat" (HR Imam Muslim dari Abu Hurairah)

Dalam hadits lain juga disabdakan:

"Bahwa Rasulullah s a.w. tidak mengerjakan solat sunnat sesudah Jum'at sehingga ia pulang ke rumahnya, maka beliau solat dua rakaat dirumahnya". (Hr Imam Muslim dan Ibnu Umar r.a.)
Solat Sunnat Istisqa (Minta Hujan)
Pada musim kemarau panjang, kita dianjurkan melakukan solat Istisqa (solat minta hujan). Seluruh anggota masyarakat, lelaki dan wanita, tua muda, anak-anak, dan orang tua lemah pun kalau perlu didukung dan diikutsertakan; berkumpul di satu kawasan lapang, semua berpakaian yang biasa dipakai kerja. Jama'ah dengan rendah hati, khusyu, dan bersungguh-sungguh mengharap ridha Allah s.w.t

Khatib naik mimbar atau berdiri di tempat ketinggian, lalu memulai berkhutbah dengan puji-pujian kepada Allah s.w.t., dua kalimah syahadah dan shalawat kepada Rasulullah s a.w.. Kandungan khutbah mengajak umat bertaubat dan mendekatkan diri kepada Allah s.w.t, lalu mengajukan permohonan kepada-Nya, semoga Dia menurunkan hujan. Sebaiknya beberapa hari menjelang solat istisqa dilakukan, pemuka umat sudah berbuat menasihati, menginsyafkan umat serta berpuasa bersama-sama selama empat hari berturut-turut dan mengajak berlumba-lumba membuat kebajikan. 

Doa meminta hujan:

Alhamdulillahi rabbil aalamiim. Arrahmaanirrahiim. 
Maalikiyaumiddiin. Laailaaha illallaahu ya'alu maa yuriid. Allaahumma antallaahu laa ilaahaa illallaahu antal ghaniiyyu wa nahnul fuqaraa-u anzil alainal ghaytsa waj al maa anzalta lanaa quwwatan wa balaaghan ilaahiin.

"Segala puji bagi Alah, pemelihara alam semesta. Tuhan yang Maha Pengasih

 
AWAN MENGIKUTI ORANG YANG BERTAUBAT
02.12.08 (12:15 am)   [edit]




Diriwayatkan bahawa seorang tukang jagal terpesona kepada budak tetangganya.
Suatu saat gadis itu mendapatkan tugas menyelesaikan urusan keluarganya di
desa lain. Si tukang jagal lalu mengikutinya dari belakang sampai akhirnya
berhasil menemukannya. Si tukang jagal lalu memanggil gadis itu dan
mengajaknya menikmati kesempatan langka dan indah itu. Tetapi gadis itu
menjawab, "Jangan lakukan. Meskipun sangat mencintaimu, aku sangat takut
kepada Allah."



Mendengar jawapan itu, si tukang jagal merasa dunia berputar. Kerana
menyesal dan sedar hatinya gementar, tenggoroknya kering dan hatinya semakin
berdebar, dia lalu berkata, "Kau takut kepada Allah sedangkan aku tidak."



Dia pulang sambil bertaubat. Di jalan ia diserang haus dan nyaris mati. Is
kemudian bertemu seorang soleh. Mereka berjalan bersama. Mereka melihat
gumpalan awan berjalan menaungi mereka berdua sampai mereka masuk ke sebuah
desa. Mereka berdua yakin bahawa awan itu untuk orang yang soleh. Kemudian
mereka berpisah di desa tersebut. Awan itu ternyata condong dan terus
menaungi si tukang jagal itu sampai dia tiba di rumahnya. Orang soleh tadi
hairan melihat kenyataan ini. Dia lalu mengikuti tukang jagal tadi lantas
bertanya kepadanya dan dijawabnya juga di tempat itu. Maka laki-laki soleh
itu berkata, "Janganlah hairan terhadap apa yang kau lihat, kerana orang
yang bertaubat kepada Allah itu berada di suatu tempat yang tak seorang pun
berada di situ."

