Titipan Kalbu


Blog For Free!


Archives
Home
2008 February
2007 December
2007 September
2007 August
2007 July
2007 June
2007 May
2007 April
2007 March
2007 February
2007 January
2006 December
2006 November
2006 October
2006 September
2006 August
2006 July
2006 June
2006 May
2006 April
2006 March
2006 February
2006 January
2005 December
2005 November
2005 October
2005 September
2005 August
2005 July
2005 June
2005 May
2005 April
2005 March
2005 February
2005 January
2004 December
2004 November
2004 October
2004 September
2004 August

My Links
Sebentar Cuma
utusan_sakinah
Petua
Petua Tiga
Mymasjid.com
Ilmiah
SPA 8

tBlog
My Profile
Send tMail
My tFriends
My Images


Sponsored
Blog



Image hosted by Photobucket.com


Image hosted by Photobucket.com


Free Web Counter
Free Hit Counter




SHALAT BERSAMA RASULULLAH
01.30.07 (6:01 pm)   [edit]
Pernahkah kita shalat bersama Rasulullah... ?
“Allaahu akbar…”
Takbiratul ihramku ketika aku melakukan shalat di Raudhah masjid Nabawi. Kedua tanganku kuangkat di sisi kedua telingaku, bagaikan seorang pesakitan yang tunduk dan takut akan hukuman. Dada terasa menyesak, bibir terasa kaku, pandangan mataku seketika kabur, kepalaku tertunduk penuh rasa takut. Tubuhku sedikit berguncang menahan haru.
Nafasku memburu, menahan rasa rindu. Pandanganku tak berani sedikit pun menatap ke depan. Hanya sajadah tempat sujud itulah yang bisa kutatap penuh rasa tawadhu'. Aku terpesona oleh indahnya pertemuanku dengan Al-Khalikku. Menurut nuraniku Insya Allah saat itu keadaanku 'disaksikan' oleh junjungan termulia Rasulullah saw.
Ada semacam kekuatan hebat yang menjadikan aku bisa merasa bertemu dengan Allah saat itu. Bertemu dengan kebesaranNya, bertemu dengan Kasih sayangNya, dengan kelembutanNya, dan bertemu dengan keMaha dahsyatanNya...
Subhaanallah... Rasanya tidak sedikit pun hati berpaling. Seluruh bisikan doa dan dzikirku saat itu bisa menyatu dalam hati, jiwa dan ragaku. Mengapa bisa seperti itu ?
Karena saat itu aku merasa sangat dekat dengan junjungan Rasulullah saw. Sehingga setiap gerakanku rasanya seolah-olah dikoreksi oleh Rasul tercinta. Setiap bisikan doaku, makhraj dan tajwidku seolah diperhatikan oleh Rasulullah. Dalam setiap tarikan nafasku selalu kurasakan kehadiran Allah Sang Maha Pencipta... subhaanallah. Betapa indahnya apabila setiap shalat di tanah air juga bisa seperti itu.
Ketika di akhir shalat aku membisikkan doa tasyahud akhir, maka bertemulah aku dengan kalimat kesaksian, dua kalimat syahadat yang membuat dadaku berdegup kencang..
" ...asyhaduallaa ilaaha illallah, wa asyhaduanna muhammad rasulullah..."
"...aku bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah, dan aku bersaksi bahwa (nabi) Muhammad adalah utusan Allah..."
Ah, begitu tergetarnya bibirku mengucap nama Muhammad. Sementara beliau sedang berada di dekatku. Mataku terpejam... air mataku meleleh, ketika bibirku membisikkan nama beliau...
" Allahumma shalli'ala Muhammad, wa 'ala ali Muhammad...."
Mungkin selama hidupku, itulah saat yang paling indah dan sangat mempesona ketika mengucap shalawat untuk beliau...
QS. Al-Fath (48) : 29
Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka, kamu lihat mereka ruku' dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.    & nbsp;   &n bsp;   &nb sp;   &nbs p;     ; 
 
BERPAYUNG DZIKIR
01.30.07 (6:00 pm)   [edit]
Seberapa besar energi dzikir di bawah sengatan matahari ...?
Hari itu, cuaca begitu panas. Sehingga sekitar jam sepuluh saja matahari sudah menyengat kulit tubuh. Kami yang berada di maktab sangat merasakan hal itu. Tetapi saat itu, aku tak tahu mengapa ada semacam keinginan yang kuat dalam hatiku untuk datang ke masjid.
Aku menyadari, bahwa jarak dari maktab ke masjid cukup jauh. Sekitar satu setengah kilometer. Tetapi aku tetap saja ingin pergi ke masjid. Beberapa teman yang ada di maktab menyarankan untuk tidak pergi ke masjid karena hari sedang panas-panasnya. Tetapi dengan berbagai alasan, akhirnya aku berangkat juga ke masjid?
Ada seorang teman yang juga ikut pergi ke masjid untuk shalat dhuhur. Meskipun nampaknya ia agak ragu-ragu. Tetapi entah apa alasannya, akhirnya temanku ikut juga bersamaku, pergi ke masjid Nabawi. Kami berdua masing-masing membawa sebuah payung untuk melindungi diri dari sengatan sinar matahari. Dalam perjalanan menuju masjid itulah bagian dari cerita ini aku tuliskan.
Alhamdulillah, sebenarnya sudah sejak dahulu, bahkan jauh sebelum aku berangkat menunaikan ibadah haji, dalam hati aku sudah berniat. Aku akan memanfaatkan kesempatan yang telah diberikan oleh Allah ke tanah haram ini dengan sebaik-baiknya. Mungkin itulah salah satu energi besar yang kumiliki. Sehingga dalam kesempatan apa pun, dan dalam kondisi bagaima pun aku tetap ingin melakukan ibadah dengan seoptimal mungkin. Demikian juga dengan kondisiku ketika berangkat ke masjid di hari yang sangat panas itu.
Saat itu sedang panas-panasnya matahari menyinari bumi Madinah. Apabila kami sedang berjalan, dan saat itu ada angin yang berhembus menerpa tubuh, wah, angin itu rasanya seperti berasal dari cerobong knalpot mobil. Begitu panas dan begitu kering.
Hal itulah yang membuat orang-orang banyak yang tidak berani keluar dari rumah atau hotel. Kondisi alam yang cukup membuat banyak orang menjadi khawatir bahkan cenderung timbul rasa takut. Namun entah kenapa, tidak demikian denganku. Dalam hatiku tak terlintas sedikit pun rasa khawatir. Justru dengan adanya cuaca yang tidak bersahabat itu, membuat hatiku bertambah ingin pergi ke masjid untuk mendekatkan diri kepada Ilahi. Bersama-sama dengan orang-orang yang rindu untuk selalu bertemu dengan Tuhannya. Dalam kondisi apapun, termasuk juga kondisi saat itu.
Aku sendiri menjadi heran. Apa yang membuatku bisa menikmati dan mempunyai ketetapan hati seperti itu. Setelah kupikir-pikir mungkin karena niat yang sudah tertanam di hati sejak mulai berangkat dari tanah air menuju tanah haram. Inilah yang mungkin saja membuatku -insya Allah- tetap punya komitmen untuk terus beribadah di sepanjang waktu. Dan aku pun teringat akan ayat Al-qur'an tentang niat dan keikhlasan hati
QS. Ali-Imran (3) : 29
Katakanlah: "Jika kamu menyembunyikan apa yang ada dalam hatimu atau kamu melahirkannya, pasti Allah mengetahui." Allah mengetahui apa-apa yang ada di langit dan apa-apa yang ada di bumi. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.
QS. Al-Bayyinah (98) : 5
Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.
Bahkan begitu jelasnya hadits yang disampaikan rasulullah saw.
Umar bin Khatab ra. Berkata: saya mendengar Rasulullah saw bersabda: Sesungguhnya sah atau tidaknya suatu amal, bergantung pada niatnya. Dan yang teranggap bagi tiap orang adalah apa yang diniatkan....”
( HR. Bukhari, Muslim )
Menyembah kepada Allah dengan ikhlas. Itulah kunci dari semua aktivitas hidup ini. Hidup adalah mengabdi kepada Allah. Hidup adalah beribadah, kepada Allah. Hidup adalah menghamba kepada Allah dengan memanfaatkan karunia yang telah diberikan olehNya kepada kita semua. Rupanya apa yang terjadi pada saat itu membuktikan kebenaran ayat Allah Swt. Paling tidak, telah menambah keyakinanku akan hal tersebut.
Pak Hadi yang saat itu ikut pergi ke masjid, ketika akan berangkat sudah didahului perasaan ragu-ragu. Antara pergi dan tidak. Mungkin keragu-raguan inilah yang menjadikan pak Hadi mengalami perjalanan yang cukup menyulitkan dan menyusahkan dirinya. Sepanjang perjalanan dari maktab menuju masjid tiada hentinya ia mengeluh.
Katanya hari begitu panas. Nafasnya sesak. Kakinya capek. Badannya berkeringat dingin... Dan sebagainya. Payung yang digunakan seolah tidak berfungsi lagi.
Lain pak Hadi, lain pula yang kurasakan. Meski pun, tentu saja aku tidak menyampaikan kondisiku kepadanya. Waktu itu aku benar-benar mengalami kenikmatan dalam perjalanan menuju masjid. Setiap langkah kakiku kubuat dzikir kepada Allah yang menciptakan kaki ini. Setiap gerak dan lambaian tanganku aku buat dzikir kepada yang telah menciptakan tangan ini. Setiap fikiranku aku buat dzikir kepada Allah, karena Dialah yang menjadikan manusia sehingga pandai berfikir. Setiap gerak lidahku aku buat bertasbih kepadaNya.
Saat itu hatiku tidak lalai sedikit pun mengingat nikmat Allah yang telah memberikan karunia besar kepada tubuh ini. Hati dan fikiranku, lidah dan bibirku, saat itu berdzikir mengikuti ritme langkah-langkah kecilku....
Dan tidak terasa, tiba-tiba aku telah sampai di serambi masjid Nabawi. Akh! Betapa nikmat perjalanan singkat itu. Sebuah kenikmatan yang sulit terulang lagi, dan sulit diceritakan keindahannya. Payung dari kain yang aku gunakan tentu tidaklah mampu memberi kenikmatan dalam perjalanan itu. Terbukti pak Hadi yang berjalan di sebelahku yang juga menggunakan payung dari jenis yang sama, ia tetap merasa kepanasan dan kecapaian. Sementara aku saat itu menikmati sebuah suasana hati yang indah, yang sulit dilukiskan dengan kata-kata.
Ketika pak Hadi mengatakan bahwa kakinya sangat berat untuk melangkah, aku begitu heran karena kakiku begitu ringan untuk melangkah.
Ketika pak Hadi mengatakan bahwa pandangannya kabur, karena cuaca begitu panasnya, aku bertambah heran karena pandanganku begitu sejuknya.
Ketika pak Hadi mengatakan, betapa lamanya perjalanan menuju masjid tersebut, aku semakin heran kenapa aku justru ingin sekali perjalanan itu tidak cepat-cepat nyampe di masjid. Aku ingin berlama-lama menikmati suasana hati yang begitu mengasyikkan dalam perjalanan itu.
Sungguh aku semakin yakin akan pertolongan Allah. Buat siapa saja yang mempunyai niat ikhlas dalam melakukan pengabdian kepadaNya. Dan yang lebih penting lagi adalah, dalam setiap persoalan apa pun kita harus merasa bahwa sebenarnya Allah itu dekat dengan hambaNya.
Jika setiap saat seseorang selalu merasa dekat dengan Dzat Pemilik alam raya ini, insya Allah dimana saja dan dalam keadaan apa saja akan selalu dilidungiNya. Dan memang, Allah Swt tidak pernah jauh dari makhlukNya. Dialah yang mengendalikan semua persoalan hidup manusia.
QS. Al-Baqarah (2) : 186
Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah) Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.
QS. Qaaf (50) : 16
Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya dari pada urat lehernya.
Semoga dengan semakin bertambahnya kesadaran, bahwa kita ini sesungguhnya sangat dekat dengan Sang Pencipta yaitu Allah Azza wa Jalla, hidup kita menjadi semakin terarah, dan menjadi semakin bermakna.
Insya Allah...
 
