Sakratul Maut (1): Penderitaan, Amalan dan Doanya


Blog For Free!


Archives
Home
2008 February
2007 December
2007 September
2007 August
2007 July
2007 June
2007 May
2007 April
2007 March
2007 February
2007 January
2006 December
2006 November
2006 October
2006 September
2006 August
2006 July
2006 June
2006 May
2006 April
2006 March
2006 February
2006 January
2005 December
2005 November
2005 October
2005 September
2005 August
2005 July
2005 June
2005 May
2005 April
2005 March
2005 February
2005 January
2004 December
2004 November
2004 October
2004 September
2004 August

My Links
Sebentar Cuma
utusan_sakinah
Petua
Petua Tiga
Mymasjid.com
Ilmiah
SPA 8

tBlog
My Profile
Send tMail
My tFriends
My Images


Sponsored
Blog



Image hosted by Photobucket.com


Image hosted by Photobucket.com


Free Web Counter
Free Hit Counter




Sakratul Maut (1): Penderitaan, Amalan dan Doanya
02.13.08 (7:05 pm)   [edit]
Sakratul Maut (1): Penderitaan, Amalan dan Doanya
Oleh: Syamsuri Rifai

Allah swt berfirman:
Sakratul maut pasti datang. Itulah yang kamu selalu lari darinya.
(Qaaf/50: 19)

Sertiap manusia pasti melewati pintu Sakratul maut sebelum ia
memasuki alam Barzakh. Sakratul adalah jalan terjal pertama yang
harus dilalui oleh setiap manusia. Pada jalan terjal ini, kebanyakan
manusia akan menghadapi banyak siksaan dan penderitaan. Antara lain:

Pertama: Rasa sakit yang maha dahsyat, yang tak ada tandingannya di
dunia, saat lisan terkunci, tak mampu mengungkapkan apa yang
dialaminya dan dideritanya, saat semua daya dan kekuatan keluar dari
jasadnya.

Kedua: Penderitaan karena tangisan keluarga, perpisahan dengan
mereka, dan rasa duka yang sangat dalam karena akan berpisah
selamanya dengan anak-anaknya.

Ketiga: kesedihan yang sangat dalam karena akan berpisah dengan
harta, rumah, dan segala yang dimilikinya. Padahal dalam
memperolehnya ia harus menghabiskan umurnya. Bahkan ia harus
melakukan banyak kezaliman dan perampasan hak orang lain, selain itu
hak-hak syariat dalam hartanya belum sempat ia keluarkan. Dalam
keadaan yang seperti itu ia harus mengakhiri hidupnya, sementara
jalan untuk melakukan perbaikan sudah tertutup. Kondisi seperti
inilah yang diungkapkan oleh Imam Ali bin Abi Thalib (sa):

"Ia mengenang hartanya dan saat mengumpulkannya, bersembunyi dalam
mendapatkan dan mengambilnya dari tempat yang terang. Ketidakjelasan
status hartanya mengharuskan kelelahan dalam mengumpulkannya. Ia
mengamati perpisahan dengan hartanya yang akan ditinggalkan pada
keturunannya yang akan menikmatinya, hartanya menjadi kesenangan
bagi orang lain dan beban atas dirinya."(Biharul Anwar 6: 163)

Keempat: Penderitaan karena ia menyaksikan dengan jelas hal-hal yang
menakutkan di alam lain, bukan di alam dunia. Saat itulah, saat
sakratul maut tiba padangan matanya sangat tajam sehingga ia mampu
melihat segala sesuatu yang belum pernah ia disaksikan sebelumnya.
Allah swt berfirman:

"Kami singkapkan darimu tirai yang menutupi matamu, sehingga
penglihatanmu pada hari itu sangat tajam." (Qaaf/50: 22).

Saat itulah ia melihat Rasulullah saw dan Ahlul baitnya (sa),
menyaksikan malaikat datang ke sisinya, malaikat pembawa rahmat dan
malaikat pembawa azab. Mereka datang
untuk menyaksikan hukum yang akan ditetapkan padanya dan ketentuan
yang harus ia terima.