 
Tuhan tidak melupai perbuatan si zalim
12.30.07 (8:01 pm)   [edit]

Oleh: DR. MOHD. ASRI ZAINUL ABIDIN

Dunia ini jika diciptakan Allah tanpa diiringi dengan hari akhirat, tentulah kehidupan ini amat mengecewakan banyak manusia. Apa tidaknya, entah berapa ramai insan yang dizalimi haknya sedangkan dia tidak dapat menuntutnya kembali disebabkan kedaifan dirinya, atau keadaan yang tidak membelanya. Sehingga ada insan yang dijatuhkan maruahnya, ditipu atau diceroboh hartanya, diseksa jasad, bahkan dibunuh tubuhnya secara zalim.

Tanpa kesalahan, tanpa kejahatan, tanpa dosa yang menghalalkan itu semua. Namun dek dia manusia bawahan, atau keadaan yang tidak membolehkan dia mempertahankan dirinya maka dia terpaksa mengharungi kekejaman ke atas dirinya. Tercungap-cungap tanpa pembelaan. Lantas dia pergi meninggalkan dunia ini sebagai insan teraniaya tanpa dibela. Jikalah dunia berakhir dengan sebuah kematian di bumi semata, tanpa manusia dibangkitkan semula dan dihitungkan segala amalan dan kerjanya, tentulah kehidupan ini sesuatu yang amat tidak adil. Atau kehidupan ini hanyalah pentas drama kezaliman dan penindasan semata. Namun Maha Suci Tuhan dari menjadikan kehidupan sia-sia. Firman Allah: (maksudnya) maka apakah patut kamu menyangka bahawa Kami hanya menciptakan kamu dengan sia-sia dan kamu tidak akan dikembalikan kepada kami? Maka Maha Tinggilah Allah Yang Menguasai seluruh alam, lagi Yang Maha Benar; tiada yang diabdikan diri melainkan Dia, Tuhan Yang mempunyai ‘arasy yang mulia (surah al-Mukminun ayat: 115-116).

Saya pernah melawat beberapa kota-kota tamadun lama. Antaranya saya melihat tempat yang pada zaman dahulu para pembesar mereka menjadi perlawanan manusia menentang singa sebagai majlis hiburan dan keramaian. Penentang singa itu mungkin seorang manusia yang tidak ada kesalahan, namun dia dipilih untuk dijadikan bahan hiburan. Ketika bergelut mempertahankan nyawanya di gelanggang yang disediakan, orang ramai bersorak sorai kegembiraan menyaksikan pertandingan maut itu. Demikian juga jika kita baca sejarah perhambaan yang pernah dilakukan oleh bangsa kulit putih terhadap kulit hitam. Begitu kezaliman kuasa-kuasa imperialis yang menceroboh dan menindas bangsa-bangsa yang lemah. Wanita mereka dirogol, anak-anak mereka dibunuh dan negara mereka dimusnahkan. Sesetengahnya tanpa kesalahan, tanpa campur tangan dalam sebarang percaturan politik pun, tiba-tiba dimangsakan.

Saya baru-baru ini ketika bersolat di Masjidilharam berbual dengan seorang warga Iraq. Dia dan keluarganya menjadi mangsa kekejaman pemerintah mereka yang lepas. Tidak kerana dia terlibat dengan politik, tetapi disebabkan ada keluarga mereka yang terlibat lalu semua mereka diseksa dengan penuh kezaliman. Saya katakan kepadanya; “Pemimpin awak telah pun pergi menemui Allah.” Dia menjawab: “Ya, dia telah pun hilang dari muka bumi ini, namun kekejaman yang pernah dilakukan terus terpalit dalam sanubari kami yang pernah dimangsakan dan yang dosa itu dibawa pergi menemui Allah oleh mereka yang dikorbankan olehnya sebelum kematiannya.” Saya memandang wajahnya yang barangkali menyimpan lautan kepahitan kezaliman terhadap dirinya, anak perempuannya dan insan-insan yang dia sayangi. Saya tidak pasti sejauh mana kebenaran ceritanya. Namun yang pasti ramai manusia yang melakukan kezaliman telah pun melupai mangsanya, namun insan yang dizalimi tidak pernah lupa. Sudah pasti Allah tidak akan lupa perbuatan si zalim. Teringatlah saya firman Allah: (maksudnya) Dan janganlah kamu menyangka bahawa Allah lalai akan apa yang dilakukan oleh orang-orang yang zalim; sesungguhnya Dia hanya melambatkan balasan mereka hingga ke suatu hari yang padanya terbeliak kaku pemandangan mereka, (kerana gerun gementar melihat keadaan yang berlaku). (dalam pada itu) mereka terburu-buru (menyahut panggilan ke padang Mahsyar) sambil mendongakkan kepala mereka dengan mata tidak berkelip, dan hati mereka yang kosong (kerana bingung dan cemas) (surah Ibrahim 42-43).