BERSAMA ALLAH DI KOTA MADINAH
01.30.07 (12:02 am)   [edit]
PELAJARAN PERTAMA
Pelajaran apa yang didapat pertama kali di tanah Haram...
Sesungguhnyalah, 'sabar' adalah sebuah kata yang gampang sekali diucapkan. Ia hanya terdiri dari lima huruf. Dalam kehidupan kita sehari-hari, kata ini begitu akrabnya dengan setiap persoalan.
Seorang guru memberi nasehat kepada muridnya. Seorang ibu atau ayah memberi nasehat kepada anak-anaknya. Seorang teman memberi nasehat kepada teman lainnya. Seorang pemimpin memberi nasehat kepada anak buahnya. Bahkan seorang da'i memberi nasehat kepada khalayak atau para audiens yang mendengarkan petuahnya. Dan mungkin masih banyak lagi....!
Tetapi begitu seseorang terkena permasalahan sendiri, maka 'nglakoni' sabar itu begitu beratnya. Tidak semudah seperti ucapan yang sering muncul dari seseorang untuk orang lain. Begitu ringannya, begitu enaknya, begitu gampangnya seseorang meluncurkan kalimat sabar. Tetapi memang perilaku sabar itu sesuatu yang sangat manusiawi.
Setiap orang akan diuji dengan 'kata-kata' itu. Setiap orang akan pernah merasakan suatu persoalan yang akan melibatkan perilaku sabar. Allah memberlakukan semua orang terkena permasalahan. Yang dengan permasalahan itu, Dia justru akan menguji siapa orang-orang yang menjadi hamba yang tulus dan akan lulus. Atau, siapa pula yang gagal dalam drama kehidupan di panggung dunia ini. Tak ada satu pun manusia yang tidak bertemu dengan persoalan, yang akan mengakibatkan seseorang harus berperilaku sabar. Terpaksa atau tidak.!
Seorang yang kaya, akan terkena persoalan yang tidak bisa diselesaikan dengan kekayaannya.
Seorang yang tinggi ilmunya akan terkena persoalan yang tidak bisa diselesaikan dengan ketinggian ilmunya.
Seorang yang sehat dan kuat akan terkena persoalan yang tidak bisa diselesaikan dengan kekuatan tubuhnya.
Seorang pejabat yang mempunyai pengaruh yang besar sekali pun, ia akan terkena persoalan pada titik kelemahannya. Kekuatan dan kemampuan yang dimilikinya tidak akan bisa dipakai untuk menyelesaikan persoalannya.
Semua orang akan mengalami suatu kondisi dimana pada saat itu ia harus menggunakan kesabarannya untuk bisa keluar dari permasalahan.
Apakah dia seorang pemimpin, rakyat biasa, orang pandai atau orang miskin. Bahkan nabi dan rasul pun telah 'diberi' oleh Allah dengan suatu persoalan hidup yang sangat berat dan rumit, justru untuk menunjukkan kepada manusia, bahwa ujian dan cobaan berlaku bagi siapa saja...
Begitu juga dengan para jamaah haji. Di kota Madinah, setelah semua jamaah turun dari bus yang mengangkut dari Bandara King Abdul Azis, dan berhenti di maktab yang telah disediakan bagi rombongan, maka 'keakuan' para ketua rombongan muncul.
Mereka berebut tempat di Maktab demi rombongannya masing-masing. Ketua rombongan saling bertengkar memperebutkan kamar demi anak buahnya. Akh, aku betul-betul terkejut sampai aku tertegun. Tak habis mengerti.
Ketika kami sesama 'kelompok terbang' berangkat dari tanah air, kami begitu akrabnya. Begitu mesranya. Saling tolong-menolong menomor duakan diri sendiri demi untuk kepentingan orang lain. Bayanganku, harapanku, tentu sesampai di tanah haram nanti kita semua bertambah saling setia. Saling menolong bagi yang susah.
Tetapi saat itu sungguh aku agak kecewa. Untung hal itu tidak berlangsung lama. Ada seseorang yang melerai. Ada salah satu ketua rombongan yang lebih memilih untuk mengalah dari pada harus bertengkar dengan sesama.
Subhaanallah..., rupanya inilah pelajaran pertama di tanah haram.! Tentang sabar.
Begitu banyak Al-Qur'an memberi pelajaran tentang sabar. Tidak kurang dari tujuh puluh kali, Allah memerintahkan agar manusia selalu bersabar atas ujian dan cobaan yang menimpa. Bahkan Allah Swt memberi motivasi kepada setiap orang yang bisa bersabar dengan balasan yang tiada terkira.
Dengan perilaku sabar Allah akan memberi berbagai keutamaan. Sebab memang perilaku sabar adalah sangat istimewa. Sabar menunjukkan bahwa orang tersebut bisa memanage hatinya. Padahal memanage hati bukanlah perkerjaan yang mudah. Sabar adalah pekerjaan hati.
Sebuah peribahasa menunjukkan bahwa betapa sulitnya memanage dan mengetahui keberadaan sebuah hati.
" Dalam laut dapat diduga, dalam hati siapa tahu. Luasnya laut selalu ada pantainya, luasnya hati tiada bertepi."
Karena itu, orang yang bisa bersabar apabila ditimpa dengan persoalan, maka sungguh Allah akan mengganti dengan berbagai reward yang kadang-kadang kita tidak pernah menyangkanya. Sungguh Allah selalu bersama dengan orang yang sabar.
1. Orang yang sabar akan mendapatkan pahala yang lebih baik.
QS. An-Nahl (16) : 96
Apa yang di sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal. Dan sesungguhnya Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.
Termasuk orang-orang yang bila dianiaya, ia membalas dengan kebaikan. Maka itulah orang yang sabar. Bahkan mereka akan diberi balasan dua kali lipat berkat kesabarannya.
2. Orang yang sabar diberi pahala dua kali lipat.
QS. Al-Qashash (28) : 54
Mereka itu diberi pahala dua kali disebabkan kesabaran mereka, dan mereka menolak kejahatan dengan kebaikan, dan sebagian dari apa yang telah Kami rezkikan kepada mereka, mereka nafkahkan.
3. Orang yang sabar diberi pahala tanpa batas.
QS. Az-Zumar (39) : 10
Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang beriman, bertakwalah kepada. Tuhanmu". Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.
4. Orang yang sabar selalu bersama Allah.
QS. Al-Anfal (8) : 46
Dan ta'atlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.
5. Orang yang sabar adalah yang khusyu'.
QS. Al-Baqarah (2) : 45
Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu',
6. Orang yang sabar adalah yang benar imannya.    & nbsp;   &n bsp;   &nb sp; 
QS. Al-Baqarah (2) : 177
Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.
7. Orang yang sabar mempunyai kekuatan sepuluh kali lipat
QS. Al-Anfaal (8) : 65
Hai Nabi, kobarkanlah semangat para mu'min itu untuk berperang. Jika ada dua puluh orang yang sabar di antara kamu, niscaya mereka dapat mengalahkan dua ratus orang musuh. Dan jika ada seratus orang (yang sabar) di antaramu, mereka dapat mengalahkan seribu daripada orang-orang kafir, disebabkan orang-orang kafir itu kaum yang tidak mengerti.
8. Orang yang sabar memiliki sifat yang baik
QS. Fushshilat (41) : 35
Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar.
Rasulullah saw, bersabda:
"Sabar itu separuh dari iman"
(HR. Abu Na'im, dari Ibnu Mas'ud)
Sungguh hebat perilaku sabar itu. Sehingga Allah Swt memberikan begitu banyak reward bagi orang yang sabar. Maka pantaslah jika syarat utama bagi orang yang memiliki derajat taqwa adalah orang yang memiliki sifat sabar.
9. Sabar adalah identitas orang taqwa.
QS. Ali-Iimran (3) : 15-17
Katakanlah: "Inginkah aku kabarkan kepadamu apa yang lebih baik dari yang demikian itu?" Untuk orang-orang yang bertakwa (kepada Allah), pada sisi Tuhan mereka ada surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya. Dan (mereka dikaruniai) isteri-isteri yang disucikan serta keridhaan Allah: Dan Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya.
(Yaitu) orang-orang yang berdo'a: "Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah beriman, maka ampunilah segala dosa kami dan peliharalah kami dari siksa neraka," (yaitu) orang-orang yang sabar, yang benar, yang tetap taat, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah), dan yang memohon ampun di waktu sahur.
ARTI ‘ALIF LAAM MIIM’
Tahukah anda, apa arti dan makna 'alif laam Miim'...?
Tiba-tiba saja, aku terhenti membaca lembaran pertama Al-qur'an itu. Dan akupun tak kuasa lagi untuk melanjutkannya... Mataku berkaca-kaca. Kutahan tetesan air mataku, sebisanya. Ah! tidak bisa! Bahkan ada air mata yang menetes jatuh ke bajuku.
Aku tak sanggup berucap. Tenggorokkanku terasa sakit. Lidahku kelu. Nafasku memburu. Tambah lama, air mataku semakin tak terbendung. Akhirnya berderai juga dan kubiarkan berjatuhan. Mengalir deras, entah membasahi apa saja yang ada di bawahnya.
Aku tak tahu apa penyebabnya. Mungkin haru, mungkin rindu, mungkin takut, atau bahkan mungkin ada perasaan cemas. Semua bercampur menjadi satu. Tak bisa kugambarkan bagaimana perasaanku saat itu. Semua rasa ada di dalam qalbu.
Semua itu terjadi ketika pandangan mataku terpaku pada ayat pertama surat Al-Baqarah yang berbunyi "alif laam miim..." Bahkan tanganku yang membawa kitab Al-Qur'an sempat bergetar menahan gejolak hati yang tak karuan rasanya.
Itulah suasana hatiku ketika untuk pertama kali aku masuk ke masjid Nabawi. Aku bersama-sama dengan banyak orang masuk ke masjid Rasulullah. Saat itu aku tak mengetahui arah. Belok kanan, belok kiri atau lurus, aku tak tahu. Aku terus maju mengikuti saja kemana arah langkah kakiku membawa.
Akhirnya aku melihat ada tempat kosong dalam sebuah shaf. Aku pun menuju ke tempat itu. Ku lakukan shalat dua rakaat. Setelah selesai aku mengambil kitab Al-qur'an untuk ku baca. Ketika aku menebarkan pandanganku ke kanan dan ke kiri, betapa terkejutnya aku. Karena tanpa kusadari aku sudah berada di dekat makam Rasulullah... Dan ternyata itulah yang disebut sebagai Raudhah. Sebuah taman surga yang selalu ku idamkan sejak aku mengikuti manasik haji dahulu. Ternyata saat itu tanpa kusengaja aku sudah berada di dalamnya.
Maka, saat aku menyadari bahwa aku berada dekat sekali dengan Rasul tercinta. Aku ingin sekali membaca Al-Qur'an yang agung itu. Dan begitu aku membuka lembaran pertama dan bertemu dengan ayat pertama surat Al Baqarah, saat itulah aku tidak bisa mempertahankan keharuanku.
Begitu bibirku menyentuh kalimat pendek yang hanya terdiri dari tiga huruf saja, alif, laam, dan ketika aku berusaha mencari arti dan maknanya... Aku merasa tidak bisa dan tidak mampu. Seketika itu juga aku merasa betapa kecilnya diri ini, betapa lemahnya, dan betapa tidak berdayanya.... Maka yang bisa aku lakukan hanyalah menangis. Tidak jelas kenapa dengan diriku. Tetapi yang kurasakan dan kuharapkan saat itu, aku ingin mohon ampun, atas segala kesalahanku, kesombonganku, keangkuhanku... Yang pernah, bahkan mungkin sering singgah dalam hatiku.
Sebenarnya aku tidak tahu dan juga tidak mengerti apa makna huruf-huruf itu. Yang merupakan gabungan tiga huruf: alif, laam dan miim. Tetapi begitu aku membuka lembaran pertama Alqur'an dan bertemu dengan tiga huruf pertama dari surat Al-Baqarah itu, tiba-tiba hati bergetar, jantung berdegub lebih kencang, air mata tak tertahankan lagi...entah apa yang menyebabkannya.
QS.Al-Baqarah (2) : 1-2
"Alif Laam Miim." (hanya Allah yang mengetahui maksudnya). Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa.
Kalau mengartikan 3 huruf saja aku tak mampu, bagaimana dengan ratusan ribu huruf yang berada di Al-Qur'an. Huruf-huruf itu tertata sedemikian indah. Membentuk kalimat dan ayat-ayat yang luar biasa. Penuh makna dan keseimbangan fantastis.
Berfikir tentang hal itu, semakin bertambahlah rasa ketidak-mampuanku sebagai seorang hamba. Berkat alif laam miim, aku semakin merasa, dan semakin mengetahui betapa kecilnya manusia. Betapa rendahnya ilmu yang dimilikinya...
Maka bertambah deraslah air mataku..
Itulah sebuah suasana hati di Raudhah. Sang taman surga..! Betapa indahnya jika hati manusia di dalam kesehariannya diwarnai oleh suasana Raudhah. Tentu hidup ini akan damai sejahtera. Semua orang akan peka dan peduli pada orang lain. Semua orang akan mengakui ketidak berdayaannya sebagai orang yang kecil, yang lemah, yang tak tahu apa-apa.
Semua merasa dalam aktivitas hidupnya selalu dekat Rasulullah. Dekat dengan ajarannya, dekat sunahnya. Dekat dengan sifat-sifatnya yang jujur, yang amanah, yang selalu menyampaikan kebenaran, yang selalu menggunakan logika imannya.
Rupanya hanya di Raudhah itulah, aku bisa bertemu dengan suasana hati yang seperti itu. Betapa seringnya aku membaca huruf-huruf alif, laam dan miim. Tetapi tidak pernah menemukan suasana hati semacam itu. Kecuali di Raudhah ini..
Rasulullah saw, bersabda
" Tempat yang terletak diantara rumahku dan mimbarku, merupakan suatu taman di antara taman-taman surga.."
(HR. Bukhari, dari Abu Hurairah)
 
Perspektif IKIM: Hari Asyura gerbang bulan amalan
01.29.07 (5:43 pm)   [edit]

Banyak peristiwa besar berlaku pada 10 Muharam dan digalak ganda perkara sunat

BANYAK peristiwa penting berlaku pada 10 Muharam yang menunjukkan kebesaran Allah. Antara peristiwa itu adalah Allah menerima taubat Nabi Adam, Allah menyelamatkan Nabi Musa daripada tenggelam di laut apabila dikejar Firaun dan tenteranya serta Allah selamatkan Nabi Ibrahim daripada dibakar hidup-hidup oleh Raja Namrud.

Pada tarikh itu juga Allah menyelamatkan Nabi Nuh dan pengikutnya daripada ombak besar yang melanda bumi dan Allah menyelamatkan Nabi Yunus yang tidak henti berzikir selama 40 hari dalam perut ikan nun.

Justeru, hari yang dinamakan Hari Asyura itu sewajarnya dijadikan permulaan baik untuk menempuh tahun baru 1428 Hijrah dengan memperbanyakkan amalan sunat yang dianjurkan seperti berpuasa dan bersedekah.

Amalan baik dianjurkan pada 10 Muharam tidak terhad kepada puasa sunat dan memasak bubur Asyura.

Apa juga amalan baik boleh dilakukan pada hari itu dan hari seterusnya pada Muharam kerana banyak amalan dianjurkan Islam untuk dilaksanakan umatnya sepanjang bulan ini.

Masyarakat perlu faham keperluan atau apakah diharapkan daripada mereka apabila disarankan melaksanakan amalan sunat pada hari tertentu seperti dianjurkan Islam.

Amalan sunat boleh diibarat seperti aksesori tambahan pada kereta. Ada badan, tayar, enjin dan stereng, kereta boleh jalan. Tetapi apabila ditambah sport rim dan sarung kulit, maka kereta nampak lebih cantik dan menambah nilai kenderaan itu.

Begitu juga ibadat wajib seperti solat dan puasa, jika tidak ditambah dengan amalan sunat, bukan tidak elok tetapi tidak cantik. Untuk mencantikkan, kita banyakkan amalan sunat.

Walaupun peristiwa besar banyak berlaku pada 10 Muharam, umat Islam digalakkan memperbanyakkan amalan sunat sepanjang bulan pertama kalendar Islam itu yang juga termasuk dalam empat bulan diharamkan Allah berperang.

Amalan puasa sunat 10 Muharam mengambil iktibar daripada puasa dilakukan Nabi Musa sebaik terselamat daripada dikejar Firaun dan tenteranya, juga puasa Nabi Nuh yang diselamatkan daripada banjir besar.

Biarpun sunat puasa pada 10 Muharam lebih elok jika berpuasa sama ada pada 9 dan 10 atau 10 dan 11 Muharam bagi mengelakkan menyamai puasa orang Yahudi.

Ketika berhijrah dari Makkah ke Madinah, Rasulullah melihat orang Yahudi berpuasa pada hari Asyura lalu bertanya kenapa mereka berpuasa pada hari itu?

Orang Yahudi menjawab, mereka berpuasa sebagai mengenang hari Allah menyelamatkan Nabi Musa dan menenggelamkan Firaun dengan askarnya, maka Nabi Musa berpuasa sebagai tanda bersyukur kepada Allah pada hari itu.

Maka Rasulullah berkata: "Kamilah yang lebih berhak mengikut jejak Nabi Musa daripada kamu." Lalu Baginda berpuasa dan menyuruh sahabatnya agar berpuasa juga pada hari itu.

Kebetulan 10 Muharam tahun ini jatuh pada semalam, jadi sebaiknya kita berpuasa semalam dan hari ini atau hari ini dan esok. Ia bagi mengelakkan kita meniru puasa orang Yahudi.Tetapi jika hendak buat semalam saja pun tidak mengapa kerana niat kita lain dengan mereka.

Berpuasa pada Hari Asyura sangat besar pahala seperti hadis yang diriwayatkan Al-Imam Muslim daripada Abu Qatadah bahawa Rasulullah SAW bersabda bermaksud: "Akan digantikan kejahatan pada tahun sebelumnya dengan kebaikan (dengan sebab puasanya itu)."