Kelima: Iblis dan sahabat-sahabatnya berkumpul di dekatnya untuk
menjerumuskannya ke dalam keraguan. Mereka berusaha keras untuk
mencabut keimanannya agar ia keluar dari dunia tanpa keimanan.

Keenam: ketakutan yang luar biasa akan kehadiran malaikat maut;
dalam wujud apa dan bagaimana malaikat itu datang padanya, dan
bagaimana cara ia mencabut ruhnya.

Imam Ali bin Abi Thalib (sa) berkata:
"Saat sakratul maut tiba berhimpunlah padanya segala hal yang
menyakitkan, sehingga tak dapat disifati dengan apa yang akan
terjadi padanya." (Biharul Anwar 73: 109)

Imam Ali bin Abi Thalib (sa) mengadukan rasa sakit matanya kepada
Rasulullah saw. Ketika ia berteriak, Rasulullah saw menengoknya.
Kemudian Rasulullah saw bertanya: mengapa mengaduh, karena rasa
sakit? Imam Ali (sa) berkata: "Ya Rasulallah, tidak pernah aku
merasakan sakit yang lebih darinya. Rasulullah saw bersabda: Wahai
Ali, ketika malaikat maut datang untuk mencabut ruh orang kafir, ia
datang dengan membawa alat pemanggang dari neraka, kemudian mencabut
ruhnya, ia menjerit kesakitan seperti siksaan neraka jahannam.
Kemudian Imam Ali (sa) duduk dan berkata: Ya Rasulallah, merenungi
sabdamu melupakan aku pada rasa sakitku. Lalu Imam Ali (sa) berkata:
Apakah hal itu akan menimpa juga kepada sebagian ummatmu? Rasulullah
saw menjawab: Ya, hakim yang tidak adil, orang yang makan harta anak
yatim dengan zalim, dan saksi yang berdusta." (Biharul Anwar 6: 170)

Amalan untuk memperoleh kemudahan sakratul maut
Pertama: Silaturrahim
Imam Ja'far Ash-Shadiq (as) berkata:
"Barangsiapa yang ingin dimudahkan sakratul mautnya, maka hendaknya
ia bersilaturrahim kepada keluarganya, dan berbakti kepada kedua
orang tuanya. Jika ia melakukan hal itu, Allah akan memudahkan
sakratul mautnya, dan dalam hidupnya ia tidak ditimpa kefakiran
selamanya." (Amali Ash-Shaduq: 318)

Kedua: Berbakti kepada orang tua
Dalam suatu riwayat dikatakan: Pada suatu hari Rasulullah saw
mendatangi seorang pemuda saat menjelang kematiannya. Beliau
mengajarkan kepadanya kalimat Lailaha illallah. Tetapi pemuda itu
lisannya terkunci.

Rasulullah saw bertanya kepada seorang ibu yang ada di dekat
kepalanya: Apakah pemuda ini punya ibu?
Ia menjawab: Ya, saya ibunya.
Rasulullah saw bertanya: Apakah kamu murka kepadanya?
Ibunya menjawab: Ya, saya tidak berbicara dengannya selama 6 haji (6
tahun).
Rasulullah saw bersabda: Ridhai dia!
Ibunya menjawab: Saya ridha kepadanya karena ridhamu kepadanya.

Kemudian Rasulullah saw mengajarkan kembali kepadanya kalimat:
Lailaha illallah.
Pemuda itu sekarang dapat mengucapkan kalimat Lailaha illallah.
Rasulullah bertanya kepadanya: Apa yang kamu lihat tadi?
Pemuda menjawab: Aku melihat seorang laki-laki yang berwajah hitam,
pandangannya jahat, pakaiannya kotor, baunya busuk; ia mendekat
kepadaku, dan marah pada.