Ya, ramai orang zalim telah melupai mangsa mereka. Bahkan sebahagian mereka tidak mengenali pun siapakah mangsa mereka. Ketika mereka bergolek dalam keseronokan, mangsa-mangsa mereka merintih penderitaan dan kesakitan. Lihatlah berapa ramai pemaju perumahan yang berarak ke sana sini sedangkan pembeli-pembeli rumah yang ditipu atau terbengkalai terus menderita dek penipuan tersebut. Mungkin mereka tidak kenal pun bagaimanakah rupa si pemaju dan si pemaju pun tidak kenal rupa mereka. Namun Allah tidak pernah lalai dan alpa atas apa yang dilakukan. Entah berapa ramai insan yang dicemari maruahnya. Dibuat dan direka cerita palsu mengenai dirinya. Maka mata-mata manusia memandangnya dengan sinis. Terpinga-pinga dia dan bertanya: siapakah yang memulakan cerita dusta ini yang aku menderita kerananya? Tersenyum barangkali si pereka cerita disebabkan dia tidak dapat dikesan. Namun Allah Maha Mengetahui segalanya dan tidak pernah lupa. Entah berapa ramai pula insan yang dicedera atau dibunuh tanpa dia sempat mengenali siapakah si penjenayah yang menzaliminya. Namun Allah Maha Memerhati segalanya. Sehingga saya pernah menyebut: entah berapa ramai yang menaiki kereta dengan kesombongannya meredah becak atau lopak di jalan lalu mencemari pakaian si hamba Allah yang berjalan di tepi atau menaiki motosikal. Menangislah dan meratap si mangsa atas kekotoran bajunya. Dia barangkali tidak sempat pun memerhati wajah si pemandu, namun Allah tidak akan lupa dan alpa. Sabda Nabi s.a.w.: Segala hak akan dibayar kepada empunya pada hari kiamat, sehinggakan akan dibalas untuk biri-biri yang bertanduk atas perbuatannya ke atas biri-biri yang tidak bertanduk (riwayat Muslim). Hadis ini menggambarkan betapa setiap yang dizalimi dan menzalimi walau sekecil mana pun akan diadili pada hari kiamat kelak.

Kadangkala kita kenal orang yang memangsakan kita. Namun tidak dapat kita mengelakkan kezalimannya disebabkan kuasa yang dimilikinya, atau keadaan yang berpihak kepadanya. Demikian kita lihat ada kerajaan pemerintah yang menzalimi rakyatnya. Ada majikan yang menzalimi pekerjanya. Ada ibu bapa yang menzalimi anaknya. Atau suami yang menzalimi isterinya. Si mangsa hanya mampu berdiam diri kerana bimbang kesan yang lebih buruk jika dia bertindak. Namun Allah tidak akan lupa itu semua. Begitu juga mereka yang mempunyai saluran tertentu seperti wartawan atau penulis buku dan internet yang memuatkan kisah peribadi orang lain sehingga menderitakan si mangsa. Atau ahli politik yang menjadikan pentas politiknya untuk menuduh dan memalitkan keaiban kepada musuh-musuh politiknya. Tanpa mempedulikan maruah orang dan larangan Allah agar jangan diintip keaiban orang serta arahan Nabi s.a.w. agar jangan didedahkan keaiban peribadi insan lain tanpa sebab-sebab yang dihalalkan syarak. Mereka ini tidak berasa zalim dan berdosa. Jika ditanya, mereka menjawab: ini kerja aku sebagai wartawan atau penulis politik atau ahli politik. Bagi mereka seakan kerjaya mereka telah melangkaui batasan dan sempadan agama. Mereka seakan lupakan peringatan Nabi s.a.w.: Sesiapa yang ada padanya kezaliman terhadap saudaranya (muslim yang lain); seperti terhadap maruah dan selainnya, mintalah halal pada hari ini sebelum tiba waktu yang tidak ada dinar dan dirham (hari kiamat). Sekiranya baginya amalan soleh maka akan diambil darinya dengan kadar kezalimannya. Jika tidak ada baginya kejahatan, maka akan diambil kejahatan orang yang dizalimi lalu ditanggung ke atasnya (riwayat al-Bukhari).

Satu lagi sikap sesetengah manusia adalah mereka sering lupa kezaliman terhadap orang lain dan hanya mengungkit kezaliman apabila ia terkena kepada diri mereka sahaja. Jika orang lain bertindak tidak adil terhadap mereka, mereka akan membantah lalu berkata, kami dizalimi. Apabila mereka menzalimi orang lain, mereka akan berkata, kami hanya menuntut hak. Saya masih ingat dahulu apabila ada seorang pemimpin yang dituduh melakukan perbuatan seks yang sumbang maka para ustaz dan selain ustaz yang membelanya membacakan dalil-dalil al-Quran dan Sunah yang melarang kita menuduh orang lain dengan tuduhan zina tanpa empat orang saksi. Lalu dibacalah firman Allah: (maksudnya) Dan orang-orang yang melemparkan tuduhan (zina) kepada perempuan yang terpelihara kehormatannya, kemudian mereka tidak membawakan empat orang saksi, maka sebatlah mereka lapan puluh kali sebatan; dan janganlah kamu menerima persaksian mereka itu selama-lamanya; kerana mereka adalah orang-orang yang fasik (surah al-Nur ayat 4). Lalu mereka menyatakan perbuatan menuduh tersebut adalah zalim lagi haram dan si penuduh menurut Islam hendaklah disebat lapan puluh rotan. Namun apabila para ustaz dan ‘pengikut para ustaz’ yang sama menuduh musuh-musuh politik mereka – sebelum dan selepas itu – dengan tuduhan skandal seks dan berbagai lagi, tidak pula mereka mendatangkan saksi seperti yang dituntut oleh syarak. Bahkan sebahagian ceramah-ceramah politik itu dihiasi dengan tuduh-menuduh yang amat berat di sisi syarak. Namun mereka ini jika ditanya akan menjawab: “ini politik syeikh! Anta mana faham.” Saya menyatakan mungkin mereka lebih faham ‘politik ala mereka’, namun apa yang saya faham hukum Tuhan itu tidak pernah terbatas. Islam ini bukan sekular yang memisahkan agama dari politik. Jika anda bercakap tentang Islam dan politik, maka cara politik hendaklah mengikut Islam. Sebahagian perkataan-perkataan dalam ceramah itu bak kata al-Quran dalam surah al-Nur ayat 15: (maksudnya) ketika kamu menerima berita dusta itu dengan lidah kamu, dan memperkatakan dengan mulut kamu sesuatu yang kamu tidak mempunyai pengetahuan mengenainya; dan kamu pula menyangka ia perkara kecil, padahal di sisi Allah adalah perkara yang besar dosanya. Demikian kita, kita hanya sedar kezaliman apabila ia terkena kepada kita, melupainya apabila terkena kepada orang lain. Saya masih ingat seorang yang berpakaian agama dalam negara ini yang mengkritik sikap sesetengah anak-anak muda yang kononnya tidak menerima pakai pendapat ‘tokoh-tokoh agama Nusantara’ dan beliau mensifatkan itu sebagai koboi dan biadap. Itu katanya tidak menghormati ulama. Tetapi saya melihat beliau dan mereka ‘sebaju’ dengan beliau dalam masa yang sama menghina, memfitnah bahkan sehingga mengkafirkan tokoh- tokoh ulama umat Islam seperti Syeikhul Islam Ibn Taimiyyah, al-Hafiz Ibn Qayyim, al-Hafiz al-Zahabi, al-Imam Muhammad bin ‘Abdul Wahhab, Dr. Yusuf al-Qaradawi dan lain-lain lagi, tidaklah pula mereka menganggap diri mereka zalim, koboi dan biadap terhadap para ulama. Mereka menghukum diri mereka tidak sama dengan hukuman mereka terhadap orang lain. Inilah yang sering saya ulangi firman Allah s.w.t: dalam surah al-Maidah: 8: (maksudnya): Wahai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu semua sentiasa menjadi orang- orang yang menegakkan keadilan kerana Allah, lagi menerangkan kebenaran; dan jangan sekali-kali kebencian kamu terhadap sesuatu kaum itu mendorong kamu kepada tidak melakukan keadilan. Hendaklah kamu berlaku adil (kepada sesiapa jua) kerana sikap adil itu lebih hampir kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui dengan mendalam akan apa yang kamu lakukan.

Islam ini adil untuk semua tanpa sempadan. Allah Tuhan Yang Maha antikezaliman telah berfirman dalam hadis qudsi: Wahai hamba-hamba-Ku! Aku telah haramku kezaliman untuk Aku lakukan dan Aku jadikan ia haram di kalangan kamu, jangan kamu zalim-menzalimi (riwayat Muslim). Kezaliman itu haram sekalipun terhadap orang yang pada zahirnya tidak berperwatakan baik dan sekalipun terhadap bukan muslim. Tidak dibolehkan oleh agama kita menuduh atau menzalimi seseorang hanya kerana dia tidak kuat beragama atau kerana dia bukan seorang muslim. Apatah lagi terhadap seorang soleh dan berakhlak baik dalam hidupnya. Nabi s.a.w. bersabda: Takutlah kamu doa orang yang dizalimi, sesungguh antaranya dengan Allah tidak ada sebarang hijab (penghalang) (riwayat al- Bukhari dan Muslim). Dalam riwayat Ahmad: Takutlah kamu doa orang yang dizalimi, sekalipun dia seorang yang jahat. Kejahatannya bagi dirinya (hadis ini dinilai hasan oleh al-Albani/al-Sahihah: 767) dalam riwayat Ahmad yang lain: Takutlah kamu doa orang yang dizalimi, sekalipun dia seorang yang kafir kerana ianya tidak ada hijab (penghalang untuk Allah menerimanya). (hadis ini dinilai hasan oleh al-Albani/al-Sahihah: 767).

Entah berapa ramai si zalim yang belum pun sempat datang hari akhirat telah pun merasai padah kezaliman di atas muka bumi ini hasil dari doa mangsanya. Sehingga dek terlupa perbuatan zalimnya, apabila tiba saat pembalasan Tuhan di bumi ini ke atasnya dia tertanya-tanya: mengapa aku jadi begini? atau mengapakah Tuhan melakukan padaku begini? Dia terlupa kezalimannya, sedang si mangsa dan Tuhan tidak lupa perbuatannya. Dalam hadis yang lain, Nabi s.a.w. bersabda: Takut kamu doa orang yang dizalimi kerana ia dibawa atas lindungan awan dan Allah Yang Maha Tinggi berfirman: Demi kemuliaan dan keagungan-Ku, akan Aku menangkan engkau walaupun selepas beberapa lama (riwayat al-Bukhari dalam al-Tarikh al-Kabir, dinilai hasan/al-Sahihah: 870). Ketika si zalim tidur lena di katilnya, si mangsa mendongak ke langit menyeru Tuhannya. Justeru itu, janganlah hampa sesiapa yang dizalimi dan takutlah kita doa orang yang kena zalim!

- DR. MOHD. ASRI ZAINUL ABIDIN ialah Mufti Kerajaan Negeri Perlis.

 
Pelbagai pandangan tentang solat wusta
12.11.07 (6:50 pm)   [edit]

PELIHARALAH kamu (kerjakanlah dengan tetap dan sempurna pada waktunya) segala sembahyang fardu, khasnya sembahyang Wusta (sembahyang Asar), dan berdirilah kerana Allah (dalam sembahyang kamu) dengan taat dan khusyuk. (al-Baqarah: 238)

SYEIKH al-Maraghi berkata: Dua ayat terdahulu membahaskan berkenaan dengan hukum, sebahagiannya berkaitan ibadat dan sebahagian yang lain berkaitan muamalat. Kedua-duanya berakhir dengan penerangan daripada jalan atau cara yang utuh dan teguh dalam bermuamalah antara suami isteri. Telah menjadi sunah al-Quran bahawa diikuti hukum dengan perintah supaya bertakwa kepada Allah.

Memberi peringatan dengan ilmunya berkenaan dengan hal hamba-hambanya dan apa yang disediakan bagi mereka daripada balasan atas amalan sehingga penguasaan agama ke atas nafsu dan melahirkan keikhlasan.

Namun, tabiat nafsu kadang-kadang lalai daripada peringatan dengan kesibukan hidup atau mendapat nikmat kelazatan yang menyebabkan mereka menyimpang daripada jalan kebenaran petunjuk sehingga akhirnya berpecah.

Daripadai sini amat perlu kepada pemberi peringatan membentuk roh sehingga membuang sifat kebendaan atau material semata-mata.

Seterusnya dihadapkan supaya bermuraqabah kepada Allah dengan cara membersihkan daripada segala najis dan kotoran sehingga terangkat daripada perlakuan yang tidak baik dan cenderung kepada keadilan dan ihsan. Peringatan tersebut ialah solat yang dapat mencegah sebarang kemungkaran dan percakapan buruk.

Firman Allah s.w.t: Peliharalah kamu (kerjakanlah dengan tetap dan sempurna pada waktunya) segala sembahyang fardu.

Ibn al-Arabi berkata: perkataan muhafazah bermaksud berterusan dan tekun melakukan sesuatu iaitu dengan cara bersungguh-sungguh melakukannya serta berhati-hati agar tidak mempersiakan keseluruhan atau sebahagiannya. Memelihara sesuatu bererti memelihara seluruh juzuk dan sifatnya.

Contohnya surat yang ditulis oleh Umar: Barang siapa yang menyimpannya dan memeliharanya bererti dia telah menjaga agamanya.

Sayid Qutub berkata: Dalam ayat ini diperintahkan supaya dipeliharakan semua solat, iaitu mendirikannya di dalam waktu-waktunya masing-masing dan menyempurnakan segala rukun dan segala syaratnya.

Firman Allah: khasnya sembahyang Wusta (sembahyang Asar). Adapun solat wusta maka mengikut pendapat yang rajih yang dipilih dari pelbagai riwayat ialah solat asar kerana Rasulullah s.a.w bersabda pada hari peperangan al-Ahzab: Mereka telah menghalangi kita daripada solat wusta, iaitu solat Asar. Allah penuhkan hati dan rumah mereka dengan api neraka! (riwayat Muslim)

Tujuan beliau menyebut solat asar secara khusus mungkin kerana waktunya datang selepas tidur tengah hari yang mungkin terluput dikerjakan oleh seseorang.

Suka dinyatakan kenapa dinamakan solat wusta?

Ibn al-Arabi mengemukakan tiga andaian:

- Ia diambil daripada perkataan al-wasat yang bermaksud saksama, terbaik dan mempunyai kelebihan. Sebagaimana firman Allah dalam surah al-Baqarah, ayat 143 yang bermaksud: Dan demikianlah Kami jadikan kamu (wahai Muhammad) satu umat pilihan lagi adil.

Dan firman Allah lagi dalam surah al-Qalam, ayat 28 yang bermaksud: Bukankah aku telah katakan kepada kamu (semasa hendak menghampakan orang kafir miskin daripada habuannya): Amatlah elok kiranya kamu mengingati Allah s.w.t (serta membatalkan rancangan kamu yang jahat itu)?