Selain puasa sunat, amalan baik yang dikerjakan ulama ialah solat sunat 10 Muharam yang dilakukan selepas solat fardu kecuali selepas Subuh dan Asar.

Selepas solat sunat, digalakkan membaca doa bermaksud: "Allah yang memelihara, sebaik-baik penolong, sebaik-baik penjaga dan sebaik-baik memberi pertolongan” atau dengan membaca doa dianjurkan Saidina Ali yang memohon Allah menunjukkan jalan lurus, dijauhkan bala bencana dan dikabulkan hajat.

Begitu juga dengan amalan memasak bubur Asyura untuk disedekahkan, seeloknya tradisi itu diteruskan sebagai pengerat silaturahim antara saudara dan jiran tetangga.

Secara tidak langsung kegiatan seperti itu memupuk kemesraan dan menggalakkan orang kaya bersedekah kepada fakir miskin.

Masyarakat hari ini perlu peka dan meraikan Hari Asyura dengan amalan meningkatkan iman mereka.

INFO

Peristiwa penting
pada 10 Muharam


  • Nabi Adam bertaubat kepada Allah.
  • Nabi Idris diangkat Allah ke langit.
  • Nabi Nuh diselamatkan Allah keluar dari bahteranya sesudah bumi d ditenggelamkan selama enam bulan.
  • Nabi Ibrahim diselamatkan Allah daripada dibakar Raja Namrud.
  • Allah menurunkan kitab Taurat kepada Nabi Musa.
  • Nabi Yusuf dibebaskan dari penjara
  • Allah memulihkan penglihatan Nabi Yaakob.
  • Nabi Isa diangkat ke langit.
  • Nabi Ayub dipulihkan Allah daripada penyakit kulitnya
  • Nabi Yunus selamat keluar dari perut ikan nun, selepas berada di dalamnya selama 40 hari 40 malam.
  • Laut Merah terbelah dua untuk menyelamatkan Nabi Musa dan pengikutnya daripada tentera Firaun.
  • Allah mengampunkan kesalahan Nabi Daud.
  • Nabi Sulaiman dikurniakan Allah kerajaan yang besar.
  • Hari pertama Allah mencipta alam.
  • Hari pertama Allah menurunkan rahmat.
  • Hari pertama Allah menurunkan hujan.
  • Allah menjadikan Arasy.
  • Allah menjadikan Luh Mahfuz.
  • Allah menjadikan Malaikat Jibril.
  •  

     Oleh Wan Marzuki Wan Ramli

     

     
    Puasa sunat Asyura hapus dosa setahun
    01.28.07 (9:38 pm)   [edit]

    Apabila membicarakan tentang Hari Asyura yang jatuh pada tanggal 10 Muharam setiap tahun maka kita tidak dapat menghindarkan diri memperkatakan tentang peristiwa pembunuhan Saidina Hussain iaitu cucu Rasulullah s.a.w. Beliau juga anak kepada Saidina Ali yang dibunuh dengan kejam di sebuah tempat yang bernama Karbala di Iraq.

    Rentetan dari peristiwa Karbala ini timbul dua golongan yang menyambut hari Asyura secara ekstrem.

    Golongan pertama terdiri daripada pengikut Syiah al-Rafidhah yang menjadikan tarikh 10 Muharam setiap tahun sebagai hari untuk berkabung dan menunjukkan kesedihan demi untuk memperingati kematian Saidina Hussain ini.

    Ketika menyambut hari Asyura mereka memperlihatkan perbuatan-perbuatan umat jahiliah seperti memukul wajah serta tubuh badan mereka sehingga berdarah, menyiksa diri, berteriak serta menangis dan merobek-robek pakaian mereka.

     

    Meratap

    Ternyata perbuatan meratap serta menyiksa diri sendiri apabila ditimpa musibah dicela oleh syarak sebagaimana hadis-hadis di bawah.

    Nabi s.a.w. bersabda: Bukan golongan kami orang yang memukul pipi, merobek pakaian dan berdoa dengan doa-doa jahiliah. (Riwayat Bukhari, no: 1294)

    Rasulullah s.a.w. juga bersabda: Saya tidak bertanggungjawab kepada orang yang ditimpa musibah lalu menangis dengan suara yang keras [berteriak-teriak] atau menggondolkan rambutnya atau merobek bajunya. (Riwayat Muslim, no: 104).

    Golongan Syiah ini juga memperhebatkan lagi celaan mereka kepada para sahabat nabi pada hari Asyura. Mereka juga membacakan syair-syair serta hikayat-hikayat palsu menceritakan tentang peristiwa Karbala. Masih terdapat banyak lagi perkara yang bertentangan dengan syarak dilakukan oleh kelompok Syiah ini pada hari Asyura.

    Golongan kedua pula menyambut hari Asyura sebagai satu hari perayaan yang penuh dengan kebahagiaan. Kelompok ini terdiri daripada golongan ahli sunah yang jahil.

    Mereka yang memusuhi Saidina Ali serta ahli keluarganya, penjilat kerajaan Bani Umaiyah serta mereka yang membenci golongan Syiah al-Rafidhah dan menterjemahkan kebencian mereka itu dengan melakukan sesuatu yang berlawanan dengan Syiah iaitu menunjukkan kegembiraan pada hari Asyura.

    Mereka menyambut hari Asyura bagaikan suatu pesta, menghias bandar-bandar mereka dengan indah, memasak makanan tertentu lalu bersedekah kepada orang ramai. Menyediakan makanan yang lazat-lazat dan lain-lain lagi upacara yang mencerminkan ia suatu hari untuk bergembira seperti hari raya.

    Perbuatan kelompok ini juga bertentangan dengan syarak apatah lagi jika dilakukan bersempena dengan hari terbunuhnya Saidina Hussain, cucu kepada Rasulullah s.a.w. yang merupakan pemimpin kepada para pemuda yang menghuni syurga.

    Wajarkah suasana yang gembira dihubung-kaitkan dengan satu peristiwa hitam dalam sejarah umat Islam yang mengakibatkan syahidnya seorang yang memiliki keutamaan serta kedudukan yang tinggi bagi masyarakat Islam?

    Apatah lagi tidak pernah ada contohnya daripada Rasulullah s.a.w. untuk menyambut hari Asyura seperti hari perayaan yang besar malah para sahabat.

    Para salafussoleh serta imam- imam mazhab yang empat juga tidak pernah menganjurkan sambutan yang sedemikian rupa. Oleh itu sambutan sedemikian rupa merupakan suatu amalan bidaah yang sewajarnya di hindari oleh umat Islam.

    Rasulullah s.a.w. bersabda: Aku wasiatkan kepada kalian agar bertakwa kepada Allah, mendengar nasihat dan mentaatinya. Sesungguhnya manusia itu berkelompok-kelompok, siapa yang akan hidup di antara kalian kelak akan melihat adanya banyak perbezaan pendapat. Maka hendaklah kalian berpegang teguh kepada sunahku dan sunah para Khulafa al-Rasyidin. Berpegang teguhlah kepadanya dan peganglah ia erat-erat. Jauhilah segala perkara yang baru kerana setiap perkara yang baru itu adalah bidaah dan setiap bidaah adalah sesat. (Riwayat Imam Abu Dawud, no: 3991).

    Jika kedua-dua cara menyambut hari Asyura seperti di atas adalah suatu bentuk kesesatan dalam agama maka apakah yang sewajarnya dilakukan oleh umat Islam pada hari Asyura?

    Hari Asyura dan amalan-amalan sunah berkaitan

    Terdapat banyak kisah yang dihubung-kaitkan dengan hari Asyura. Namun sebenarnya ia tidak memiliki sandaran yang kukuh. Ternyata cerita yang sah berkaitan dengan hari Asyura hanyalah peristiwa Nabi Musa a.s diselamatkan dari tentera Firaun.

    Ini kerana kesahihan kisah tersebut berlaku pada hari Asyura diperakui oleh Rasulullah s.a.w. sendiri sebagaimana yang terdapat di dalam Shahih al-Bukhari:

    Nabi s.a.w. datang ke Madinah, dan dilihatnya orang-orang Yahudi berpuasa pada hari Asyura. Menurut mereka: Ini hari baik di saat mana Allah membebaskan Nabi Musa dari Firaun. Maka sabda Nabi s.a.w.: Kamu lebih berhak terhadap Musa daripada mereka maka berpuasalah. (Riwayat Bukhari no: 4680).

    Oleh itu sewajarnya kita tidak menghubung kaitkan apa-apa peristiwa berkaitan hari Asyura melainkan terdapat dalil yang sah daripada hadis-hadis Nabi s.a.w. Melalui hadis di atas ini juga dapat kita fahami bahawa amal ibadah khusus sempena hari Asyura yang diiktiraf oleh Rasulullah s.a.w. adalah ibadah puasa. Ternyata berpuasa pada hari Asyura ini memiliki kelebihan atau fadilat yang begitu besar.

    Ibnu Abbas r.a. pernah ditanya mengenai masalah berpuasa pada hari Asyura. Beliau menjawab: Aku tidak pernah melihat Rasulullah s.a.w. berpuasa sehari pada hari Asyura untuk mencari kelebihan atau fadilat yang tidak ada pada hari-hari selain hari ini. (Riwayat Bukhari, no: 2006).

    Berpuasa pada hari Asyura juga dapat menghapuskan dosa-dosa kita pada tahun sebelumnya. Ini sebagaimana sabda Rasulullah s.a.w.: Puasa tiga hari dari setiap bulan sejak dari Ramadan ke Ramadan berikutnya dianggap berpuasa setahun penuh. Sedangkan puasa hari Arafah pahalanya menurut Allah dapat menghapuskan dosa setahun sebelumnya dan setahun sesudahnya. Adapun puasa hari Asyura, pahalanya menurut Allah dapat menghapuskan dosa setahun sebelumnya. (Riwayat Muslim, no: 1163).

    Allah juga mengurniakan taufik-Nya kepada mereka yang berpuasa pada hari Asyura. Dari Ibnu Umar r.a, dia berkata: Tidaklah seorang hamba berpuasa di dalamnya (hari Asyura) kecuali puasanya akan memberikan taufik kepadanya. (Riwayat Bukhari no: 1892).

    Disunatkan juga untuk menambahkan puasa pada hari Asyura tersebut dengan berpuasa sehari sebelum ataupun sehari sesudahnya. Rasulullah s.a.w. memerintahkan hal ini bertujuan untuk menyelisihi amalan orang Yahudi.

    Rasulullah s.a.w. bersabda: Berpuasalah kalian pada hari Asyura dan berselisihlah dengan orang Yahudi di dalamnya, dan berpuasalah sehari sebelumnya atau sehari sesudahnya. (Riwayat Imam Ahmad, no: 2047).

    Rasulullah tidak pernah memerintahkan amalan ibadah lain untuk dikhususkan sempena hari Asyura melainkan ibadah berpuasa sebegini sahaja.

    Oleh itu sebaik-baiknya kita berusaha untuk mengamalkan sunah Nabi s.a.w. ini.

     
    Hijrah dan pengaruh perubahan
    01.24.07 (11:42 pm)   [edit]

    PERUBAHAN adalah sesuatu yang fitrah. Ia berlaku pada sepanjang sejarah hidup manusia. Kita tidak boleh mengelak dari perubahan. Apa yang berlaku pada hari ini akan menjadi tradisi pada keesokannya. Peristiwa yang terjadi pada masa lalu menjadi sejarah pada hari ini. Peristiwa Hijrah yang berlaku pada zaman Rasulullah s.a.w. adalah suatu sejarah. Tetapi peristiwa itu tetap hidup pada sepanjang sejarah umat Islam. Ada latar belakang mengapa hijrah itu terjadi. Ada kesan besar kepada umat Islam dan umat manusia hasil dari peristiwa tersebut.

    Hijrah Rasulullah s.a.w. dari Mekah ke Madinah adalah suatu peristiwa strategik.

    Strategik bermakna bagaimana Rasulullah s.a.w. menghadapi suatu suasana yang amat kritikal dalam perjuangannya menemui jalan keluar yang amat mencabar dan melaluinya dengan perancangan bijaksana yang dibantu oleh Allah s.w.t.

    Peristiwa ini juga memperlihatkan pandangan jauh dan futuristik Rasulullah s.a.w. terhadap perubahan dan peradaban.

    Membebaskan manusia dari belenggu jahiliah bukanlah suatu hal yang mudah. Fahaman nenek-moyang yang sudah lama terbina, semangat kekabilahan yang sudah berakar umbi, undang-undang rimba yang kuat mengatasi yang lemah yang sudah sekian lama berjalan adalah faktor-faktor penghalang yang menyebabkan pejuang-pejuang jahiliah merasa tergugat dan akhirnya mengambil keputusan untuk menghapuskan Rasulullah s.a.w. dari muka bumi.

    Rasulullah s.a.w. tidak panik dengan gugatan tersebut. Dengan pertolongan Allah, Rasulullah s.a.w. melakukan perancangan yang teliti bagaimana dapat melepasi dari gugatan tersebut. Saidina Ali pemuda yang memiliki keberanian dan kecekalan diletakkan di tempat tidurnya. Hijrah berlaku di waktu malam yang amat strategik dan mendapat reda dan pertolongan Allah.

    Saidina Abu Bakar dipilih sebagai teman setia yang amat dipercayai. Gua Thur di selatan Mekah dipilih sebagai tempat perlindungan strategik. Asma’ dan Abdullah anak Abu Kabar dipilih sebagai pembekal makanan dan merisik rahsia pergerakan musuh. Pemandu jalan yang bukan Islam dipilih memimpin jalan ke Madinah berlainan dari jalan biasa.

    Ia mengelirukan musuh dan akhirnya dengan bantuan Allah Rasulullah s.a.w. sampai ke Madinah dan mendirikan masjid sebagai lambang memulakan suatu perjuangan membebaskan manusia dari belenggu jahiliah.

    Fahaman dan amalan jahiliah berlaku di sepanjang zaman umat manusia. Ia berlaku pada zaman Rasulullah s.a.w. boleh berlaku pada masa kini dan boleh berlaku pada masa depan. Asas yang membezakan jahiliah dan tidak jahiliahnya sesuatu keadaan dan zaman ialah faktor akidah, iman dan takwa.

    Akidah yang benar memandu manusia tentang adanya Pencipta. Kewujudan Pencipta membina asas iman bahawa Pencipta berkuasa atas segala-gala. Darinya lahir keinsafan yang membawa kepada takwa bahawa dari Allah manusia datang dan kepada Allah manusia akan kembali. Kehidupan umat Islam tidak saja mengambil pertimbangan dunia tetapi juga mengambil pertimbangan akhirat.

    Apabila pertimbangan akhirat menjadi agenda utama, kehidupan di dunia akan menjadi lebih sempurna kerana manusia terus ingat akan hari pembalasan.

    Ia menyebabkan manusia lebih berhati-hati dan sentiasa dipandu untuk melakukan kebaikan dan mengelak dari melakukan kejahatan.