Rasulullah saw menyuruhnya mengucapkan:
Wahai Yang Menerima amal yang sedikit dan Mengampuni dosa yang
banyak, terimalah amalku yang sedikit, dan ampuni dosaku yang
banyak, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun dan Maha Penyayang.

Lalu ia mengucapkannya.
Rasulullah saw bertanya lagi: Lihatlah sekarang apa yang kamu lihat?
Pemuda menjawab: Aku melihat seorang laki-laki yang wajahnya putih
dan indah, harum baunya, bagus pakaiannya; ia mendekat padaku, dan
aku melihat orang yang berwajah hitam itu menjauh dariku.
Rasulullah saw bersabda: Perhatikan lagi, ia pun memperhatikan.
Kemudian beliau bertanya: Apa yang kamu lihat sekarang.
Pemuda menjawab: Aku tidak melihat lagi orang yang berwajah hitam
itu, yang aku melihat hanya orang yang wajahnya putih, dan cahaya
meliputi keadaan ini. (Al-Mustadrak 2:129)

Wahai saudara-saudaraku, renungi baik-baik kejadian ini, dan
perhatikan betapa banyak akibat buruk durhaka kepada orang tua.
Bukankah pemuda itu adalah salah seorang dari sahabat Nabi saw,
beliau menjenguknya, duduk di dekat kepalanya, dan beliau sendiri
yang mengajarkan kalimat tauhid kepadanya. Tapi ia tidak mampu
mengucapkannya kecuali setelah ibunya memaafkan dan meridhainya.

Ketiga: Memberi pakaian kepada orang mukmin
Imam Ja'far Ash-Shadiq (as) berkata:
"Barangsiapa yang memberi pakaian kepada saudaranya di musim dingin
atau di musim panas, maka Allah berhak memberinya pakaian dari
surga, memudahkan sakratul mautnya, dan meluaskan kuburnya."
(Biharul Anwar 74: 380.)

Keempat: Memberi makanan kepada orang mukmin
Rasulullah saw bersabda:
"Barangsiapa yang memberi makan pada saudaranya sepotong kue manis,
Allah akan menghilangkan darinya pahitnya kematian." (Biharul Anwar
66: 288)

Di antara amalan praktis dalam bentuk bacaan yang bermanfaat untuk
kemudahan dan kebahagiaan saat sakratul maut adalah membaca surat
Yasin, Ash-Shaffat 8), dan doa Farj (doa kebahagian) di dekat orang
yang sedang sakratul maut. (Al-Kafi 3: 124)

Kelima: Puasa di bulan Rajab
Imam Ja'far Ash-Shadiq (sa) berkata:
"Barangsiapa yang berpuasa satu hari di akhir bulan Rajab, ia akan
mendapat keamanan dari penderitaan sakratul maut, dan keamanan dari
segala yang menakutkan dan dari siksa kubur." (Fadhail al-asyhur al-
tsalatsah: 18)

Ketahuilah bahwa berpuasa 24 hari di bulan Rajab memiliki pahala
yang sangat besar:
"Barangsiapa yang berpuasa dua puluh empat hari di bulan Rajab, maka
saat sakratul maut malaikat maut akan datang kepadanya dengan wajah
seorang pemuda yang memakai selendang sutera berwarna hijau, menaiki
kuda dari surga; tangannya membawa sutera hijau dan misik yang
baunya sangat harum, tangan membawa gelas yang besar berisi minuman
dari surga, kemudian ia meminumkan kepadanya saat ruhnya akan keluar
darinya, sehingga ia mudah dalam sakratul mautnya. Kemudian ruhnya
di letakkan pada kain sutera itu sehingga keluarlah bau harum dan
tercium oleh penghuni tujuh langit; ketika sampai di kuburnya ia
dalam keadaan puas tidak dahaga sampai ia kembali ke telaga Nabi
saw." (Amali Ash-Shaduq: 432)