Dalam kedua-dua ayat ini, perkataan tersebut merujuk kepada makna ‘yang terbaik’.

- Ia bermaksud pertengahan dari segi bilangan kerana ia adalah solat yang berada di tengah-tengah antara solat lima waktu.

- Ia bermaksud pertengahan waktu.

Ibn al-Qasim berkata, Malik berkata: Solat subuh ialah solat wusta kerana solat zuhur dan asar pada waktu siang dan solat maghrib dan isyak pada waktu malam, sedangkan subuh berada antaranya dan ia solat yang paling sikit kadarnya.

Solat zuhur dan asar boleh dijamakkan, begitu juga maghrib dan isyak boleh dijamakkan sedangkan solat subuh tidak boleh dijamakkan dengan mana-mana solat pun. Ia juga solat yang ramai orang terluput kerana tertidur.

Pandangan yang sama disebut oleh Zaid bin Aslam. Diriwayatkan daripada Ibn Abbas bahawa solat subuh ialah solat wusta kerana dikerjakan antara kegelapan malam dan kecerahan siang. Di samping itu kerap kali manusia terluput mengerjakannya. Ibn Abbas juga berkata: Setelah membaca qunut dalam solat subuh, inilah solat wusta.

Secara ringkasnya dinukilkan tujuh pendapat tentang apakah solat yang terbaik itu:

- Pertama: Solat zuhur seperti pendapat Zaid bin Thabit.

- Kedua: Solat asar seperti pendapat Ali dalam satu riwayatnya.

- Ketiga: Solat maghrib seperti kata al-Barra’.

- Keempat: Solat isyak.

- Kelima: Solat subuh seperti pendapat Ibn Abbas, Ibn Umar, Abu Umamah dan riwayat yang sahih daripada Ali.

- Keenam: Solat jumaat.

- Ketujuh: Ia adalah solat yang tidak ditentukan.

Firman Allah: …dan berdirilah kerana Allah (dalam sembahyang kamu) dengan taat dan khusyuk.

Mungkin pendapat yang rajih bahawa yang dimaksudkan dengan qanitina dalam ayat ini ialah khusyuk dan menumpukan ingatan kepada Allah di dalam solat. Kerana dahulu mereka pernah bercakap-cakap di dalam solat apabila mereka menghadapi keperluan-keperluan yang mendadak sehingga turun ayat ini barulah mereka faham darinya bahawa tidak boleh dilakukan kerja yang lain di dalam solat melainkan zikir Allah, khusyuk dan menumpukan ingatan kepadanya.

Suka dinyatakan perkataan qanitin sebenarnya mempunyai banyak makna yang utamanya ialah empat makna:

- Pertama: taat seperti pendapat Ibn Abbas.

- Kedua: berdiri seperti pendapat Ibn Umar.

- Ketiga: diam seperti pendapat Mujahid.

- Keempat: khusyuk.

Kesemua pendapat tersebut ada kemungkinan benar kerana tidak ada percanggahan kecuali pengertian berdiri disebabkan tidak sesuai untuk dipadankan dengan firman Allah yang bermaksud: Dan berdirilah kerana Allah secara qanitin.

Yang sahih ialah riwayat Zaid bin Arqam kerana ia menunjukkan nas yang terang daripada Nabi s.a.w. Oleh itu tidak perlu dirujuk kepada pengertian yang lain yang masih di peringkat andaian.

Iktibar Ayat

- Berkenaan dengan faedah ayat ini, Ibn al-Arabi berkata: Sebahagian ulama kami mengatakan ada satu pada faedah pada ayat ini iaitu menolak pandangan Abu Hanifah yang berpendapat solat witir adalah wajib kerana solat wusta dikira termasuk dalam solat witir supaya solat yang mengepungnya dari dua arah ialah bilangan yang genap. Apabila dihitung solat yang wajib itu ada enam, maka tentulah solat itu tidak menjadi solat wusta.

- Kelebihan solat wusta.

- Kewajipan memelihara solat fardu secara berjemaah dan khusyuk.