    Jahiliah pada zaman Rasulullah s.a.w. atau sebelumnya tidak bermakna tiadanya perubahan dan kemajuan dari sudut sains dan teknologi. Zaman Yunani, zaman Mesir Purba, zaman Mesopotamia umpamanya sains dan teknologi sudah mula berkembang. Kemajuan sains dan teknologi bukan ukuran mutlak bahawa manusia sudah bebas dari belenggu.

    Sains dan teknologi selamanya alat untuk menemukan manusia dan faktor alamiah dan menemukan manusia dengan ilmu alat untuk memudahkan kehidupan.

    Dalam tradisi Islam sains mendekatkan manusia dengan pencipta. Teknologi memudahkan manusia melakukan kebaikan dan membina kesejahteraan. Komputer sebagai alat komunikasi dan sistem maklumat tidaklah salah. Tetapi perisian dan program dalam komputer yang menyebabkan maklumat yang salah tersebar dan program yang lucah menjadi subur mencetuskan masalah kepada minda dan pemikiran manusia.

    Tanpa akidah yang memandu manusia ke arah keperkasaan dan kebesaran Allah, pengguna komputer akan merasakan komputer itu segala-gala. Pengguna yang mempunyai akidah mantap melihat komputer selamanya alat. Input, perisian dan program yang bermanfaat berkait rapat dengan matlamat. Alat dan matlamat yang baik bakal membangunkan minda dan ilmu yang baik dan ia akan membebaskan manusia daripada belenggu.

    Mengambil peristiwa Hijrah Rasullullah s.a.w. remaja Islam perlu mengambil iktibar. Amalan jahiliah yang wujud pada zaman Rasulullah boleh berlaku pada zaman kini. Apabila sebahagian remaja hari ini amat mengagumi budaya asing hingga menyebabkan cara hidup mereka menjadi lepas bebas ia bermakna amalan jahiliah itu sedang berlaku.

    Apabila terdapat dalam kalangan remaja yang terlibat dengan salahguna dadah, memuja idola dan diva, gemar melalui hidup secara berpoya-poya, ia juga menggambarkan elemen jahiliah sedang mencengkam.

    Faham jahiliah tidak melihat agama itu penting. Pedoman baik buruk akan sesuatu dianggap sebagai ketinggalan zaman. Untuk menjadi moden dan maju remaja dikatakan harus melepaskan diri dari ikatan salah-benar dan dosa-pahala.

    Untuk menjadi global, apa yang datang dari Barat adalah lambang maju dan moden. Yang lahir dari tradisi dan agama dianggap kolot dan ketinggalan zaman. Oleh itu untuk menjadi remaja yang maju dan terkini, Baratlah menjadi segala-gala.

    Bukanlah Barat yang harus dibenci oleh remaja. Di Barat terdapat sumber ilmu dan teknologi yang bermanfaat. Tetapi agenda pembaratan yang menyebabkan ramai remaja kita terjebak seharusnya menimbulkan kewaspadaan. Lebih-lebih lagi mengambil faktor kebebasan Barat sebagai ukuran hidup yang maju boleh menjebak remaja kepada elemen-elemen jahiliah yang menjauhkan remaja dari agama.

    Oleh itu, semangat hijrah yang dirintis oleh Rasulullah harus hidup pada jiwa remaja di sepanjang zaman. Cintakan ilmu-ilmu yang bermanfaat dan membina jiwa tadabbur yang tinggi untuk kesejahteraan manusia adalah hijrah yang amat bermakna. Menjaga kepentingan akhlak dan tingkahlaku adalah pra syarat ke arah membina peribadi yang baik. Berhijrah ke arah pembinaan akhlak yang tinggi adalah asas untuk perubahan yang bermakna.

    Memiliki upaya menyaring yang tinggi terhadap faktor baik dan buruk adalah syarat penting untuk berinteraksi dengan kehidupan dan zaman. Darinya harus mendorong remaja untuk membina kekuatan ilmu, akhlak dan keterampilan supaya tenaga muda dapat digerakkan ke arah perubahan dan kemajuan yang lebih bermakna.

    Jiwa hijrah ke arah kebaikan perlu ada di kalangan remaja. Menebus kehinaan umat Islam mesti bermula dengan ilmu. Ilmu yang benar dan bermanfaat bakal membimbing remaja ke arah hidup yang fitrah. Mengembalikan tradisi sains dan teknologi yang Islami sewajarnya menjadi tekad remaja supaya pendidikan sains bakal mendekatkan manusia dengan pencipta dan membangunkan teknologi yang memberi menafaat kepada umat manusia.

    Jiwa hijrahlah yang mampu mencetuskan kesedaran dan keinsafan di kalangan remaja bahawa tanpa akidah yang benar, iman yang mantap dan takwa yang tinggi tidak mungkin hijrah dalam erti kata yang sebenar boleh berlaku. Hijrah yang didukung oleh kekuatan ilmu, akhlak dan amal bakal merobah corak hidup manusia ke arah perubahan yang lebih bermakna. Hijrah seperti inilah yang amat diperlukan oleh remaja dan umat manusia.

    - PROF. DR. SIDEK BABA ialah pensyarah di Universiti Islam Antarabangsa Malaysia (UIAM).

     
    Islam galakkan tangisan syukur, kesal
    01.24.07 (5:25 pm)   [edit]

    MANUSIA sebagai makhluk ciptaan Allah mempunyai pelbagai bentuk sifat dan tabiat yang menjadi keistimewaan dan kelebihan yang Allah jadikan. Antaranya termasuk berkaitan dengan emosi seperti perasaan gembira, sedih, kecewa dan sebagainya.

    Perasaan sedih sering kali timbul akibat datangnya gangguan emosi terhadap sesuatu perkara. Apabila keadaan ini berlaku, manusia dengan mudah menitiskan air mata atau dengan kata lain, menangis. Sesetengah daripada kita beranggapan, apabila seseorang itu menangis, ia satu perbuatan menjatuhkan maruah dan menunjukkan kelemahan diri sendiri. Anggapan sebegini sebenarnya tidak tepat kerana ajaran Islam sendiri menentukan jenis tangisan yang dilarang dan dibenarkan agama.

    Antara jenis tangisan yang dibenarkan malah digalakkan dalam ajaran Islam termasuk:



    l Ketika melahirkan rasa kesyukuran kepada Allah.

    Orang beriman dan bertakwa akan sentiasa bersyukur dengan apa yang dikurniakan Allah kepadanya. Golongan ini sama sekali tidak pernah mengeluh, malah sentiasa reda dengan apa mereka terima. Kita dapati orang sebegini ada kalanya menitiskan air mata apabila menerima rahmat dan nikmat itu.



    l Kerana menyesali perbuatan dan dosa dilakukan.

    Tangisan penyesalan biasanya terjadi apabila seseorang yang melakukan dosa, menyedari dan menyesali perbuatannya dengan bersungguh-sungguh. Ekoran daripada penyesalan itu, maka timbul rasa sedih mendalam yang akhirnya akan menitiskan air mata.



    l Apabila bertambah keimanan kepada Allah.

    Iman tertanam dalam hati akan terus subur dan mekar apabila disirami dengan ayat al-Quran dibaca dengan penuh penghayatan sehingga boleh menyebabkan seseorang itu menitiskan air mata.



    l Timbul dari rasa khusyuk dan tawaduk.

    Tangisan seperti ini boleh terjadi apabila seseorang itu khusyuk dalam beribadat. Air mata menitis kerana menyedari betapa diri begitu kerdil ketika berhadapan dengan penciptaNya.



    * Bimbang terputusnya rahmat Allah.

    Suatu hal yang menyedihkan hati dan amat dibimbangi oleh orang-orang yang beriman ialah terputusnya kebajikan dan rahmat dari Allah. Apabila keadaan ini berlaku, ia nya boleh meroboh suasana hati dan perasaan sehingga menjadi sedih dan terharu.



    * Apabila terselamat dari kesesatan dan menemui kebenaran.

    Ada kala air mata seseorang itu akan menitis apabila ditunjukkan oleh Allah SWT jalan yang benar setelah sekian lama hanyut dalam kelalaian atau kesesatan. Bagi yang berada dalam situasi sedemikian, akan terus menangis dan tangisannya bukan kerana merasa sedih tetapi kerana terlalu gembira dengan hidayah yang diterima itu.


    Oleh Ahmad Tarmizi Zakaria
     
    Keunggulan Rasulullah diintai orientalis
    01.22.07 (8:14 pm)   [edit]

    NABI Muhammad SAW diutuskan untuk membawa rahmat kepada seluruh umat manusia sepanjang zaman. Baginda memimpin melalui risalah tauhid yang diwahyukan oleh Maha Pencipta. Apa yang dibawakan Nabi Muhammad bukan berbentuk ideologi atau falsafah seperti diamalkan penganut agama lain.

    Nabi Muhammad diutuskan bertujuan menyelamatkan manusia daripada jatuh ke jurang kecelakaan dan kemusnahan. Manusia yang hidup tanpa risalah tauhid menjalani kehidupan seumpama masyarakat haiwan yang mementingkan kepuasan nafsu semata-mata.

    Kelahiran Nabi Muhammad dinanti-nantikan oleh ahli kitab dari kalangan penganut agama Yahudi dan Kristian, dua agama yang asalnya disebut agama langit. Dalam kitab Injil dan Taurat disebut mengenai kelahiran nabi akhir zaman yang akan membawa rahmat ke seluruh alam.

    Ahli kitab kedua-dua agama itu percaya akan lahir seorang nabi yang akan menyatukan seluruh umat Islam dalam satu pegangan tauhid yang sama sehingga ke hari kiamat. Mereka bersedia untuk menjadi pengikut nabi yang bakal lahir itu sebagai kesinambungan kepercayaan yang diyakini sebelum itu.

    Namun, disebabkan Nabi Muhammad bukan di kalangan keturunan Yahudi maupun Nasrani, banyak di kalangan ahli kitab itu mengetepikan kepercayaan mereka yang dipegang sekian lama.

    Satu keistimewaan paling kerap diperkatakan mengenai Nabi Muhammad ialah berkaitan ciri kepemimpinannya. Semua pihak mengakui ketokohan kepemimpinan Nabi Muhammad yang tidak ada tolok bandingan. Kepemimpinan Nabi Muhammad yang terbilang tidak mungkin ditandingi individu di dunia ini, sebelum dan selepas baginda.

    Paling mengagumkan, kepimpinan Nabi Muhammad terbaik dalam semua bidang. Tidak ada pemimpin lain yang dapat melakukan tanggungjawab secara serentak dalam pelbagai tugas dengan begitu sempurna.

    Nabi Muhammad menjadi ketua agama, ketua negara, ketua hakim, panglima perang, perancang ekonomi, ketua pendidik, diplomat terkemuka dan suami serta bapa mithali. Pendeknya, kemampuan Baginda menepati gelaran ‘pemimpin agung’ sepanjang zaman seperti diakui semua pihak.

    Justeru, Nabi Muhammad adalah ‘role model’ contoh ikutan terbaik. Sebagai penganut agama Islam, sesiapa yang mengikuti apa dilakukan Nabi Muhammad adalah dianggap melakukan sebahagian daripada sunnah.

    Kekuatan dan kejayaan kepemimpinan Nabi Muhammad bukan diukur pada banyaknya jawatan dipegang. Apa yang dinilai sebenarnya ialah berdasarkan kejayaan dicapai secara fizikal mau pun spritual. Setiap kejayaan itu melalui tahap tertentu yang melambangkan sunnatullah, dan bukannya dicapai secara luar biasa.

    Dengan kata lain, apa yang dilakukan dan dicapai oleh Rasulullah boleh dijadikan ikutan. Nabi Muhammad juga manusia biasa dan mengalami keadaan sama seperti orang lain.

    Sebagai manusia biasa Nabi Muhammad juga turut berasa kelaparan jika tidak makan, mengalami sakit jika bahagian badan terluka dan turut berasa kepenatan. Baginda juga memerlukan kepada apa yang diperlukan oleh orang biasa. Baginda juga berdepan dengan kegagalan dan kesukaran.

    Allah mengutuskan nabi di kalangan orang biasa agar mampu dijadikan contoh. Sekiranya nabi adalah kalangan manusia yang dikurniakan 'super power' atau kuasa istimewa, sudah tentu manusia biasa tidak mampu untuk mengikuti apa yang dilakukan.

    Kejayaan Rasulullah memimpin manusia dari zaman kegelapan kepada zaman kecemerlangan, sikap perpecahan kepada perpaduan, miskin jiwa menjadi kaya jiwa dan percaya kepada kebatilan bertukar mengakui keesaan Allah, terus diperkatakan sepanjang zaman.

    Sirah Rasulullah sentiasa dijadikan bahan kajian untuk mendapat manfaat daripadanya. Kajian itu turut dilakukan ahli falsafah, ilmuan dan pemikir bukan Islam. Mereka membaca, mengkaji dan membuat rumusan mengenai sirah Rasulullah secara berulang. Semakin banyak yang dikaji, semakin menambahkan lagi rasa kagum terhadap kemampuan Rasulullah.

    Namun, sebilangan orientalis yang terang memusuhi Islam membuat rumusan sebaliknya, dengan harapan mencemarkan kedudukan Nabi Muhammad. Sebab itu, kadang-kala kedengaran tuduhan buruk dilemparkan kepada Rasulullah.

    Niat buruk itu tidak langsung mencemarkan keunggulan Nabi Muhammad dan Islam yang dibawa oleh Baginda. Bahkan, cerita buruk ini mendorong lebih banyak yang ingin mendapat maklumat sebenar mengenai Nabi Muhammad.
     Oleh Lokman Ismail
     
    Muhasabah cara bentuk peribadi
    01.21.07 (5:42 pm)   [edit]

    Semangat hijrah untuk tinggalkan keburukan mampu perkasakan ummah

    TAHUN Hijrah 1427 meninggalkan kita. Kini bermulalah tahun baru 1428 Hijrah. Ia bermakna helaian catatan perjalanan hidup kita bagi tahun 1427 turut berlalu tanpa dapat kita pastikan apakah ia dipenuhi dengan perkara kebaikan atau sebaliknya. Ia juga bermakna usia kita semakin bertambah.

    Bagi seorang muslim yang prihatin, pastinya perjalanan hidup yang lalu sentiasa di muhasabah dan direnung. Agar perjalanan seterusnya benar-benar berada di landasan yang betul dan tidak terpesong. Ia kerana jiwa manusia sangat cepat berubah, ada ketika baik dan ada ketika tidak. Malah, kecenderungan untuk melakukan perkara terlarang lebih kuat dorongannya.

    Justeru, menjadi suatu kemestian bagi kita yang sentiasa mengharapkan keredaan Allah membuat muhasabah bagi menilai sejauh mana peningkatan diri kita khususnya di dalam melaksanakan perintah Allah dan menuruti sunnah Nabi.

    Jika di dalam urusan kerja, kita dirisaukan dengan penilaian prestasi kerja tahunan di dalam mencapai sasaran kerja yang ditetapkan. Dengan harapan mendapat pergerakan gaji dan juga anugerah pekerja cemerlang yang dibuat sekali setahun. Maka mengapa pula sasaran kerja dan amalan sepanjang hayat yang digariskan Allah bagi memperoleh anugerah kecemerlangan yang tiada nilainya kurang diberikan perhatian.

    Muhasabah adalah perkataan bahasa Arab bermaksud penilaian diri. Berdasarkan Imam al-Mawardi: "Muhasabah ialah seorang manusia menilai dirinya pada malam terhadap apa saja dilakukannya pada siang hari. Jika ia melakukan perkara yang terpuji maka ia akan meneruskannya dan jika ia melakukan perbuatan tercela, maka ia akan meninggalkannya dan tidak akan mengulanginya lagi".

    Imam Ibnu Qayyim rahimahullah pula berkata: "Muhasabah ialah seorang hamba membezakan antara apa yang dibuat, sama ada mendapat pahala atau mendapat dosa, pekerjaan yang mendapat pahala akan diteruskan, manakala yang mendatangkan dosa ditinggalkan. Kerana ia umpama musafir yang bermusafir dalam perjalanan yang tidak akan kembali lagi".

    Kepentingan Muhasabah adalah suatu amalan yang sangat baik diamalkan kerana ia mempunyai faedah dan kebaikan yang akan memperkasa mukmin bertakwa. Antara kebaikannya ialah:

  • Dengan bermuhasabah setiap individu akan sentiasa waspada terhadap segala tingkah lakunya. Muhasabah akan membuatkan individu muslim sentiasa mempunyai ruang menginsafi diri dan bimbang akan nasib yang akan menimpanya di akhirat kelak. Manakala akibat dari meninggalkan muhasabah menyebabkan ramai yang alpa dan terus hilang rasa bimbang akan hari penghisaban yang akan dikendalikan oleh Allah, di mana kita tidak mempunyai peluang untuk menipu dan mengelak dari soalan berkenaan dengan amalan sepanjang kehidupan kita. Mereka akan terus tenggelam dan bergelumang dengan maksiat.

  • Muhasabah juga akan membuka ruang kepada setiap individu mengenali kelemahan diri sendiri serta kekurangan yang ada. Kerana barang siapa yang mampu mengenali kelemahan diri sendiri pasti akan dapat memupuk sifat rendah diri dan tawaduk. Ia juga akan dapat berusaha memperbaiki diri dengan menumpukan pada kelemahan yang sudah dikenal pasti pada dirinya.

  • Muhasabah diri juga akan membuka minda kita mengenali betapa besarnya nikmat dan kurniaan dari Allah kepada setiap individu. Di samping kita akan bertemu dengan kelemahan diri kita juga pastinya akan dapat membuat perbandingan betapa besarnya kurniaan Allah Taala kepada kita seperti nikmat sihat, zuriat, harta benda, pelajaran dan sebagainya yang tidak mampu kita hitung. Ia akan menjadikan individu bermuhasabah sentiasa bersyukur dan tunduk kepada ajaran Allah.

  • Muhasabah juga dapat menyucikan diri dari sebarang sifat hati yang tercela seperti riak (suka menunjuk-nunjuk), takabbur (rasa bongkak atau besar diri), hasad (dengki) dan sebagainya. Muhasabah diri akan dapat menyedarkan kita betapa busuknya hati kita yang tidak pernah puas hati dengan rakan sekerja dan kawan-kawan. Sifat tercela ini kemudian digantikan dengan hati dan jiwa yang bersih dengan perasaan rendah diri, hormat kepada orang lain dan merasakan gembira dengan nikmat yang dikecapi oleh mereka.

  • Muhasabah diri akan dapat menghidupkan jiwa yang mati dan akan dapat menyuburkan rasa tanggungjawab kepada diri sendiri serta dapat membuat petimbangan yang teliti terhadap setiap gerak geri dan tingkah laku.

    Kaedah muhasabah terbahagi kepada dua, iaitu pertama; Muhasabah sebelum melakukan sesuatu pekerjaan. Iaitu apabila ingin melakukan sesuatu perkara perlu dinilai terlebih dahulu sama ada wajar ia memenuhi tuntutan syariat atau tidak manakala kedua; melakukan sesuatu pekerjaan. Iaitu menilai sejauh mana pekerjaan yang dilakukan memenuhi tuntutan syarak atau sebaliknya.

    Jenis Muhasabah - kecuaian melakukan amal ibadat dan ketaatan kepada Allah seperti solat, puasa, haji; mengapa saya tinggalkan solat subuh sedangkan ia wajib; saya tidak mengerjakan Haji sedangkan duit sudah cukup dan sudahkah saya laksanakan tugas dakwah dengan menuruti sunnah Nabi Muhammad?

  • Muhasabah diri mengenai maksiat dan dosa yang dilakukan. Iaitu dengan mengajukan soalan berikut kepada diri sendiri, antaranya mengapa saya malas solat berjemaah; mengapa wanita yang bukan muhrim saya, sedangkan hukumnya adalah haram?

    Hijrah adalah lambang perubahan dalam pelbagai aspek bagi kehidupan seorang muslim adalah berteraskan kepada muhasabah. Kerana dengan muhasabah kita mampu melihat sejauh mana pencapaian yang dilakukan dan apakah kekurangan yang menjadi punca kelemahan ummah.
  •  

     Oleh Zuridan Mohd Daud

     

     

     
    Menolak takdir bawa kepada kekufuran
    01.21.07 (4:40 pm)   [edit]

    SESEORANG meminta kepada Allah hidupnya berkat dan selamat, lalu Allah memilih untuknya takdir yang terbaik. Tetapi dia marah dan enggan menerima takdir Allah itu, dia berkata: "Mengapa Tuhan memberiku harta yang sedikit sedangkan saudaraku yang lain kaya-raya? Tuhan tidak adil! Na'uzubillah.

    Sepasang suami isteri lama berkahwin, berbelas tahun menanti kehadiran anak. Sedangkan jiran mereka mempunyai sembilan anak perempuan. Akhirnya, mereka pun dikurniakan seorang bayi perempuan yang comel. Ketentuan Allah tiba, bayi mereka meninggal kerana sakit kuat. Ayah memandang langit mencari jawapan atas takdir Tuhan, dia berkata: "Mengapa tidak Engkau ambil anak mereka yang ramai itu, malah anak kami yang seorang juga Engkau mahu, di mana keadilan-Mu ya Tuhan? Na'uzubillah.

    Membenci takdir boleh membawa kepada kekufuran. Membenci maksudnya marah, tidak suka, menolak, menyatakan tidak puas hati dan yang paling ringan ialah mengeluh tanda tidak selesa. Sebaik-baik orang yang bercinta ialah dia reda dengan perbuatan kekasihnya. Apakah perbuatan Allah semuanya baik untuk makhluk-Nya? Ya! Sesungguhnya Allah tidak pernah menzalimi hamba-Nya melainkan mereka memilih kezaliman itu sendiri. Ada hikmah di sebalik musibah dan mesti ada kebaikan yang masih tersembunyi bagi mereka yang reda dan sabar. Segala takdir manusia itu berada pada ketentuan ilmu Allah, tiada seorang hamba mengetahui rahsia takdir Allah.

    Kisah di dalam surah al-Kahfi banyak memberi pengajaran kepada diri kita. Kisah ilmu Allah yang dikurniakan kepada Khidr, beliau memiliki pengetahuan yang luas tentang qada dan qadar Allah kepada makhluknya. Menurut hadis yang diriwayatkan al-Imam al-Bukhari yang mafhumnya: "Ketika Nabi Musa berucap kepada kaumnya, seorang bertanya: Adakah sesiapa di muka bumi ini yang lebih ilmunya daripada tuan? Nabi Musa menjawab: "Tidak ada." Lalu ditegur Allah: "Ada seorang hamba-Ku yang lebih ilmunya daripada kamu."

    Kemudian Nabi Musa menghadap Khidr untuk berguru kepadanya. Dalam perjalanan mereka berdua berlaku beberapa perkara pelik dilakukan oleh Khidr. Yang pertama, beliau membocorkan perahu milik orang miskin, kedua membunuh seorang pemuda dan ketiga membangun tembok yang hampir runtuh tanpa meminta upah padahal di bandar itu penduduknya amat bengis terhadap mereka berdua.

    Perbuatan Khidr jika dilihat dengan mata kasar amat menggusarkan hati Nabi Musa. Beliau sedih dan terkejut menyaksikan perbuatan Khidr itu. Musa menegur Khidr supaya dia menerangkan hikmah di sebalik peristiwa itu. Khidr berasa sampailah waktu perpisahannya dengan Musa.

    Dia berkata melalui firman Allah bermaksud: "Adapun perahu itu, ia adalah kepunyaan orang miskin bekerja di laut. Oleh itu, aku bocor dengan tujuan mencacatkan. Kerana di belakang mereka ada seorang raja mahu merampas setiap perahu yang tidak cacat.

    Adapun pemuda itu, kedua ibu bapanya adalah orang beriman, maka kami bimbang bahawa ia akan mendesak mereka melakukan perbuatan zalim dan kufur.

    Oleh itu, kami berharap supaya Tuhan menggantikan bagi mereka anak yang lebih baik darinya, yang bersih jiwanya dan mesra kasih sayangnya. Adapun tembok itu, ia dimiliki oleh dua orang anak yatim di bandar itu yang di bawahnya ada harta terpendam dan bapa mereka pula orang yang soleh.

    Maka, Tuhanmu menghendaki supaya mereka cukup umur dan dapat mengeluarkan harta mereka yang terpendam itu, sebagai suatu rahmat dari Tuhan, dan aku tidak melakukannya menurut pemikiranku sendiri. Demikianlah penjelasan maksud dan tujuan perkara-perkara yang engkau (Musa) tidak dapat bersabar mengenainya." Surah al-Kahfi: Ayat 79-82.

    Demikianlah rahsia ilmu Allah yang maha luas dan maha dalam. Tiada seorang makhluk pun boleh memahami semua dengan tepat. Qada dan qadar Allah itu semuanya baik belaka. Itulah pilihan Allah untuk kita.

    Hasan al-Basri pernah berkata: Wahai anak Adam, Musa menegur Khidr sebanyak tiga kali, sehingga Khidr berkata: "Inilah saat perpisahanku denganmu." Itu yang dilakukan oleh Khidr kepada Musa, maka bagaimanakah dengan Tuhanmu yang kamu menentangnya berulang kali dalam sehari? Apakah kamu tidak takut Tuhan akan berkata: Inilah saat perpisahan-Ku denganmu.?"

    Sikap yang terbaik adalah akur dan reda atas apa saja ketentuan. Namun, jangan bersikap menyerah kepada takdir tanpa berikhtiar kerana itu adalah penipuan yang berbahaya. Syarat reda mestilah dengan ikhtiar. Hal ini pernah terjadi pada zaman Khalifah Umar bin al-Khattab. Beliau dan tenteranya hendak memasuki suatu bandar di Syria. Namun, tertahan oleh wabak menular yang menyerang bandar itu. Panglima tenteranya, Saidina Abu Ubaidah berkata: Apakah tuan lari dari qadak Allah? Umar menjawab: "Ya, kita lari dari qada Allah kepada qadar Allah juga."

    Makna qada adalah ketentuan yang terjadi dan qadar adalah ketentuan yang belum terjadi. Untuk itu, ikhtiar adalah wajib bagi mereka yang mengaku reda atas ketentuan Allah. Dan jangan sekali-kali memilih atas apa Allah pilihkan untuk hidup kita. Seperti sabda baginda bermaksud: "Apabila kamu ditimpa musibah janganlah kamu katakan: "Sungguh seandainya saya berbuat begini, nescaya akan jadi begini dan begini, tetapi katakanlah: Ini semua ketentuan Allah dan apa yang Dia kehendaki pasti terjadi, sesungguhnya ungkapan 'seandainya' itu membuka peluang bagi perbuatan syaitan." Hadis riwayat Imam Muslim.
     Oleh Dr Jahaya Jaya

     
    Benci takdir boleh bawa kekufuran
    01.14.07 (7:50 pm)   [edit]

    SESEORANG meminta kepada Allah supaya hidup berkat dan selamat, lalu Allah memilih untuknya takdir yang terbaik. Tetapi dia marah dan enggan menerima takdir Allah, dengan berkata: "Mengapa Tuhan memberiku harta yang sedikit sedangkan saudaraku yang lain kaya raya? Tuhan tidak adil! Na'uzubillah.

    Sepasang suami isteri lama berkahwin, berbelas-belas tahun menanti kehadiran anak. Sedangkan jiran mereka mempunyai sembilan anak perempuan. Akhirnya mereka pun dikurniakan seorang bayi perempuan yang comel. Ketentuan Allah tiba, bayi mereka meninggal kerana sakit kuat. Ayah memandang langit mencari jawapan atas takdir Tuhan, dia berkata: "Mengapa tidak Engkau ambil anak mereka yang ramai itu, malah anak kami yang seorang juga yang Engkau mahu, di mana keadilan-Mu ya Tuhan? Na'uzubillah.

    Membenci takdir boleh membawa kepada kekufuran. Membenci maksudnya marah, tidak suka, menolak, menyatakan tidak puas hati dan yang paling ringan ialah mengeluh tanda tidak selesa.

    Sebaik-baik orang yang mencinta ialah dia reda dengan perbuatan kekasihnya. Apakah perbuatan Allah semuanya baik untuk makhluk-Nya? Ya! Sesungguhnya Allah tidak pernah menzalimi hamba-Nya melainkan mereka memilih kezaliman itu sendiri. Ada hikmah di sebalik musibah dan mesti ada kebaikan yang masih tersembunyi bagi mereka yang reda dan sabar. Segala takdir manusia itu berada pada ketentuan ilmu Allah, tiada seorang hamba pun mengetahui rahsia takdir Allah.

    Kisah di dalam surah al-Kahfi banyak memberi pengajaran kepada diri kita. Kisah ilmu Allah dikurniakan kepada Khidr, beliau memiliki pengetahuan luas tentang qada dan qadar Allah kepada makhluknya.

    Menurut hadis yang diriwayatkan oleh al-Imam al-Bukhari yang mafhumnya: "Ketika Nabi Musa berucap kepada kaumnya, seorang bertanya: Adakah sesiapa di muka bumi ini yang lebih ilmunya daripada tuan? Nabi Musa menjawab: "Tidak ada." Lalu ditegur oleh Allah: "Ada seorang hamba-Ku yang lebih ilmunya daripada kamu."

    Kemudian Nabi Musa menghadap Khidr untuk berguru kepadanya. Dalam perjalanan mereka berdua berlaku beberapa perkara pelik yang dilakukan oleh Khidr. Yang pertama beliau membocorkan perahu milik orang miskin, kedua membunuh seorang pemuda dan ketiga membangun tembok yang hampir runtuh tanpa meminta upah pada hal di bandar itu penduduknya amat bengis terhadap mereka berdua.

    Perbuatan Khidr jika dilihat dengan mata kasar amat menggusarkan hati Nabi Musa. Beliau sedih dan terkejut menyaksikan perbuatan Khidr itu. Musa menegur Khidr supaya dia menerangkan hikmah di sebalik peristiwa itu. Khidr rasa sampailah waktu perpisahannya dengan Musa.

    Dia berkata melalui firman Allah bermaksud: "Adapun perahu itu, ia adalah kepunyaan orang-orang miskin yang bekerja di laut. Oleh itu aku bocorkan dengan tujuan mencacatkannya. Kerana di belakang mereka ada seorang Raja yang mahu merampas setiap perahu yang tidak cacat. Adapun pemuda itu, kedua ibu bapanya adalah orang beriman, maka kami bimbang bahawa ia akan mendesak mereka melakukan perbuatan zalim dan kufur.

    “Kami berharap supaya Tuhan menggantikan bagi mereka anak yang lebih baik darinya, yang bersih jiwanya dan mesra kasih sayangnya. Adapun tembok itu, ia dimiliki oleh dua anak yatim di bandar itu yang di bawahnya ada harta terpendam dan bapa mereka pula orang yang salih. Maka Tuhanmu menghendaki supaya mereka cukup umur dan dapat mengeluarkan harta mereka yang terpendam itu, sebagai suatu rahmat dari Tuhan, dan aku tidak melakukannya menurut pemikiranku sendiri. Demikianlah penjelasan mengenai maksud dan tujuan perkara yang engkau (Musa) tidak dapat bersabar mengenainya." Surah al-Kahfi: Ayat 79-82.

    Demikian rahsia ilmu Allah yang maha luas dan maha dalam. Tiada seorang makhluk pun boleh memahami semuanya dengan tepat. Qada dan qadar Allah itu semuanya baik belaka. Itulah pilihan Allah untuk kita. Hasan al-Basri pernah berkata: Wahai anak Adam, Musa menegur Khidr sebanyak tiga kali, sehingga Khidr berkata: "Inilah saat perpisahanku denganmu." Itu yang dilakukan oleh Khidr kepada Musa, maka bagaimanakah dengan Tuhanmu yang kamu menentangnya berulang kali dalam sehari? Apakah kamu tidak takut Tuhan akan berkata: Inilah saat perpisahan-Ku denganmu.?"

    Sikap yang terbaik adalah akur dan reda atas apa saja ketentuannya. Tetapi jangan bersikap menyerah kepada takdir tanpa berikhtiar kerana itu adalah penipuan yang berbahaya. Syarat reda mestilah dengan ikhtiar. Hal ini pernah terjadi pada zaman Khalifah Umar al-Khattab.

    Beliau dan tenteranya hendak memasuki suatu bandar di Syria. Tetapi tertahan oleh wabak menular yang menyerang bandar itu. Panglima tenteranya, Saidina Abu Ubaidah berkata: Apakah tuan lari daripada qada Allah? Umar menjawab: "Ya, kita lari daripada qada Allah kepada qadar Allah juga."

    Makna qada adalah ketentuan yang terjadi dan qadar adalah ketentuan belum terjadi. Untuk itu ikhtiar adalah wajib bagi mereka yang mengaku reda atas ketentuan Allah Dan jangan sekali-kali memilih atas apa yang Allah pilihkan untuk hidup kita.

    Sabda baginda bermaksud: "Apabila kamu ditimpa musibah janganlah kamu katakan: "Sungguh seandainya saya berbuat begini, nescaya akan jadi begini dan begini, tetapi katakanlah: Ia semua ketentuan Allah dan apa-apa yang Dia kehendaki pasti terjadi, sesungguhnya ungkapan 'seandainya' itu membuka peluang bagi perbuatan syaitan." Hadis riwayat Imam Muslim.
     Bersama Dr Juanda Jaya

     
     
    Sabar hadapi ujian bukti insan beriman
    01.14.07 (7:28 pm)   [edit]

    MENGUNGKAP perkataan sabar, tenang, jangan marah, jangan ikut hati, jangan gopoh dan reda kepada orang lain memang mudah. Itulah kata-kata azimat sebagai tanda simpati dan nasihat kepada individu berdepan musibah atau keadaan memerlukan kesabaran untuk menghadapinya.

    Namun, ternyata amat payah untuk diri sendiri mengamalkan sikap sabar. Ketika menghadapi musibah atau keadaan yang mengatasi daya ketahanan fizikal dan mental, memang amat sukar untuk bersabar. Sebab itu, individu dalam keadaan sedemikian memerlukan sokongan emosi daripada orang lain.

    Sabar bererti menahan diri ketika mengalami penderitaan, musibah, keadaan tidak diingini dan kegagalan. Sifat sabar juga diperlukan agar tidak mengikut kehendak hati atau perasaan mendorong melakukan perbuatan mendatangkan keburukan.

    Tanda sabar juga ialah apabila sanggup melakukan perkara sukar demi untuk mendapat kebaikan. Istiqamah dan kesungguhan yang tinggi, serta sanggup menghadapi tempoh panjang dalam melakukan sesuatu tugas juga termasuk dalam erti sabar.

    Dari sudut agama, sabar dikategorikan kepada tiga perkara. Pertama, menahan diri daripada perkara disukai, tetapi dilarang oleh agama. Kedua, menahan diri daripada keadaan tidak disukai atau kesusahan yang dihadapi. Manakala ketiga, melakukan perintah Allah.

    Sifat sabar amat dituntut dalam Islam. Banyak kebaikan diperoleh oleh mereka yang bersabar. Sesungguhnya Allah tidak mensia-siakan amalan hamba-Nya yang bersabar dengan diganjar kebaikan di dunia dan akhirat.

    Banyak perbuatan disukai manusia tetapi ditegah oleh agama. Perbuatan itu tentunya mendatangkan keburukan jika dilakukan. Islam menetapkan peraturan hidup agar menjauhkan perbuatan mendatangkan keburukan.

    Nafsu manusia mudah tertarik kepada perbuatan mendatangkan kepuasan sementara. Bisikan syaitan menyebabkan nafsu cenderung melakukan perbuatan yang ditegah. Individu yang tidak melakukan perbuatan itu akan terasa rugi, sedangkan orang lain menikmatinya dengan rasa puas.

    Justeru, sifat sabar penting untuk menghalang diri turut terbabit perbuatan mendatangkan keburukan itu. Kesabaran dalam kategori ini ada manifestasi kepada tanda bertakwa, yakini takut melakukan perbuatan yang ditegah.

    Bersabar dalam kategori kuat menghadapi musibah banyak situasinya. Perkara yang menyusahkan keadaan fizikal dan rohani kerap dihadapi silih berganti. Kematian, penyakit berbahaya, kerugian harta benda dan kejadian tidak menyenangkan mesti dihadapi dengan sabar.

    Kesabaran menghadapi ujian dapat memberi ketenangan menerima ujian daripada Allah. Banyak kebaikan terselindung di sebalik sesuatu kejadian. Terimalah itu sebagai qada dan qadar ditentukan oleh Allah.

    Namun, kita wajib berusaha mengelak daripada ditimpa perkara buruk. Melakukan tindakan pencegahan adalah sebahagian daripada usaha yang mendapat balasan kebaikan. Kita tidak boleh berserah kepada takdir semata-mata. Dikatakan takdir hanya selepas usaha dilakukan.

    Musibah antara cara Allah menguji kesabaran hamba-Nya. Firman Allah bermaksud: “Dan sesungguhnya akan Kami berikan ujian kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan hrata, jiwa dan buah-buahan. Dan berikan berita gembira kepada orang yang sabar.” (Surah al-Baqarah, ayat 155)

    Individu memiliki iman yang teguh, nescaya tidak rasa keluh kesah menerima ujian Allah. Mereka tenang dan bersabar atas apa yang menimpa. Pada masa yang sama usaha untuk mendapat kebaikan diteruskan tanpa jemu.

    Dari situ, Allah memberi balasan yang lebih baik. Bahkan, banyak individu yang bersyukur menyatakan kebaikan diperoleh hasil usaha selepas pernah menerima musibah sebelumnya.

    Firman Allah bermaksud: “Dan sesungguhnya Kami akan membalas orang yang sabar dengan memberikan pahala lebih baik daripada apa dikerjakan oleh mereka.” (Surah an-Nahl, ayat 96).

    Orang sabar sentiasa mendekatkan dirinya di sisi Allah. Iman dan takwanya semakin teguh. Hatinya tabah berserah kepada Allah. Dalam hatinya tetap beriktikad dan yakin bahawa apapun yang dialaminya tidak sekali-kali menyebabkan dia menyekutukan Allah.

    Individu bersabar tetap memohon pertolongan dan doa kepada Allah, tanpa sedikit berpaling mencari pertolongan kepada lain. Hal demikian tidak sia-sia kerana sesungguhnya Allah akan sentiasa bersama-sama dengan orang sabar.

    Segala apa terjadi ketentuan daripada Allah. Hamba bertakwa sentiasa melakukan perkara disuruh dan menjauhkan apa dilarang.

    Sesungguhnya Allah menggantikan sabar dan takwa dengan pertolongan tidak disangka-sangka. Sesuatu keburukan mungkin berlaku akan digantikan oleh Allah dengan kebaikan atas sifat rahmat-Nya.

    Kategori sabar dan tekun melakukan sesuatu tugas juga penting dijadikan amalan. Kebanyakan usaha memerlukan masa yang lama, baru mencapai apa diingini. Kesabaran amat perlu ketika berdepan dengan kegagalan. Ia dapat mengelak diri daripada berputus asa dan tidak mahu meneruskan perjuangan.

    Individu yang bersabar menerima setiap kegagalan sebagai satu cabaran untuk berusaha lebih gigih. Sikap itu membuka peluang untuk berjaya dengan lebih cemerlang. Usaha untuk berjaya dilakukan dengan fikiran lapang dan lebih berhemah.

    Mengapa mesti marah dengan kegagalan? Sepatutnya kegagalan dijadikan perangsang untuk berusaha lebih gigih secara konsisten. Kejayaan hasil usaha lama dan menghadapi kesukaran lebih bermakna dan dihargai.

    Kejayaan tokoh ternama dalam bidang masing-masing dicapai hasil daripada sikap sabar dan tekun dalam usaha yang dilakukan. Mereka terpaksa menghabiskan masa dan tenaga untuk mencapai apa dihajati.

    Individu yang tidak bersabar sesungguhnya menjadi rakan syaitan yang sering mencetuskan kerosakan dengan api kemarahan. Syaitan menggalakkan sikap tidak sabar untuk merosakkan kehidupan manusia
     Oleh Lokman Ismail
     
    Hutang tanggungan sepanjang hayat
    01.11.07 (7:45 pm)   [edit]

    Roh tergantung antara langit dan bumi jika mati tak jelas pinjaman

    SEJAK zaman baginda Rasulullah, amalan berhutang sudah berlaku seperti kisah Nabi Muhammad berhutang seekor unta. Kemudian baginda membayar hutang dengan unta besar dan lebih baik daripadanya.

    Sabda Rasulullah bermaksud: "Sebaik-baik kamu, ialah orang yang melebihkan hutang dan memperelokkan pembalasan hutangnya (menambah daripada apa yang diambil)."

    Kini, berhutang sudah menjadi trend dalam kehidupan masyarakat. Untuk memiliki kenderaan, perabot dan apa saja keperluan hidup dengan cepat, maka tidak dapat tidak seseorang itu perlu berhutang.

    Malangnya, ramai pula yang hanya tahu berhutang, tetapi tidak pula berusaha untuk melangsaikan pembayaran hutang mengikut perjanjian. Ada kalanya orang yang membuat jaminan terpaksa memikul beban kerana kedegilan penghutang itu.

    Islam sebagai agama yang syumul dalam segala aspek menggariskan beberapa persoalan hukum berhutang, ganjaran pemberi hutang serta kaedah membuat bayaran balik sesuatu hutang dibuat.

    Rasulullah mengingatkan kita, orang berharta sering menangguhkan pembayaran hutang adalah termasuk dalam perbuatan zalim. Pada dasarnya, Islam tidak menggalakkan umat berhutang. Perkara ini dijelaskan dalam hadis daripada Uqbah Amir yang bermaksud: "Janganlah kalian membuat takut jiwa selepas ketenangannya. Mereka berkata: Apa itu wahai Rasulullah? Beliau bersabda: Hutang."

    Hutang dalam bahasa Arab bermaksud al-Qardhu atau potongan. Dari segi bahasa ia membawa maksud potongan sebahagian harta dan diberi kepada seseorang yang memerlukan.

    Dalam Islam hutang dan sedekah mempunyai pertalian amat rapat. Dijelaskan dalam sebuah hadis bermaksud: "Hutang dari segi pahala, lebih dua pahalanya daripada pahala sedekah". (Hadis Hasan).

    Dalam kisah perjalanan Rasulullah bersama malaikat Jibril pada malam Israk Mikraj, tergantung di salah sebuah pintu syurga kata-kata bermaksud, sedekah bersamaan 10 kali ganda dan hutang bersamaan 18 kali ganda.

    Lalu baginda bertanya kepada Jibril, "Mengapa demikian? Jawab Jibril, "sedekah diberikan kepada seseorang, semua atau sebahagiannya. Sementara hutang, orang tidak akan meminta berhutang kalau tidak kerana sebab yang mendesak.

    Rasulullah bersabda lagi bermaksud: "Allah akan menolong hamba-Nya selama hamba itu suka menolong saudaranya". (Riwayat Muslim). Pun begitu, memberi hutang boleh bertukar menjadi wajib bila bertujuan memenuhi keperluan yang begitu mendesak, seperti membantu orang sangat memerlukan, menghadapi musibah atau apa juga bencana alam dan golongan manusia termasuk dalam golongan kurang upaya.

    Bersesuaian dengan kehendak Allah seperti yang tercatat di dalam surah al-Maidah ayat 2 yang bermaksud: "Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan kamu tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pencerobohan. Bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat seksa-Nya".

    Bagi pihak orang berhutang pula Rasulullah mengingatkan orang berhutang akan terus terikat dengan pembayaran balik atas segala hutang dibuat. Dia mesti menjelaskan hutangnya ketika hidup di dunia. Apabila seseorang berhutang meninggal ketika masih menanggung hutang, maka rohnya akan tergantung di antara langit dan bumi sehinggalah dijelaskan hutang itu.

    Sabda Rasulullah bermaksud: "Jiwa orang mukmin itu tergantung dengan hutangnya (iaitu dia belum dihukum, sama ada kebaikannya atau kejahatannya) sehinggalah dia menjelaskan hutangnya". (Riwayat Muslim).

    Tetapi bagi mereka yang tidak mampu melangsaikan hutang hinggalah ia meninggal dunia, maka soal hutangnya akan menjadi tanggungjawab Baitulmal seperti berlaku pada zaman Nabi Rasulullah.

    Ada juga ulama yang berpendapat hutang berpindah kepada waris si mati. Sekiranya anaknya juga miskin, kemungkinan hutang tadi balik kepada cara yang pertama, iaitu diserahkan kepada kerajaan.

    Dalam Surah al-Baqarah ayat 280 Allah Taala berfirman yang bermaksud: "Dan jika (orang yang berhutang itu) dalam kesusahan, maka berilah tangguh sampai dia berkelapangan. Dan bersedekah (sebahagian atau semua) itu lebih baik bagimu sekiranya kamu mengetahui".

    Seorang pemberi hutang hendaklah tidak meminta sebarang bayaran yang lebih banyak daripada hutang asalnya. Pun begitu, Nabi Muhammad amat menggalakkan sekiranya seseorang yang berhutang itu berusaha untuk membayar lebih daripada diperolehnya.

    Ia juga sebagai tanda bersyukur di atas bantuan dihulurkan oleh pemberi hutang itu tadi.

    Dalam masalah hutang, sunat memberi hutang dalam keadaan biasa tetapi wajib dibayar oleh pengambil hutang jika sampai kepada tempohnya. Sekiranya belum cukup tempoh dijanjikan, maka pemberi hutang tersebut tidak boleh memintanya.

    Selain itu, diceritakan oleh Anas, "Seorang lelaki di antara kami, memberi hutang suatu barang kepada temannya. Kemudian orang yang berhutang tadi memberi hadiah kepadanya. Hal ini diceritakannya kepada Rasulullah.

    Jawab baginda: Apabila salah seorang di antara kamu memberi hutang sesuatu kemudian diberi hadiah atau dinaikkan ke atas kenderaannya, maka janganlah diterimanya hadiah itu dan janganlah ia naik kenderaan itu, kecuali jika sememangnya antara kedua-duanya itu biasa berlaku demikian sebelum terjadi hutang piutang itu. (Riwayat Ibnu Majah).

    INTI PATI: Tanggungjawab hutang

  • Perbuatan berhutang diharuskan ketika darurat dan terdesak, bukan semata-mata untuk membanggakan diri

  • Setiap hutang perlu dibayar mengikut jadual

  • Tindakan berhutang dan melepaskan diri daripada tanggugjawab dianggap perbuatan zalim

  • Islam tidak menggalakkan umat berhutang. Perkara ini dijelaskan dalam hadis: Janganlah kalian membuat takut jiwa selepas ketenangannya. Mereka berkata: Apa itu wahai Rasulullah? Beliau bersabda: Hutang."

  • Apabila seseorang berhutang meninggal ketika masih menanggung hutang, maka rohnya tergantung di antara langit dan bumi sehinggalah dijelaskan hutang itu

  • Seorang pemberi hutang dilarang meminta bayaran lebih banyak daripada hutang asalnya.

  • Amalan riba tidak wujud dalam Islam
  •  

    Oleh Wan Marzuki Wan Ramli

     
    Tiga sifat buruk punca azab, malapetaka
    01.11.07 (7:34 pm)   [edit]

    SETIAP Muslim wajib meyakini rahmat dan azab yang mewarnai hidup manusia adalah datang daripada Allah. Allah saja yang Maha Mengetahui bila dan di mana ia akan dilimpahkan dan ditimpa pada seseorang mahupun pada sesebuah bangsa.

    Allah menegaskan bahawa kebanyakan rahmat dan azab Ilahi adalah berpunca daripada perilaku manusia sendiri. Kita wajib meyakini bahawa Allah adalah zat yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, maka amat mustahil bagi Allah berlaku zalim terhadap manusia dan sekalian makhluk di muka bumi ini. Hal ini kerana rahmat Allah dan keampunan-Nya lebih luas daripada azab dan kemurkaan-Nya.

    Dalam hal ini, Allah berfirman bermaksud: “Tidakkah mereka berjalan dan mengembara di muka bumi, serta memerhatikan bagaimana kesudahan orang yang terdahulu daripada mereka? Orang itu lebih kuat daripada mereka, dan mereka meneroka bumi serta memakmurkan lebih daripada kemakmuran yang mereka lakukan, dan orang itu didatangi oleh Rasul-Nya dengan membawa keterangan nyata. Dengan yang demikian, Allah tidak sekali-kali menganiaya mereka, tetapi merekalah yang menganiaya diri sendiri. (Surah al-Rum, ayat 9).

    Perlu diinsafi keimanan dan ketakwaan yang diterjemahkan dalam konteks kehidupan realiti sama ada dalam bentuk kesalihan individu mahupun kesalihan sosial adalah penyumbang utama turun rahmat dan keberkatan Ilahi kepada umat manusia.

    Sebaliknya, kekufuran, maksiat dan pendustaan terhadap Allah dan juga sesama manusia pula adalah punca utama turun azab dan petaka menimpa manusia. Cuba perhatikan dengan penuh teliti maksud firman Allah bermaksud: Dan Sekiranya penduduk negeri itu, beriman serta bertakwa, tentulah Kami bukakan kepada mereka keberkatan dari langit dan bumi. Tetapi mereka mendustakan (Rasul Kami) lalu Kami timpa mereka dengan azab seksa disebabkan apa yang mereka usahakan.”

    Jelas di sini bahawa Allah menegaskan rahmat-Nya dan azab-Nya banyak bergantung pada nilai keimanan dan juga nilai kekufuran yang wujud dalam sesebuah masyarakat. Iman ialah pegangan iktikad yang mutlak (bersungguh-sungguh dan yakin) bahawa Allah adalah Pemilik, Pencipta dan Tuhan sekalian alam dan hanya Dia yang berhak disembah, manakala kufur pula ialah menolak kebenaran Islam selepas menganuti. Dalam erti kata lain, kufur bermaksud keluar dan menyeleweng daripada landasan iman. Dengan ini, iman dan kufur adalah dua perkara yang berlawanan.

    Ia bererti apabila seseorang mengucapkan dua kalimah syahadah bermakna dia mengisytiharkan dirinya beriman kepada Allah dengan tunduk dan patuh terhadap segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Pada masa sama, seseorang Muslim juga wajib memelihara diri daripada melakukan sesuatu yang menyebabkannya kufur kepada Allah.

    Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu 'Asakir, Rasulullah pernah menyatakan bahawa punca petaka dan azab itu ada tiga iaitu; takbur, hasad dengki dan tamak.

    Sifat takbur dan sombong boleh menyebabkan seseorang atau sesebuah bangsa itu lupa diri sehingga dia tidak pernah menyedari akan berlakunya kesilapan, kekeliruan, kesalahan mahupun kekurangan.

    Oleh sebab itu, sifat takbur itu akan menghalangnya daripada mengambil peringatan dan juga nasihat daripada pelbagai musibah, fenomena dan masalah yang melanda. Hal ini kerana hati mereka sudah pun tertutup rapat dan sudah tentu mereka begitu sukar untuk menerima sebarang nasihat mahupun peringatan.

    Hasad dengki pula adalah penyakit tidak senang kepada orang lain yang memperoleh pelbagai nikmat anugerah Ilahi berbanding dengannya, maka dia mempergunakan segala macam helah untuk menghalang atau menghapuskan nikmat tersebut daripada musuhnya.

    Natijahnya, muncul bibit permusuhan dan dendam kesumat yang tidak berkesudahan di antara sesama manusia. Manakala sifat tamak pula akan menumbuhkan sifat egoistik dan materialistik. Jika sifat tersebut ada pada diri seseorang atau sesebuah bangsa, maka dia akan menjadi hamba dunia yang bersifat fana ini.

    Jika ketiga-tiga sifat keji ini dibiarkan membarah dalam diri seseorang dan juga sesebuah bangsa, dia akan menghalalkan semua cara dan jalan demi kehendak hawa nafsunya. Akibatnya, azab Allah dan malapetaka akan menimpa kepada umat itu kerana mereka menderhaka terhadap Allah. Malah rahmat Ilahi dan keberkatan-Nya amat jauh dan semakin sulit sekali untuk digapai dan dijejaki.
     Oleh Engku Ahmad Zaki Engku Alwi
     
    Ufuk Minda: Pendapat berbeza perkaya ilmu
    01.09.07 (5:36 pm)   [edit]

    Pandangan berlainan dibenar asal tak langgar batas syarak, adab dipelihara

    PERBEZAAN pendapat di kalangan ulama dan ilmuan Islam adalah lumrah. Sejak dulu sehingga kini malah pada masa depan perbezaan akan terus berlaku. Berlaku perbezaan sudut pandangan dengan cara betul, adalah jalan bagi kebijaksanaan. Pendekatan fiqah, ijmak dikalangan ulama, fatwa yang diputuskan dan ijtihad yang diambil pada prinsipnya tidak boleh menggugat faktor syarak yang terkanun dalam nas kat'ie.

    Imam fiqah utama sering berbeza pandangan dalam sesuatu perkara. Sifat zaman yang berubah dan banyak perkara baru muncul memerlukan jawapan dan pendekatan menanganinya.

    Imam Shafie umpamanya tidak taksub dengan pandangannya malah terbuka diikuti atau sebaliknya asal saja yang selari dengan maksud syarak. Beliau menganjurkan supaya yang terbaik dan benar yang harus diikuti. Kaedah ini memperkayakan khazanah ilmu dalam tradisi Islam dan perbezaan tidak menjadi isu yang mempertajamkan hubungan atau menuding jari dengan pandangan bahawa ‘aku saja yang betul dan orang lain semuanya cacat atau salah belaka’.

    Prof Yusof al-Qardawi dan Almarhum Sheikh Muhammad al-Ghazali sering memberikan pandangan dari sudut fiqah dan syarak supaya masalah masa kini dapat diatasi tanpa perlanggaran batas syarak namun, adab berbeza pandangan tetap dipelihara.

    Akhir-akhir ini sangat nyata perbezaan pendapat di kalangan ahli dalam hal agama atau di kalangan ulama yang mempunyai latar pendidikan berbeza atau di kalangan orang Islam yang tidak memiliki keahlian, cuba memberikan pandangan terhadap sesuatu isu yang menuntut keahlian dan kepakaran. Cara perbezaan itu berlaku boleh mengelirukan orang awam khususnya generasi muda.

    Ulama adalah pewaris anbiya. Ulama adalah lambang keteguhan ilmu, prinsip dan hukum hakam Islam, namun apabila ada isu baru maka sering wujud perbezaan mendekatinya. Yang merisaukan ialah ada di kalangan mereka yang cuba mendekati isu kerana populariti. Ia pula diambil kesempatan oleh sesetengah pihak yang sentiasa ingin melagakan pandangan dengan maksud tertentu.

    Sepatutnya pandangan berbeza boleh diselesaikan di meja muzakarah. Sudah tentu dalam negara kita ada lembaga dan institusi bagaimana perbezaan pandangan itu dapat diselaraskan.

    Pada prinsipnya, ulama faham nas mengenai isu berkaitan. Perbezaan kadang-kadang hanya bersifat teknikal bukan substantial, tetapi cara sesetengah pihak mempermainkan boleh menimbulkan kekeliruan dan salah faham hingga menyebabkan khalayak menjadi bercelaru.

    Malah, ada tokoh merelakan dirinya menjadi umpan mempertajamkan lagi masalah berbangkit dan ia menjadi popular dengan maksud tersendiri. Lebih mengelirukan ialah sudut pandangan tidak didekati secara kaedah Islam. Ia didekati secara barat atau mengambil pendekatan seperti dilakukan oleh orientalis.

    Dalam hal membabitkan hukum atau pengkhususan, ia menuntut di kalangan ahli memperjelaskannya supaya ada kuasa dalam membuat keputusan. Seorang doktor pakar dan ahli dalam bidangnya memiliki kelayakan untuk berbicara mengenai penyakit.

    Orang awam yang bukan ahli dalam penyakit itu sudah tentu perlu merujuk kepada pakar terbabit.

    Sekiranya orang awam berlagak lebih pakar daripada orang yang ahli dalam bidangnya maka masalah akan berbangkit. Rasulullah berpesan pentingnya sesuatu itu diletakkan pada tempatnya (berasaskan keahlian atau kepakaran). Kalau tidak kehancuran dan kerosakan akan menyusul.

    Ia tidak bermakna ulama tidak perlu dinamik. Ulama dalam maksud yang sebenarnya mendukung imej Islam, berpegang kepada prinsip, memahami zaman dan realiti dan mengambil pendekatan bijaksana supaya umat dipandu ke arah jalan agama yang betul di tengah cabaran semakin rencam.

    Apabila timbul di kalangan ulama atau ilmuan atau di kalangan tokoh yang berlagak seperti ulama membuat kenyataan kontroversi, ia tidak menyumbang ke arah kesatuan fikiran yang amat dituntut oleh umat. Lebih-lebih lagi apabila isu itu diikuti dengan label ‘ulama suk’, ‘ulama’ pengampu', ‘ulama jumud’ dan seumpamanya, ianya mendalamkan lagi jurang sedia ada.

    Harus ada adab dalam perbezaan pandangan dan sudut pendapat.

    Ada kerencaman dan kelainan orientasi bagaimana seseorang ulama dan ilmuan Islam itu lahir di sepanjang sejarah umat Islam. Tetapi titik persamaan yang boleh menyatukan fikrah dan ummah harus dijadikan keutamaan.

    Perbezaan harus diselesaikan di meja muzakarah atau di gelanggang yang tidak membangkitkan fitnah.

    Tidak harus ada pihak yang ingin menjadi juara konon dia tahu segala-galanya dengan menafikan kebolehan orang lain. Lebih tidak wajar lagi apabila seseorang yang berlagak tokoh, tahu sedikit mengenai pemikiran dan falsafah lalu berlagak sebagai ahli fikah atau syariah dan menyebabkan khalayak menjadi keliru.

    Adab terhadap kelainan pendapat perlu ada. Adab al ikhtilaf yang boleh membawa kepada perbezaan pendapat harus tegak dengan prinsip dan nas yang sepakat.

    Hikmah di sebalik kelainan pendapat yang didekati dengan adab yang tinggi melahirkan tradisi bijaksana untuk mencerahkan lagi isu yang berbangkit bukan menambahkelirukan keadaan akibat kegopohan.

    Maslahah ummah dan imej Islam harus dipelihara supaya kelainan pendapat memperkaya cara pendekatan bagaimana isu yang berbangkit didekati secara ilmu dan keahlian.

    Asas ini penting supaya kelainan pendapat yang dilakukan secara berhemah mampu mendidik masyarakat dan memperjelaskan lagi arah dan maksud sesuatu isu berbangkit.

    INTI PATI:

  • Imam Shafie menganjurkan yang terbaik dan benar harus diikuti.

  • Perbezaan pandangan ulama harus diselesaikan di meja muzakarah atau di gelanggang yang tidak membangkitkan fitnah.

  • Ulama dilarang mendekati isu kerana populariti kerana ia boleh mengelirukan ummah.

  • Persamaan yang boleh menyatukan fikrah dan ummah harus dijadikan keutamaan.

  • Maslahah ummah dan imej Islam harus dipelihara supaya kelainan pendapat memperkaya cara pendekatan bagaimana isu yang berbangkit didekati secara ilmu dan keahlian.
  •  

     Oleh Dr Sidek Baba

     

     
    Iman seseorang perlu sentiasa diperbaharui
    01.09.07 (5:32 pm)   [edit]

    AKIDAH adalah inti sari utama dan tunjang terpenting dalam ajaran Islam.

    Akidah ini jugalah yang mesti mendasari dan menunjangi dalam setiap gerak geri dan aspek kehidupan kita. Tanpanya, maka sia-sialah saja amalan yang dilakukan oleh seseorang manusia di sisi Allah dan dia pastinya termasuk ke dalam golongan rugi di akhirat kelak.

    Akidah Islam ini adalah enam rukun asas yang menjadi titik tolak dan penentu kepada keimanan seseorang kepada Allah.

    Rukun Iman itu ialah beriman kepada Allah, beriman kepada malaikat, beriman kepada nabi dan rasul, beriman kepada kitab, beriman kepada hari akhirat dan akhirnya beriman kepada qada dan qadar sebagaimana jawapan Rasulullah apabila ditanya seorang lelaki mengenai makna iman, lantas Baginda bersabda: "Iman itu ialah kamu beriman kepada Allah, para malaikat-Nya, para Nabi dan Rasul-Nya, Kitab-Nya, hari Akhirat dan kamu beriman dengan qadar-Nya, baik dan buruknya." (Hadis riwayat Muslim).

    Dalam kehidupan seharian, kekuatan iman yang bertapak dalam jiwa sanubari muslim ada pasang surutnya atau naik turunnya. Alam semesta ciptaan Ilahi terhampar pelbagai cabaran dan ujian di sepanjang perjalanan hidup manusia.

    Cabaran dan ujian sama ada kenikmatan atau kesusahan semua mempunyai kaitan amat rapat dengan iman yang bertakhta dalam jiwa Muslim.

    Jika Muslim itu kuat imannya kepada Allah, maka segala cabaran dan ujian yang dihadapinya adalah satu gilapan terhadap imannya agar bertambah kukuh dan mantap.

    Sebaliknya jika dia lemah imannya, maka segala cabaran dan ujian yang diharungi itu hanya mengakibatkan dia makin jauh daripada rahmat Ilahi.

    Oleh itu, Rasulullah selalu memperingatkan umatnya melalui sabdanya yang bermaksud: “Perbaharuilah iman kamu sekalian. Sahabat bertanya: Bagaimanakah caranya memperbaharui iman kami? Ujar baginda: Hendaklah kamu memperbanyakkan ucapan La Ilaha illallah.” (Hadis riwayat Ahmad)

    Dalam satu hadis lain, Rasulullah pernah bersabda yang bermaksud: “Iman seseorang boleh menjadi usang dan lusuh seperti usang dan lusuhnya sehelai pakaian. Maka hendaklah kamu memohon ke hadrat Allah supaya memperbaharui iman kamu yang ada dalam hatimu. “(Hadis riwayat Tabrani dan Hakim)

    Jelas daripada sabda Rasulullah betapa pentingnya tajdid iman dilakukan setiap Muslim agar iman dapat digilap dan diperkukuhkan supaya menjadi lebih utuh dan jitu. Tajdid secara etimologinya merujuk kepada memperbaharui, menilai, membangkitkan dan menghidupkan.

    Tajdid dengan makna ini perlu dilakukan untuk menilai kembali kefahaman dan pengamalan umat Islam berdasarkan ajaran al-Quran dan al-Sunnah.

    Kefahaman dan pengamalan umat Islam boleh jadi terpesong atau menyimpang daripada landasan Islam sehingga ia menuntut tajdid ke arah kefahaman sebenar.

    Dalam kata lain, tajdid dalam kerangka pengertian pertama sering kali difahami oleh kebanyakan umat Islam sebagai islah atau pemurniaan Islam daripada segala jenis khurafat dan bidaah.

    Tajdid lebih menjurus ke arah menghidupkan kembali roh ajaran Islam dalam setiap aspek kehidpan umat Islam sejagat.
     Oleh Dr Engku Ahmad Zaki Engku Alwi
     
    Al-Quran mengandungi petunjuk saintifik
    01.04.07 (12:54 am)   [edit]

     

    Al-Quran terkandung hudan atau petunjuk yang memberi pedoman kepada manusia mengenai sesuatu yang nyata dan sesuatu yang ghaib. Mukjizat yang disampaikan oleh Allah kepada manusia menerusi Rasul-Nya terkandung hikmah yang amat besar untuk direnung dan difikirkan. Konsep ulul albab seperti yang dianjurkan oleh al-Quran membina jiwa tadabbur iaitu berfikir, mengamati dan memerhati supaya lahir kecenderungan mengkaji dan menyelidik.

    Setiap surah dalam al-Quran terkandung maksud dan setiap ayat yang mengisinya terkandung makna. Ayat- ayat Allah ini adalah sesuatu yang hidup dan menghidupkan. Alam ini dan kehidupan yang diciptakan adalah gambaran ayat-ayat Allah yang mempunyai makna yang luas. Perjalanan alam dan sumber-sumber alamiah disebut dalam banyak ayat supaya proses silih gantian, keteraturan dan ketertiban membimbing manusia berfikir tentang kebesaran suatu kuasa iaitu Allah s.w.t.

    Terciptanya bumi dengan limpahan rahmah dan nikmat yang banyak adalah gambaran Kekuasaan Yang Maha Mencipta untuk kesejahteraan manusia dan makhluk-makhluk yang lain. Al-Quran terkandung kisah-kisah manusia terdahulu dengan ragam kerenah yang pelbagai untuk menjadi iktibar manusia.

    Apa yang berlaku pada Nabi Adam, perjuangan Nabi Nuh menyebarkan risalah tauhid, Nabi Musa dengan Firaun, Nabi Lut dengan kaumnya yang ingkar, Nabi Isa yang mengajak manusia kepada kebenaran tauhid, Nabi Yusof dengan fitnah dan keupayaan perancangan ekonominya adalah sebahagian gambaran manusia dan kerenah zamannya.

    Ia berlaku pada masa yang lalu, berulang pada masa kini dan bakal berulang semula pada masa akan datang sekiranya manusia tidak menjadikannya ibrah atau teladan yang perlu diikuti.

    Al-Quran juga terkandung prinsip dan ajaran, peringatan dan khabar gembira, pernyataan dan simbol-simbol dan yang amat penting ialah mengajak manusia berfikir tidak saja dalam batas alam nyata tetapi juga cuba memahami kewujudan faktor-faktor yang ghaib. Walaupun al-Quran bukan kitab sains umpamanya tetapi pedoman-pedoman saintifik amat banyak untuk dijadikan rujukan tentang bukti kebenaran dan mukjizat yang amat besar ini.

    Para remaja tidak harus memanfaatkan al-Quran dalam batasan tilawah dan hafazan semata-mata. Memang benar terdapat fadilat dari amalan tersebut tetapi fadilat yang lebih besar ialah al-Quran terkandung sumber ilmu yang amat bernilai untuk diteliti dan dikaji supaya darinya terbina pertunjuk yang mempedoman remaja ke jalan yang benar dan diredai.

    Pada hari ini pengajaran agama terhadap remaja mengambil pendekatan umum dan tradisional hingga menyebabkan daya fikir remaja tidak berkembang, pemahaman maksud rohaniah menjadi terbatas, kesan penghayatan semakin menipis dan akhirnya akhlak Islamiah tidak terlihat dalam menghadapi cabaran semasa yang banyak mencabar asas logik dan rasional.

    Ia menyebabkan sebahagian remaja tidak merasakan ajaran agama dan pendidikan al-Quran memungkinkan dirinya atau zaman dewasanya nanti berupaya menghadapi serangan pemikiran dari luar lingkungan kehidupan beragamanya atau menjadi keliru dalam menghadapi cabaran ideologi dan fahaman yang berbagai atau terjebak dalam arus memuja dan mengagumi budaya Barat yang negatif dan akhirnya menjadi bercelaru dan hilang arah dalam memahami makna hidup dan kehidupan yang sebenarnya.

    Sedangkan al-Quran pada banyak tempat menyebutkan kepentingan akal dan kepentingan pancaindera untuk berfikir dan melihat sesuatu yang diciptakan dan terjadi serta merangsang hati supaya merasakan sesuatu mengenai kebesaran dan kekuasaannya.

    Asas-asas saintifik amat nyata ditunjukkan oleh Allah menerusi al-Quran supaya para remaja mendapat pertunjuk-pertunjuk saintifik mengenai kebenaran pencipta dan perkhabaran tentang sumber ciptaan-Nya.

    Meskipun al-Quran diturunkan kira-kira 1,400 tahun yang lalu kepada Rasulullah s.a.w, seorang yang ummi iaitu tidak boleh membaca dan menulis atau menghadiri sistem pendidikan sains seperti hari ini, namun kebenaran mukjizat saintifik terus dibongkar oleh para saintis Islam berabad-abad lamanya dan dibongkar oleh saintis zaman kini atau mula mengakui kebenaran mukjizat al-Quran yang memberikan petunjuk saintifik dan sebahagiannya kembali kepada ajaran tauhid yang fitrah.

    Pemenang Hadiah Nobel, Albert Einstein pernah menyebutkan: “Sains tanpa agama adalah palsu dan agama tanpa sains adalah buta.”

    Al-Quran bukanlah kitab sains tetapi terkandung signs atau ayat-ayat yang memberi petunjuk. Mengikut Dr. Zakir Naik seorang pendakwah terkenal dari India, terdapat lebih 1,000 ayat yang berhubung dengan sains. Petunjuk-petunjuk saintifik dalam al-Quran terkandung kebenaran dan fakta bukan sekadar hipotesis atau teori yang masih dalam kajian dan persoalan.

    Amat penting bagi remaja memahami dan menginsafi tentang kebenaran al-Quran mengenai sains supaya darinya remaja dapat membina kekuatan iman dan keyakinan terhadap Pencipta dan menerusi jendela Qurani remaja boleh menjadi orang-orang yang bertakwa terhadap kebenaran dan fakta saintifik yang tidak boleh diragukan lagi.

    Al-Quran 21:30 menyebutkan dengan jelas tentang kejadian alam semesta. Teori Dentuman Besar atau Big Bang yang dipercayai oleh para saintis kini menyebabkan berlakunya pembentukan galaksi. Ia berkembang menjadi bintang, planet, matahari, bulan dan sebagainya. Al-Quran juga menyebutkan tentang makna dukhan atau asap atau gas yang menjadi rujukan utama kepada fakta teori Dentuman Besar (al-Quran 41:11).

    Pada zaman awal manusia percaya bahawa bumi ini rata. Al-Quran 31:29 dan 39:5 menyatakan dengan jelas tentang bumi ini bulat (spherical). Mereka juga percaya bahawa bulan bercahaya dan sumbernya sendiri sedangkan al-Quran 25:61 & 10:5 & 71:15-16 menyebutkan ia adalah pantulan dari cahaya matahari.

    Al-Quran 51:47 juga menyebutkan tentang sifat alam jagat yang mengembang. Konsep musi’un dalam al- Quran menyatakannya dengan jelas dan ia diakui oleh para saintis seperti Edwin Hubble sejak tahun 1925 lagi mengenai kebenaran fakta saintifik al-Quran.

    Konsep atom juga tersebut jelas dalam al-Quran 34:3 dengan rujukan zarah yang mengaitkan Allah mengetahui yang kecil dan besar malah sekecil zarah. Gunung-ganang sebagai pasak-pasak bumi (awtad) disebutkan oleh al-Quran 78:6-7 membayangkan pentingkan faktor penstabil bagi bumi bagi mengelakkan bumi dari bergoncang (al-Quran: 21:13).

    Malah kalau diteliti lebih jauh, al-Quran memberi kita petunjuk tentang ilmu biologi, botani, zoologi, perubatan, fisiologi, embriologi, psikologi, sains, teknologi dan lain-lain. Bayangkan kalau para remaja mendekati al-Quran dengan jiwa tadabbur maka fakta dan kebenaran saintifik yang terkandung dalam al-Quran bakal membina keimanan dan keyakinan remaja tentang Allah, kejadian dan kebesaran-Nya.

    Dari situlah bermula binaan akidah yang diterjemahkan dalam asas ibadah yang luas, berdiri atas faktor syariah yang terkandung maqasid atau maksud dan menghasilkan peribadi-peribadi yang memiliki akhlak tinggi yang memiliki jiwa rukuk dan sujud terhadap pencipta.

    Oleh: DR. SIDEK BABA
     
    Zikir bersih hati, sucikan jiwa Mukmin
    01.03.07 (5:52 pm)   [edit]

    ALLAH menjelaskan sifat orang yang beriman dalam al-Quran melalui firman-Nya yang bermaksud: "Dan apabila mereka mendengar perkataan yang tidak bermanfaat , mereka berpaling daripadanya". – surah al-Qasas, ayat 55.

    Percakapan yang tidak berfaedah itu tidak mempunyai sebarang makna malah, tidak memberikan sedikitpun nilai tambah kepada hati, fikiran dan ilmu yang berfaedah. Hati seorang Mukmin sama sekali tidak lalai dengan hal yang tidak berguna itu. Bahkan hati mereka sentiasa sibuk dengan tuntutan iman tinggi dan mulia.

    Dalam konteks yang lain, Allah mensifatkan keadaan mereka sebagai berikut dalam firman-Nya yang bermaksud: "Dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya". – surah al-Furqan, ayat 72.

    Berdasarkan ayat di atas jelas menunjukkan bahawa mereka sama sekali tidak memberi perhatian sedikitpun kepada hal seperti itu, kerana bagi setiap orang yang beriman mereka tidak ada lebih masa untuk dihabiskan kepada perkara tidak berfaedah itu. Justeru, antara faktor kejayaan Mukmin itu baik di dunia mahupun di akhirat ialah berpaling daripada perkara yang tidak berfaedah.

    Hati orang yang beriman sentiasa sibuk dengan zikrullah atau mengingati Allah, menghayati keagungan dan kebesaran-Nya, melihat tanda kekuasaan Allah pada setiap ciptaan-Nya. Itu akan mendorong mereka untuk memenuhi segala tuntutan akidahnya dengan cara membersihkan hati, mensucikan jiwa, memurnikan sanubari, akhirnya terbentuklah peribadi mukmin, salih dan tidak pernah lupakan Allah.

    Sekiranya kita tahu bahawa kemampuan kita sebagai manusia ini terbatas, sama ada ia digunakan untuk kebaikan, kejayaan dan ketinggian hidup atau sebaliknya dihabiskan untuk perkara tidak berfaedah, maka sebagai seorang yang beriman kepada Allah, tentu sekali akan didorong oleh akidahnya supaya berkorban untuk kepentingan dan kebaikan dirinya baik di dunia mahupun akhirat.

    Dalam hal ini, Imam al-Ghazali, seorang sufi terkenal membahagikan perkataan atau percakapan itu kepada empat bahagian. Di mana bahagian yang terakhirnya ialah percakapan yang tidak ada kebaikan dan keburukan padanya atau perkataan yang tidak ada faedah dan tidak ada juga mudaratnya. Inilah dikatakan perbualan kosong.

    Manusia yang paling banyak dosa pada Hari Kiamat nanti adalah orang yang paling banyak membicarakan hal tidak benar. Rasulullah pernah menjawab pertanyaan apabila ditanya apakah yang menyebabkan manusia banyak masuk neraka. Jawab Baginda: "Mulut dan kemaluan".

    Dan apabila ditanya pula sebaliknya, apakah yang boleh menyelamatkan mereka daripada neraka, lantas jawabnya: "Tahanlah lidahmu dan tangisilah kesalahanmu". (Hadis Riwayat al-Tirmizi)

    Renungan: Berkata seseorang kepada Umar bin Abdul Aziz: Bilakah saya hendak bercakap: Katanya: Apabila kamu hendak diam. Dan ditanya pula: Bilakah saya hendak diam :Katanya: Apabila kamu hendak bercakap".
     Oleh Prof Madya Dr Abdul Rashid Ahmad