Keenam: Melakukan shalat sunnah di bulan Rajab
Rasulullah saw bersabda:
"Barangsiapa yang melakukan shalat sunnah empat rakaat pada malam
ketujuh bulan Rajab, setelah Fatihah membaca surat Al-Ikhlash (3
kali), Al-Falaq dan An-Nas, kemudian setelah salam membaca shalawat
(10 kali), dan Subhanallah walhamdulillah wa lailaha illallah
wallahu akbar (10 kali), maka Allah akan menaunginya dengan naungan
arasy-Nya, memberinya pahala seperti pahala orang yang berpuasa di
bulan Ramadhan, para malaikat memohonkan ampunan baginya sampai ia
selesai melakukan shalat itu, Allah memudahkan baginya pencabutan
ruhnya, menyelamatkannya dari siksa kubur, ia tidak akan
meninggalkan dunia kecuali ia melihat tempatnya di surga, dan Allah
memberi keamanan baginya dari pada hari kiamat." (Iqbalul a`mal: 651-
652)

Ketujuh: Membaca surat Al-Zalzalah
Imam Ja'far Ash-Shadiq (sa) berkata: "Janganlah kamu bosan membaca
surat Al-Zalzalah, karena orang yang membacanya dalam shalat-shalat
sunnah nafilahnya Allah tidak akan menimpakan goncangan kepadanya
selamanya, dan ia tidak akan meninggal dalam keadaan ketakutan,
tidak disambar petir, dan tidak akan ditimpa penyakit-penyakit dunia
hingga ia meninggali. Dan ketika menjelang kematiannya malaikat yang
mulia akan datang kepadanya dari sisi Tuhannya dan duduk di dekat
kepalanya, seraya Tuhannya berfirman: Wahai malaikat maut, lembutkan
sikapmu terhadap kekasih Allah, karena ia banyak berzikir kepada-
Ku." (Biharul Anwar 82: 64)

Doa Untuk Memperoleh kemudahan Sakratul maut
Rasulullah saw bersabda:
"Barangsiapa yang membaca doa berikut (10 kali) setiap hari, Allah
swt akan mengampuni baginya empat puluh ribu dosa besar, menjaganya
dari keburukan kematian, siksa kubur, hari kiamat dan hari hisab,
dan segala hal yang menakutkan; yakni Allah memudahkan seratus hal
yang menakutkan saat kematian, Allah menjaganya dari kejahatan iblis
dan pasukannya, menunaikan hutangnya, menghilangkan dukanya, dan
membahagiakan deritanya. Yaitu:
Aku persiapkan untuk
Setiap yang menakutkan Laiha illallah,
Setiap duka dan derita masya Allah,
Setiap nikmat Alhamdulillah,
Setiap kebahagiaan Asy-Syukru lillah,
Setiap yang menakjubkan Subhanallah,
Setiap dosa Astaghfirullah,
Setiap musibah Innalillahi wa inna ilayhi raji'un,
Setiap kesulitan Hasbiyallah,
Setiap ketetapan dan takdir Tawakkaltu `alallah,
Setiap musuh A'shamtu billah,
Setiap ketaatan dan kemaksiatan La hawala wala quwwata illa billahil
aliyyil `azhim.
(Biharul Anwar 87: 5)

Juga perlu diketahui bahwa doa berikut ini memiliki keutamaan yang
besar jika dibaca 70 kali. Di antara keutamaannya adalah memberikan
kebahagiaan saat sakratul maut:

Wahai Yang Maha Mendengar dari semua yang mendengar, wahai Yang Maha
Melihat dari semua yang melihat, wahai Yang Maha Cepat perhitungan-
Nya dari semua yang menghitung, wahai Yang Maha Menghakimi dari
semua yang menghakimi. 14)

Tulisan ini disarikan dari kitab "Manazilul Akhirah" karya Syeikh
Abbas Al-Qumi penulis kitab Mafatihul Jinan, kunci-kunci surga.

Tek arab dan bacaan tek latin doa2 tersebut dapat dikopi dari
milis "Keluarga bahagia" atau milis "shalat doa" berikut ini.
 
Your Name:


Your Comment: